Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Inovasi Baru Republika dan Lazismu Luncurkan AI Keislaman Bernama Aiman Aisha

RedaksiKS by RedaksiKS
Maret 7, 2026
in Narasi
0
Inovasi Baru Republika dan Lazismu Luncurkan AI Keislaman Bernama Aiman Aisha
10
SHARES
58
VIEWS

KALIMAHSAWA.ID, JAKARTA – Kecanggihan teknologi dan manusia tidak dapat dipisahkan. Kehadiran kecerdasan buatan bukti nyata peran manusia mampu memberikan warna terhadap perkembangan teknologi melalui suatu pertanyaan dan perintah yang dijawab dengan data dan sistem komputasi dalam menjawab suatu persoalan.

Republika menangkap peluang perkembangan teknologi dengan meluncurkan (grand launching) platform kecerdasan buatan (AI) keislaman bernama Aiman & Aisha di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, pada Rabu (4/3/2026). Peluncuran platform akal imitasi tersebut didukung oleh Lazismu dan mitra teknologi BytePlus.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengeparesiasi dan menyampaikan selamat atas peluncuran AI berbasis keislaman itu. Mujadid Rais mengatakan perkembangan AI bisa dimanfaatkan untuk kebaikan manusia.

“Karena itu, etika manusia membingkainya dalam pemanfataan akal imitasi tersebut untuk menjaga agar nilai manfaatnya digunakan secara baik,” ujarnya.

Wacana keislaman terus berkembang seiring maraknya perkembangan informasi digital. Ia menilai telah terjadi pergeseran pada sumber – sumber otoritas keagamaan.

“Sekarang di era digital ini melahirkan praktik keagamaan yang menghadirkan kritik terhadap sumber yang dirujuk dianggap tidak sepenuhnya kapabel,” jelasnya.

Mujadid Rais mengungkapkan lantas bagaimana kita memanfaatkan dan memperkaya AI ini dengan sumber-sumber otoritatif, apalagi ini menyangkut pertanyaan tentang agama. Maka harus tetap dibimbing sepeti generasi milenial yang murni pengguna teknologi digital.

“Kehadiran platform Aiman dan Aisha ini memperkaya khazanah keislaman dan dakwah di tengah masyarakat yang melahirkan pemahaman agama yang harmonis dan berdampak sosial melalui teknologi informasi,” pungkasnya.

Lebih jauh lagi, sambung dia, bisa menghadirkan kesalehan dari aspek individual menuju kesalehan sosial. Lazismu bersyukur pada hari ini menjadi bagian dalam memaknai penggunaan kecerdasan buatan yang sudah menjadi amanah dalam muktamar Muhammadiyah untuk terus menggelorakan gerakan dakwah di era digital terutama yang bersentuhan dengan Lazismu dalam bingkai filantropi islam.

Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin pun turut gembira menyambut peluncuran platform Aiman dan Aisha. Menurutnya, ketergantungan manusia terhadap AI tidak bisa dihindarkan.

Pertanyaannya, kata Andi, apakah AI akan jadi teman ngobrol atau perpustakaan digital. “Ini pertanyaan tentang arah peradaban dan hidup manusia di era AI yang ada di mana mana,” tuturnya.

Menurutnya, AI memang cepat tapi tidak selalu kontekstual, tidak selalu berbaiss nilai. “Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen nilai tapi produsen nilai, dan AI secara global belum tentu memahami islam secara moderat yang menjadi khas Indonesia,” pungkasnya.

Andi menggaris bawahi bahwa Aiman dan Aisha hadir dengan bahasa yang ramah. Kehadirannya bukan mesin penjawab yang menggantikan peran ulama.

“Penting kami tegaskan bahwa Aiman dan Aisha merupakan pintu awal untuk belajar sementara. Adapun untuk pendalaman ilmunya tetap kembali kepada otoritas agama sebagai rujukannya,” imbuhnya.

Kontributor: Humas Lazismu Pusat

Terkait

Tags: LazizmuMuhammadiyah
Previous Post

Tumbuhkan Kesadaran Ekologis pada Santri, Majelis Lingkungan Hidup Blimbing Ajak Kelola Sampah

Next Post

Melampaui Ritualitas; Puasa dalam kacamata Ali Syariati dan Soren Kierkegaard

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Melampaui Ritualitas; Puasa dalam kacamata Ali Syariati dan Soren Kierkegaard

Melampaui Ritualitas; Puasa dalam kacamata Ali Syariati dan Soren Kierkegaard

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.