Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menemukan Diri di Tengah Krisis Identitas: Menilik Fihi Ma Fihi Bersama Jalaluddin Rumi

Mudzalifah Sri Dewi Masitho by Mudzalifah Sri Dewi Masitho
Februari 14, 2026
in Esai, Narasi
0
Menemukan Diri di Tengah Krisis Identitas: Menilik Fihi Ma Fihi Bersama Jalaluddin Rumi
19
SHARES
110
VIEWS

Oleh: Mudzalifah Sri Dewi Masitho – Bachelor of  Tasawuf dan Psikoterapi  (UIN Sunan Ampel Surabaya)

Di era modern saat ini gempuran digital dan informasi seolah berjalan tanpa jeda. Manusia modern pada era ini sering kali menghadapi fenomena yang begitu dalam, seperti krisis identitas khususnya pada generasi muda. Media social seolah menarik paksa manusia untuk tampil sempurna di hadapan manusia lain sehingga hal tersebut dapat menimbulkan manusia dihadapkan pada banyak pilihan nilai, gaya hidup, dan pandangan hidup yang beragam. Kondisi tersebut seolah menarik paksa kita dari akar tradisi dan nilai diri sehingga menyebabkan identitas tidak lagi bersifat tetap. 

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pada era ini, arus globalisasi mempertemukan budaya lokal dengan budaya global tanpa batas. Hal tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi cara berpikir Masyarakat. Tak hanya itu media sosial seperti instagram dan tiktok turut memperparah krisis identitas. Sering kali seseorang membangun diri berdasarkan citra yang banyak ditampilkan di dunia maya. Dalam hal ini sering kali manusia menjadi “like” dan komentar orang lain sebagai tolak ukur seseorang dalam penerimaan. Akibatnya seseorang cenderung membandingkan diri dengan orang lain dan merasa tidak cukup Ketika tidak dapat memenuhi standar dari dunia maya.

Zygmunt Bauman menyebutkan bahwa Masyarakat pascamodern diibaratkan sebagai liquid society. Menjelaskan bahwa kehidupan sosial saat ini terus berubah dan semakin sulit diprediksi. Perubahan tersebut terjadi sangat cepat dan hampir tidak pernah berhenti. Di satu sisi manusia merasa memiliki kebebasan yang luas untuk menentukan pilihan hidupnya. Namun, di sisi lain, manusia juga dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan zaman, terutama karena system bergerak tanpa henti. Kondisi tersebut menjadikan Masyarakat merasa tidak stabil dan mengalami kebingungan dalam menentukan arah hidupnya.

Menariknya, jauh sebelum era modern saat ini, Jalaludin Rumi pada abad ke-13 telah berbicara seolah lebih relevan dengan kondisi tersebut. Melalui Fihi Ma Fihi, Kumpulan ceramah dan refleksi spiritualnya, Rumi mengajak manusia untuk tidak larut sepenuhnya dalam arus luar yang terus berubah. Ia mengarahkan perhatian manusia untuk Kembali melihat ke dalam diri. Dalam setiap pesannya, Rumi seakan menantang kita untuk menyadari ilusi-ilusi yang sering kita anggap sebagai “diri”, lalu perlahan mengajak kita untuk Kembali pada hakikat yang lebih dalam, yakni “ruh” sebagai pusat jati diri yang sejati.

Sebagaimana yang kita ketahui dalam dunia psikologi, kerap kali kecemasan dan krisis batin merupakan akibat yang ditimbulkan dari kehilangan makna dan arah hidup. Ketika seseorang tidak lagi memiliki tujuan hidup yang jelas dan bermakna, ia akan cenderung lebih mudah merasa hampa dan terombang-ambing. Fenomena tersebut banyak ditemukan pada Masyarakat modern saat ini, yang di mana tidak sedikit orang yang secara lahiriah tampak berhasil namun dalam dirinya justru merasakan kekosongan yang tidak banyak orang tahu.

Kondisi tersebut memberikan Gambaran kepada kita bahwa keberhasilan material tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin. Dalam situasi Masyarakat  yang “cair” sebagaimana yang digambarkan oleh Bauman, pencarian identitas seseorang sering kali hanya berhenti pada pencapaian eksternal. Padahal, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rumi, ketenangan justru lahir Ketika seseorang Kembali memiliki keberanian untuk menengok ke dalam dirinya, menemukan makna yang lebih dalam, dan menyadari bahwa jati diri sejati tidak ditentukan oleh arus zaman.

Rumi menyampaikan bahwa manusia sering kali sibuk mengejar bayangan dirinya sendiri, bukan dirinya yang benar-benar asli. Ia menuliskan “Engkau melihat bayangan dirimu dalam dunia ini, bukan dirimu yang sejati”. Kita seringkali lebih fokus dengan bagaimana kita terlihat di mata orang lain dari pada sibuk memahami siapa diri kita sebenarnya. Manusia sering kali mengejar pengakuan, citra, dan Kesan baik, tapi lupa bertanya apakah itu benar-benar mencerminkan diri kita. Jika di amati, pesan tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Banyak orang sibuk membangun pencitraan untuk terlihat lebih produktif, terlihat Bahagia, bahkan terlihat sukses, padahal belum tentu semua itu sejalan dengan bagaimana kenyataannya.

Saat ini kita hidup di Tengah sistem dan teknologi yang terus berjalan tanpa henti, sampai terkadang kita tanpa sadar hanya mengikuti arus. Rumi seperti sedang mengingatkan bahwa apabila kita sebagai manusia terus mengejar “bayangan”, seiring berjalannya waktu akan bisa kehilangan arah dan makna hidup yang sebenarnya.

Karena itu, Fihi Ma Fihi sebenarnya tidak hanya bisa dibaca sebagai teks keagamaan saja, namun juga bisa sebagai bacaan yang bersifat reflektif dan membantu kita untuk memahami diri sendiri. Di Tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, karya Rumi seakan terasa seperti ajakan untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri. Ia tidak hanya berbicara tentang Tuhan, melainkan juga tentang perjalanan batin manusia.

Jika dikaitkan dengan pendekatan transpersonal dalam psikologi, ajaran Rumi terasa sejalan. Ia mengajak kita untuk perlahan melepaskan ego, segala hal yang berkaitan dengan peran, jabatan, juga pengakuan sosial yang seringkali menjadi salah satu penyebab manusia merasa cemas. Ia juga mengingatkan bahwa kekosongan diri bisa diterima dan dipahami, sebagaimana kita kenal dengan mindfulness yang mengajak kita untuk hadir penuh pada apa yang sedang kita rasakan. Rumi menuntun kita untuk mencari makna yang bukan hanya dari pencapaian eksternal, namun juga dari hubungan kita dengan jiwa dan dengan Yang Maha Kuasa.  

Karya ini bukan sekadar kitab sufi, melainkan cermin untuk generasi yang kehilangan arah. Di Tengah krisis identitas yang meluas, Rumi menawarkan perspektif yang menyembuhkan: bahwa diri sejati bukanlah apa yang kita bangun di luar, tetapi apa yang kita temukan di dalam. Jika saat ini kita merasa Lelah, hampa, atau tersesat, mungkin sudah saatnya kita mendengar Kembali suara Rumi yang mengatakan, “kunci semua jawaban sudah ada dalam dirimu, Maka berhentilah mencarinya di luar.” Kadang yang kita butuhkan bukan tambahan pencapaian, tetapi ruang Kembali mengenali diri sendiri secara lebih jujur dan tenang.

Editor: Dwi Kurniadi

Terkait

Tags: IndonesiaIslamkrisis identitasPeradaban
Previous Post

Tegaskan Spirit Muhammadiyah, Hilman Latief: Kemanusiaan adalah Jalan Dakwah

Next Post

Budaya Lokal di Tengah Arus Pop: Peran Anak Muda Menjaga Otentisitas Lamongan

Mudzalifah Sri Dewi Masitho

Mudzalifah Sri Dewi Masitho

Next Post
Budaya Lokal di Tengah Arus Pop: Peran Anak Muda Menjaga Otentisitas Lamongan

Budaya Lokal di Tengah Arus Pop: Peran Anak Muda Menjaga Otentisitas Lamongan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.