Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Self-Love atau Self-Ish? Membangun Harga Diri Tanpa Melupakan Fitrah Manusia

Bilqis Nidaul Khair Daulay by Bilqis Nidaul Khair Daulay
April 6, 2026
in Esai, Narasi, Ulûm ad-Dîn
0
Self-Love atau Self-Ish? Membangun Harga Diri Tanpa Melupakan Fitrah Manusia
14
SHARES
83
VIEWS

Oleh: Bilqis Nidaul Khair Daulay

Scroll media sosial lima menit aja, kamu pasti akan menemukan kutipan yang berbunyi: “Love yourself first,” atau “You can’t pour from an empty cup.” Konsep self-love memang sedang menjadi perbincangan hangat di era digital ini. Dari caption Instagram, konten TikTok, hingga buku-buku self-help yang laris di toko buku, semua orang seolah-olah mengutamakan satu pesan ‘’cintai dirimu sendiri’’.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Apakah kita benar-benar paham apa yang sedang kita lakukan? Di titik mana self-love yang sehat berubah menjadi selfishness yang merusak? Dan yang lebih penting bagi kita sebagai Muslim Adalah, apakah konsep ini selaras dengan fitrah manusia yang diajarkan Islam, ataukah justru bertentangan?

Mari kita bedah Bersama pertanyaan-pertanyaan di atas.

Apa itu Self-Love Sebenarnya?

Secara psikologi, self-love adalah kondisi di mana seseorang menghargai dirinya sendiri, menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, serta memiliki komitmen untuk merawat kesehatan fisik, mental, dan emosionalnya. Menurut Cleveland Clinic, mencintai diri sendiri yaitu mencakup mengenali nilai intrinsik diri sendiri, menjaga Kesehatan fisik dan mental, serta memberi kelonggaran pada diri sendiri di saat- saat sulit.

Studi yang dilakukan oleh Greater Good Science Center di UC Berkeley menunjukkan bahwa kasih sayang terhadap diri sendiri dikaitkan dengan ketahanan emosional yang lebih besar, harga diri yang lebih stabil, dan Tingkat kecemasan serta depresi yang lebih rendah (“Mencintai Diri Sendiri Bukanlah Sikap Egois Mempelajari Kembali Makna Sejatinya _ Foundations Health & Wholeness,” t.t.).

Sementara itu, Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya (Hierarchy of Needs) menempatkan self-esteem atau harga diri sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia yang  harus terpenuhi agar seseorang bisa mencapai aktualisasi diri(Maslow, t.t.). Jadi, kebutuhan untuk menghargai diri sendiri bukanlah hal yang sepele, akan tetapi sebuah fondasi yang penting.

Namun, ada garis tipis yang memisahkan self-love dari selfishness. Jika self-love adalah tentang menjaga dan menghormati diri sendiri, maka selfishness adalah tentang memprioritaskan kepentingan diri sendiri di atas segalanya, termasuk di atas kebaikan orang lain dan nilai-nilai yang lebih besar dari itu.

Fitrah Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk membenci dirinya sendiri. Justru sebaliknya, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan. Allah berfirman:

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ۝٧

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al- Isra’: 70)

Ayat ini menjadi landasan teologis yang kuat bahwa setiap manusia tanpa terkecuali memiliki nilai dan martabat yang inheren. Menghargai diri sendiri, dalam konteks ini, bukan hanya dibolehkan, melainkan sejalan dengan pengakuan terhadap karunia Allah itu sendiri.

Secara terminology, fitrah merupakan citra asli manusia, yang berpotensi baik atau buruk tergantung terhadap pilihan dimana diaktualisasikan nya(“BAB 1,2 DAPUS,” t.t.). Lebih jauh dari itu, konsep fitrah dalam Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci dan dengan potensi terbaik.

 Dalam sebuah hadits yang masyhur, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Fitrah ini mencakup kecenderungan alami manusia untuk mencintai kebaikan, mencari kebenaran, dan tentu saja, untuk merawat dirinya sendiri sebagai amanah dari Sang Pencipta.

Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin, juga membahas pentingnya keseimbangan dalam merawat diri. Beliau menekankan bahwa tubuh dan jiwa adalah titipan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi maupun diabaikan(Mujahid dan Al Fani 2025). Ini adalah bentuk self-love yang paling autentik dalam bingkai Islam.

Dimana Batasnya antara Cinta Diri dan Egois?

Permasalahan muncul ketika self-love dikemas secara berlebihan tanpa filter dan nilai etika. Ada beberapa sikap self-love di media sosial yang justru mendorong orang untuk bersikap negatif,yaitu: (1) mencintai diri secara berlebihan; (2) mengabaikan batasan sosial; (3) penyalahgunaan self reward untuk alasan merawat diri gaya hidup yang tidak sehat; (4) memamerkan pencapaian, kekayaan, atau kehidupan yang sempurna untuk mendapatkan atensi dan validasi, serta sisi negatif yang lain nya(“Mencintai Diri Sendiri Tanpa Berlebihan – Advertorial,” t.t.)

Dalam perspektif Islam, perilaku semacam ini bisa jatuh ke dalam kategori yang dilarang. Di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Serta melarang hamba nya dari sikap saling bermusuhan dan sikap yang mengakibatkan bercerai berai. Allah berfirman:

“Berpegang Teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai….’’ (QS. Ali Imran: 103)

Manusia dalam Islam bukanlah makhluk yang berdiri sendiri. Ia adalah makhluk sosial (al-insan madaniyyun bil-fitrah)(“2011_-_Mukaddimah_Ibnu_Khaldun,” t.t.)  yang keberadaannya bermakna justru karena ia terhubung dengan orang lain, dengan keluarga, tetangga, masyarakat, dan akhirnya dengan Allah.

Kita sering kali melakukan penilaian baik atau buruk, dan penilaian itu berpengaruh saat kita memilih tindakan dan berinteraksi dengan orang lain. Salah satu yang menjadi penting dijadikan pertimbangan adalah moralitas. Prinsip moralitas bisa kita pahami sebagai bentuk keadilan atau kepedulian, loyalitas, otoritas, dan kesucian yang terus berkembang untuk dikaji(“PSIKOLOGI SOSIAL,” t.t.).

Membangun Harga Diri (Izzah) yang Islami: Cinta Diri yang Berakar pada Tauhid

Lalu, bagaimana seharusnya seorang Muslim membangun harga diri?

Pertama, kenali nilai diri dari perspektif Allah, bukan manusia. Dalam firman Allah SWT mengingatkan, jangan sampai manusia merasa bangga atau lebih tinggi daripada yang lain karena bangsa atau suku tertentu, atau bahkan warna kulit atau kondisi bawaaan lain yang menjadikan kondisi ini terasa 1 derajat lebih tinggi dari manusia yang lain(“Berita,” t.t.). Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah bukan ditentukan oleh penampilan, kekayaan, atau popularitas, melainkan oleh ketakwaan.

           اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣……..

‘’Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.’’ (QS. Al- Hujurat: 13)

Kedua, menjaga tingkah laku. Menjaga tingkah laku adalah poin utama Ketika kita bersosialisasi dengan orang lain. Sehingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, serta mengerjakan akhlak baik dan menjauhi akhlak buruk. Selalu menerapkan hal- hal yang memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori diri kita.

“Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya, maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan”. (Shahih Al Bukhari, no.1427),”(“إسماعيل بن عيسى_ Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1426, 1427, dan 1428,” t.t.)

Ketiga, temukan keseimbangan antara hak diri dan hak orang lain. Islam selalu mengajarkan keseimbangan (tawazun). Kita punya hak atas diri kita, tetapi orang-orang di sekitar kita juga memiliki hak atas kita.

Keempat, menjaga ‘Iffah. ‘Iffah merupakan keutamaan yang dimiliki manusia, Ketika ia mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari sifat ‘iffah ini lah lahir akhlak- akhlak mulia, qana’ah, adil, jujur, dan perilaku terpuji lainnya.

Identitas dan karakter seseorang tersimpan dalam jiwa nya setiap orang. Jadi, mengambangkan kebiasaan berperilaku dan karakter yang baik merupakan fondasi yang dapat dibangun Kesehatan mental(“6761-Article Text-35614-1-10-20240609,” t.t.).

Penutup

Self-love bukan musuh Islam, justru sebaliknya. Merawat diri adalah bagian dari menghormati amanah Allah. Namun, Self-love yang benar tidak menjadikan kita seseorang yang egois. Self-love yang benar itu datang dari rasa Syukur kepada Allah, yang membuat kita merasa mulia namun tetap rendah hati di depan orang lain.

Bedanya self-love dengan selfishness bukan sekadar soal kadar, tapi soal arah. Self-love yang sejati mengarah kepada Allah dan kepada sesama. Sementara selfishness mengarah hanya ke dalam diri dan tertutup oleh sekitar.

Maka, marilah kita bangun harga diri yang kokoh: bukan dari pujian manusia, bukan dari jumlah teman kita, tapi dari keyakinan bahwa Allah telah memuliakan kita dan karenanya, kita wajib menjaga kemuliaan itu dengan sebaik-baiknya.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: IslamPsikologi
Previous Post

Rekonstruksi Paradigma Nalar Kader: Integrasi STEM Dan Nilai Transendental Dalam Menjawab Tantangan Zaman

Next Post

Ketika Pesantren hanya Mengajarkan Patuh Tanpa Berpikir: Pengaruh Sistem Pesantren Terhadap Keberanian Santri dalam Bersuara

Bilqis Nidaul Khair Daulay

Bilqis Nidaul Khair Daulay

Next Post
Ketika Pesantren hanya Mengajarkan Patuh Tanpa Berpikir: Pengaruh Sistem Pesantren Terhadap Keberanian Santri dalam Bersuara

Ketika Pesantren hanya Mengajarkan Patuh Tanpa Berpikir: Pengaruh Sistem Pesantren Terhadap Keberanian Santri dalam Bersuara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.