Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Melampaui Ritualitas; Puasa dalam kacamata Ali Syariati dan Soren Kierkegaard

AdminKS by AdminKS
Maret 7, 2026
in Esai, Narasi
0
Melampaui Ritualitas; Puasa dalam kacamata Ali Syariati dan Soren Kierkegaard
19
SHARES
110
VIEWS

Oleh: Adram Qaisullah T.

Puasa dalam tradisi Islam sering dipahami sebagai ibadah yang bersifat ritual: menahan lapar, dahaga dan dorongan-dorongan biologis dari terbit hingga terbenam matahari. Namun, jika dibaca melalui lensa pemikiran Ali Syariati dan Soren Kierkegaard, puasa dapat dimaknai lebih dalam sebagai peristiwa eksistensial sekaligus praksis sosial. Ia bukan sekadar kewajiban keagamaan, melainkan momentum pembentukan manusia yang sadar mengenai dirinya dan sadar akan sejarah.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ali Syariati melihat agama bukan sebagai sistem ritual yang kaku, melainkan sebagai kekuatan revolusioner yang menggerakkan perubahan sosial. Dalam lanskap ini, puasa bukan hanya latihan spiritual individual tetapi juga mekanisme pembentukan solidaritas. Ketika seseorang berpuasa, ia tidak hanya menahan lapar, ia mengalami secara langsung kondisi dasar yang setiap hari dirasakan oleh mereka yang miskin dan tertindas. Lapar dalam puasa bukanlah sekadar rasa biologis, melainkan pengalaman simbolik yang menjembatani jarak antar kelas sosial.

Bagi Syariati, ibadah memiliki dimensi kesadaran. Kesadaran ini tidak berhenti pada refleksi batin tetapi harus berlanjut pada transformasi sosial. Puasa, dengan demikian adalah latihan empati yang konkret. Ibadah puasa mengajarkan bahwa ketimpangan bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas yang bisa dirasakan oleh tubuh. Dalam konteks ini, puasa menjadi kritik diam terhadap sistem sosial yang menghasilkan kemiskinan dan ketidakadilan. Ia membentuk subjek yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga peka terhadap penderitaan kolektif.

Sementara itu, Kierkegaard memusatkan perhatian pada dimensi eksistensial manusia. Menurutnya, kebenaran yang paling otentik adalah kebenaran yang dihayati secara personal. Agama bukan pertama-tama persoalan institusi atau norma sosial, melainkan relasi seorang hamba dengan Tuhannya. Dalam perspektif ini, puasa menjadi momen kesunyian batin, tempat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri dan dengan Yang Transenden.

Kierkegaard menekankan pentingnya pilihan dan komitmen subjektif. Ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran personal hanyalah formalitas. Puasa, jika dijalankan hanya karena tekanan sosial atau kebiasaan kolektif, kehilangan makna eksistensialnya. Namun ketika seseorang memilih untuk berpuasa denga penuh kesadaram, ia sedang melakukan “lompatan iman”: sebuah keputusan personal untuk menundukkan keinginan diri demi orientasi yang lebih tinggi.

Di sinilah pertemuan menarik antara Syariati dan Kierkegaard terjadi. Syariati berbicara tentang kesadaran sosial; Kierkegaard berbicara tentang kesadaran eksistensial. Puasa dapat dipahami sebagai jembatan antara keduanya. Ia dimulai dari keputusan personal (dari ruang batin individu) tetapi berujung pada implikasi sosial yang luas. Tanpa dimensi eksistensial, puasa menjadi rutinitas kosong. Tanpa dimensi sosial, puasa menjadi spiritualitas yang terkesan egoistik.

Secara eksistensial, puasa memaksa manusia untuk menghadapi keterbatasannya. Lapar dan dahaga mengingatkan bahwa tubuh memiliki batas. Dalam situasi ini, manusia menyadari ketergantungannya kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kesadaran akan keterbatasan ini adalah fondasi kerendahan hati. Kierkegaard menyebut kondisi semacam ini sebagai kesadaran akan “diri di hadapan Tuhan”. Puasa membuka ruang bagi refleksi mendalam: siapa saya ketika kenyamanan dicabut? Apa yang tersisa dari diri saya ketika hasrat-hasrat ditahan?

Namun, refleksi ini tidak berhenti pada interioritas. Dalam paradigma Syariati, pengalaman lapar itu harus melampaui diri. Ia harus menggerakkan tindakan nyata. Jika puasa hanya menghasilkan kesalehan individu tanpa solidaritas sosial, maka ia kehilangan daya revolusionernya. Puasa sejatinya membongkar ilusi kemandirian manusia modern yang merasa cukup dengan konsumsi dan kenyamanan. Ia adalah kritik terhadap budaya materialisme yang mengukur nilai hidup dari kepemilikan.

Dalam masyarakat kontemporer yang didominasi logika pasar, puasa menghadirkan kontradiksi. Ia adalah praktik menahan diri di tengah budaya yang mendorong pemuasan instan. Dalam konteks ini, puasa dapat dipahami sebagai bentuk resistensi. Ia menolak tunduk pada dorongan konsumtif yang tak terkendali. Dari sudut pandang Kierkegaard, resistensi ini adalah tindakan eksistensial: pilihan sadar untuk tidak larut dalam arus massa. Dari sudut pandang Syariati, resistensi ini memiliki dimensi politis: ia menantang struktur sosial yang membentuk manusia sebagai konsumen pasif.

Lebih jauh, puasa juga mengandung dimensi pembentukan karakter. Penundaan kepuasan melatih disiplin diri. Disiplin ini bukan sekadar kemampuan menahan lapar, tetapi kemampuan mengendalikan dorongan-dorongan yang lebih luas seperti amarah, keserakahan dan egoisme. Dalam bahasa Kierkegaard, ini adalah proses menjadi diri yang autentik. Seseorang tidak lagi dikuasai oleh impulsif sesaat, melainkan bertindak berdasarkan komitmen nilai yang diyakininya.

Sementara itu, dalam bahasa Syariati, disiplin ini adalah fondasi bagi perubahan sosial. Masyarakat yang adil tidak mungkin lahir dari individu-individu yang dikuasai hawa nafsu. Puasa membentuk manusia yang mampu mengendalikan diri, dan dari manusia semacam inilah solidaritas sosial dapat tumbuh. Solidaritas bukan sekadar slogan, melainkan hasil dari latihan batin yang konkret.

Dengan demikian, puasa dapat dipahami sebagai dialektika antara interioritas dan eksterioritas. Ia dimulai dari ruang batin individu, dari keputusan personal untuk taat dan reflektif tapi beresonansi dalam ruang sosial sebagai kepedulian dan aksi. Kombinasi pemikiran Syariati dan Kierkegaard membantu kita melihat bahwa puasa tidak boleh direduksi menjadi salah satu dimensi saja. Ia adalah peristiwa spiritual sekaligus sosial, personal sekaligus kolektif.

Pada akhirnya, makna terdalam puasa terletak pada transformasi. Transformasi diri yang eksistensial: dari manusia yang larut dalam kebiasaan menjadi manusia yang sadar dan memilih. Transformasi sosial yang gradual: dari masyarakat yang acuh menjadi masyarakat yang peduli. Jika puasa mampu melahirkan kedua transformasi ini, maka ia tidak lagi sekadar ritual tahunan, melainkan proyek pembentukan manusia seutuhnya.

Dalam kerangka tersebut, puasa bukanlah akhir, melainkan awal. Ia adalah latihan yang mempersiapkan manusia untuk hidup dengan kesadaran lebih tinggi, kesadaran akan Tuhan, akan diri dan akan sesama. Melalui puasa, manusia belajar bahwa spiritualitas yang autentik selalu memiliki implikasi sosial dan solidaritas yang sejati selalu berakar pada kedalaman batin.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Previous Post

Inovasi Baru Republika dan Lazismu Luncurkan AI Keislaman Bernama Aiman Aisha

Next Post

Pesantren Jurnalistik: Pondok Shabran UMS Delegasikan Kader untuk Transformasi Dakwah Digital

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Pesantren Jurnalistik: Pondok Shabran UMS Delegasikan Kader untuk Transformasi Dakwah Digital

Pesantren Jurnalistik: Pondok Shabran UMS Delegasikan Kader untuk Transformasi Dakwah Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.