Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tegaskan Spirit Muhammadiyah, Hilman Latief: Kemanusiaan adalah Jalan Dakwah

AdminKS by AdminKS
Februari 14, 2026
in Report
0
Tegaskan Spirit Muhammadiyah, Hilman Latief: Kemanusiaan adalah Jalan Dakwah
9
SHARES
53
VIEWS

KALIMAHSAWA.ID, Jakarta – Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan persyarikatan di berbagai wilayah terdampak bencana merupakan bagian salah satu wujud nyata dari dakwah Islam Berkemajuan. Hal tersebut ia sampaikan dalam ZISKA Talks Tarhib Ramadhan Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respon ke Pemulihan Bencana Sumatera” pada Kamis (12/2/26).

Hilman mengucapkan apresiasi tinggi atas dedikasi seluruh tim di lapangan. “Apa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar respons teknis terhadap bencana, tetapi bagian dari risalah besar Muhammadiyah dalam menerjemahkan Islam sebagai gerakan dakwah dan misi kemanusiaan. Ini kerja mulia, dan tentu tidak mudah,” ujarnya.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Ia menekankan bahwa dakwah dalam perspektif Muhammadiyah tidak hanya dimaknai sebagai ceramah atau penyampaian pesan keagamaan, melainkan juga sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang diwujudkan dalam aksi nyata.

“Mengajak kepada kebaikan itu mencakup aspek sosial, ekonomi, etika, bahkan politik. Termasuk di dalamnya menggerakkan umat untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Di sinilah peran lembaga pengelola zakat menjadi sangat penting,” kata Hilman.

Menurutnya, momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi filantropi umat. Ia menyebut bahwa bulan suci memberi ruang spiritual yang lebih luas bagi masyarakat untuk berbagi.

“Ramadan selalu menghadirkan gelombang kedermawanan. Tugas kita adalah mengelolanya dengan baik, akuntabel, dan profesional agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” tegas Hilman.

Ia juga mengingatkan pentingnya inovasi dalam dakwah kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa Islam harus diposisikan sebagai gerakan ilmu sekaligus gerakan amal. “Dakwah tidak cukup hanya dengan semangat dan empati. Kita membutuhkan basis keilmuan, inovasi, evaluasi program, monitoring, hingga audit yang kuat. Tanpa ilmu, kerja kemanusiaan akan berjalan berat dan tidak berkelanjutan,” jelas Hilman.

Ia menambahkan, tradisi Muhammadiyah sejak awal telah menempatkan pendidikan dan pencerahan sebagai fondasi gerakan. Karena itu, kerja kemanusiaan pun harus dikelola dengan standar profesional dan tata kelola yang baik. “Akuntabilitas adalah bagian dari sifat keislaman kita. Ketika kita terbuka terhadap evaluasi dan audit, itu bukan beban, tetapi justru penguat integritas,” ungkapnya.

Dalam konteks respons bencana, Hilman mencontohkan bagaimana Muhammadiyah tetap hadir bahkan bertahun-tahun setelah bencana terjadi. Ia menyinggung pengalaman pendampingan pascagempa di Cianjur yang masih berjalan hingga beberapa tahun setelah kejadian. “Sering kali orang mengira kerja kemanusiaan selesai ketika fase tanggap darurat berakhir. Padahal, justru di fase pemulihan jangka panjang itulah komitmen kita diuji,” tuturnya.

Lebih jauh, Hilman mengaitkan kerja kemanusiaan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Balad tentang “aqabah” atau jalan terjal yang berat untuk ditempuh. Menurutnya, membantu sesama dalam kondisi sulit merupakan bentuk nyata menaklukkan aqabah tersebut.

“Al-Qur’an menggambarkan aqabah sebagai jalan yang berat: membebaskan manusia dari ketertekanan, memberi makan saat masa sulit, membantu anak yatim dari kerabat terdekat, dan menolong fakir miskin yang sangat papa. Itu semua bukan perkara ringan,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa kepedulian sosial sering kali lebih mudah diberikan kepada pihak yang jauh, namun justru terasa berat ketika menyentuh lingkar terdekat. “Kadang kita mudah membantu orang lain, tetapi lupa pada keluarga atau lingkungan sekitar yang membutuhkan. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan itu,” ujarnya.

Hilman juga menyoroti tantangan kepekaan sosial di tengah situasi kemiskinan ekstrem. Menurutnya, kehadiran relawan dan penggerak kemanusiaan merupakan wujud nyata keberanian moral untuk tetap peduli. “Tanpa kita sadari, teman-teman relawan sedang mendaki aqabah itu. Menjangkau wilayah bencana, menggerakkan donasi, menguatkan korban—semuanya adalah bagian dari perjuangan menaklukkan jalan terjal tersebut,” katanya.

Ia juga mendorong agar kerja-kerja kemanusiaan ini terus dikabarkan kepada publik sebagai bentuk transparansi sekaligus inspirasi. Program yang dirancang, lanjutnya, bersifat jangka menengah dan panjang, bahkan bisa melampaui satu tahun ke depan.

Hilman menyampaikan pesan semangat kepada seluruh relawan di daerah. “Apa yang Anda lakukan di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan wilayah lain adalah bagian dari ikhtiar besar menaklukkan aqabah. Semoga setiap langkah kita menjadi amal saleh yang diridhai Allah SWT,” tutupnya.

(Media dan Publikasi Lazismu PP Muhammadiyah/Soleh)

Terkait

Tags: Al-QuranDakwah DigitalIslamMuhammadiyahPeradaban
Previous Post

Ahmad Imam Mujadid Rais: Ramadhan Adalah Momentum Perkokoh Solidaritas Umat

Next Post

Menemukan Diri di Tengah Krisis Identitas: Menilik Fihi Ma Fihi Bersama Jalaluddin Rumi

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Menemukan Diri di Tengah Krisis Identitas: Menilik Fihi Ma Fihi Bersama Jalaluddin Rumi

Menemukan Diri di Tengah Krisis Identitas: Menilik Fihi Ma Fihi Bersama Jalaluddin Rumi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.