Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ultimate Selfhood: Wacana Ontologis-Spiritual Seyyed Hossein Nasr

Hilmy Harits Putra Perdana by Hilmy Harits Putra Perdana
Maret 31, 2026
in Esai, Filsafat, Narasi, Tasawuf
0
Ultimate Selfhood: Wacana Ontologis-Spiritual Seyyed Hossein Nasr
21
SHARES
123
VIEWS

Oleh: Hilmy Harits Putra Perdana

Aktualisasi jiwa spiritual manusia akan mencapai puncaknya ketika telah meninggalkan ego kedirian dan mentransendensikan kesadarannya pada Realitas Absolut. Hal ini telah diulas oleh Seyyed Hossein Nasr dengan begitu detail dalam Self-Awareness and Ultimate Selfhood (1977).

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ia menggambarkan tentang refleksi metafisik dan hakikat kesadaran diri yang sekaligus menjadi tujuan spiritual manusia. Baginya ada beberapa persoalan yang harus diuraikan mengenai perenungan ontologis mannusia. Kondisi ini menyangkut tentang status keberadaan dan bagaimana manusia memahami dirinya.

Mulanya, Nasr berangkat pada kritik atas reduksionisme epistemologis Cartesian. Suatu wacana ontologis yang ramai diperbincangkan pada awal filsafat Barat modern. Ia menyebut bahwa pandangan dualisme Cartesian menyimpan masalah metafisik yang serius.

Problem ontologis ini bermula di tangan Rene Descartes, filsuf rasionalisme berkebangsaan Prancis akhir abad ke-16. Gagasanya selalu mewarnai perbincangan awal filsafat modern. Bahkan rasionalisme Descartes seolah-olah menjadi ruh filsafat sepanjang abad Modern di Eropa (Bernstein, 1991).

Namun dibalik keunggulannya, terselip benih benih persoalan yang kemudian menjadi sebab atas krisis kemanusiaan di Eropa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya filsuf pasca-modern yang seringkali menyasarkan kritik-kritiknya pada tokoh ini.

Sebab, ditangan Descartes lahir proposisi-proposisi rasionalis yang kemudian menjadi landasan filsafat sesudahnya sekaligus menjadi akar dari berbagai krisis manusia modern dikemudian hari. Selain proposisi ‘Cogito Ergo Sum’ yang masyhur itu, Descartes dalam Meditations on First Philosophy (2008) juga menegaskan proposisi metafisika.

Baginya kebenaran atas ke-Ada-an manusia selalu dibuktikan dengan tindakan berpikirnya. Setidaknya kutipan itu berbunyi, “I am, I exist, whenever it is uttered by me, or con ceived in the mind, is necessarily true”. Ungkapan tersebut menandakan bahwa pikiran menjadi bukti eksistensialitas manusia (Descartes, 2008).

Proposisi inilah yang kemudian menjadi titik tolak lahirnya dualisme Cartesian. Dengan begitu, ia telah membagi realitas ontologis antara apa yang disebut res cogitans (substansi berpikir) dan res extensa (substansi keluasan/fisik)secara ‘clear and distinc.’

Bagi Descartes, substansi berpikir dan substansi keluasan merupakan dua hal yang berbeda dan sama sekali terpisah. Distingsi itu menimbulkan konsekuensi epistemologis di kemudian hari. Dalam Rasionalisme Cartesian, manusia dapat disebut subjek hanya jika ia dapat berfikir tentang dirinya.

Lebih jauh juga berpikir tentang hal-hal yang ada di luar dirinya (objek). Pendek kata apa yang oleh manusia pikirkan merupakan hal lain dari pikiran itu sendiri. Oleh karenanya dapat dipahami bahwa imajinasi Descartes tentang dualisme substansi itu seolah-olah telah membagi dunia secara total.

Realitas seakan akan hanya dapat dipahami melalui relasi biner antara subjek-objek, pikiran-keluasan dan lain sebagainya. Hal ini yang oleh Nasr disebut sebagai ‘reduksi spasial-temporal.’ Dimana kesadaran atas realitas dalam definisi Cartesian dipersempit hanya sebagai pengetahuan yang parsial.

Disandarkan pada pengetahuan tentang subjek yang berpikir dan objek yang dipikirkan (Nasr, 1977). Di samping itu, dualisme Cartesian menempatkan subjek Cogito dan realitas objektif hanya dalam satu tingkat dimensi kesadaran saja.

Ia mereduksi kesadaran hanya sebagai aktivitas intelektual dan fenomena psikologis. Akibatnya, kesadaran ini menyingkirkan refleksi metafisik dan spiritual. Bagi Nasr, hal demikian telah memutus hubungan transenden atara subjek rasional dengan realitas sakral sebagai sumber keberadaannya.

Lebih jauh, realitas keberadaan yang sangat kompleks ini tidak dapat dipahami hanya melalui dualisme Cartesian. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa kompleksitas kesadaran dan realitas itu terbentang luas antara dunia materi sampai Realitas Absolut.

Dalam paradigma Nasr, kesadaran dan realitas harus dipandang sebagai struktur herarkis yang mencakup berbagai tingkat keberadaan. Dari eksistensi yang paling rendah, empirik dan materil, hingga realitas Absolut yang tak terbatas sekaligus metafisis.

Tingkatan tersebut sebenarnya merupakan suatu perantara yang menghubungkan alam fisik dengan arketipe transendentalnya yang murni. Ajaran ini memungkinkan manusia terhindar dari perdebatan kekanak-kanakan mengenai idealisme dan realisme dalam kerangka berfikir filsafat Barat.

Perdebatan itu tidak lain merupakan warisan dari dualisme Cartesian (Nasr, 2020). Di sisi lain, Nasr masih percaya terhadap metafisika tradisional, bahwa manusia diposisikan sebagai mikrokosmos dari struktur yang lebih besar yaitu makrokosmos.

Pada dasarnya kepercayaan ini telah bercorak herarkis dengan menempatkan kesadaran psikis lebih kecil daripada kesadaran kosmologis. Oleh sebab itu, kesadaran manusia tidak berhenti pada ego psikologis, melainkan dapat berkembang menuju kesadaran transenden yang oleh Nasr disebut sebagai Ultimate Self (Diri Tertinggi) (Nasr, 1977).

Baginya kesadaran manusia memiliki dua pembedaaan mendasar yaitu; self, menggunakan ‘s’ kecil dan Self, menggunakan ‘S’ besar. Keduanya memiliki arti yang berbeda. Identitas yang pertama (self) merujuk pada ego manusia sehari-hari (nafs).

Sementara ‘Self’ menggunakan ‘S’ besar, merujuk pada hakikat diri yang Ilahi. Ia merupakan kesadaran terdalam dari diri manusia sekaligus manifestasi dari Tuhan. Dengan pembedaan ini seringkali manusia keliru dalam mengidentifikasikan dirinya dengan ego.

Sesungguhnya identitas yang hakiki berada pada tingkat metafisik. Pengetahuan ini menjadi sumber utama dalam memahami kedalaman diri manusia. Kesadaran tentang Self inilah yang pada akhirnya menjadi tujuan perjalanan spiritual manusia.

Dalam kerangka metafisika yang diajukan Nasr, manusia tidak dapat memahami dirinya secara utuh apabila ia hanya berhenti pada identitas ego yang bersifat psikologis. Sebaliknya, manusia harus melampaui batas-batas kesadaran tersebut untuk sampai pada realitas dirinya yang terdalam.

Dengan demikian, kesadaran manusia tidak berdiri sendiri sebagai fenomena mental semata, melainkan merupakan pancaran dari realitas metafisik yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pengetahuan tentang diri tidak hanya bersifat reflektif atau introspektif, tetapi juga bersifat ontologis.

Sebab ia mengantarkan manusia pada pengenalan terhadap sumber keberadaannya. Relasi antara manusia dan Realitas Absolut tidak bersifat eksternal, melainkan terjalin secara inheren dalam struktur keberadaan manusia itu sendiri.

Dalam pandangan tasawuf (mistisisme Islam) hal ini seringkali diabadikan dalam proposisi “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya” (Nasr, 1977). Dengan demikian refleksi ontologis yang diajukan Nasr dalam teks tersebut, pada akhirnya mengarahkan manusia pada suatu pemahaman.

Sebuah konsep yang bermuara pada keyakinan bahwa hakikat diri manusia tidak berhenti pada dimensi psikologis ataupun rasional. Lebih dari itu, manusia merupakan makhluk yang memiliki kedalaman metafisik yang berakar pada Realitas Ilahi.

Kritik Nasr terhadap reduksionisme Cartesian sekaligus menjadi upaya untuk mengembalikan tradisi metafisika tradisional yang lebih utuh dan hierarkis. Dalam kerangka tersebut, kesadaran diri tidak lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas berpikir, melainkan sebagai jalan menuju aktualisasi Ultimate Selfhood (Kedirian Tertinggi).

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: filsafatpemikiran islam
Previous Post

Ironi Eksklusivisme Pendidikan Berkualitas di Indonesia

Next Post

Mental Health Bukan Tren: Kenapa Kita Harus Peduli?

Hilmy Harits Putra Perdana

Hilmy Harits Putra Perdana

Mahasiswa Filsafat dan Penulis Amatir

Next Post
Mental Health Bukan Tren: Kenapa Kita Harus Peduli?

Mental Health Bukan Tren: Kenapa Kita Harus Peduli?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.