Oleh: Abbad Muhammad Zahid
Antara ramainya jargon dan upaya menumbuhkan gerakan yang mengakar
Beberapa tahun terakhir, isu lingkungan semakin ramai dibicarakan. Di tengah gencarnya kampanye ekonomi hijau, ESG, dan target nol emisi, hampir setiap organisasi memiliki agenda bertajuk “keberlanjutan”. Kata “hijau” diselipkan dalam berbagai kegiatan, dari seminar hingga unggahan media sosial. Di satu sisi, ini jelas kabar baik. Lingkungan tidak lagi sepenuhnya dipinggirkan. Ia mulai masuk ke ruang diskusi publik, ruang kelas, bahkan ruang kebijakan.
Namun, di balik keramaian itu, ada kegelisahan yang sulit diabaikan. Banyak gerakan lingkungan hari ini terasa berjalan di permukaan. Kegiatan digelar rapi, dokumentasi tertata, slogan terdengar progresif, tetapi dampaknya sering berhenti pada simbol. Ketika sebuah isu sedang viral, semua bergerak serempak. Saat sorotan bergeser, perhatian pun ikut menghilang. Lingkungan akhirnya diperlakukan seperti tren datang dan pergi bukan sebagai ruang hidup yang menuntut kesetiaan jangka panjang.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, gelombang aksi iklim seperti Fridays for Future dan Climate Strike pernah menggerakkan jutaan orang. Jalanan penuh, media ramai, dunia seolah mendengar suara generasi muda. Namun setelah euforia mereda, banyak aksi tersebut tidak berlanjut pada penguatan komunitas lokal atau perubahan kebijakan di tingkat akar rumput.
Mobilisasi massa besar ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan ketahanan gerakan. Kesadaran memang meluas, tetapi sering kali akarnya dangkal.
Sebaliknya, pengalaman Jerman melalui program Energiewende menunjukkan wajah lain dari keberlanjutan. Transisi energi di sana tidak hanya bertumpu pada kebijakan negara atau proyek raksasa, tetapi juga pada koperasi energi berbasis warga.
Masyarakat dilibatkan sebagai pemilik sekaligus pengelola energi terbarukan. Ketika proyek besar tersendat, inisiatif lokal tetap hidup karena ada rasa memiliki. Dari sini terlihat jelas bahwa keberlanjutan tidak lahir dari jargon atau skala besar semata, melainkan dari keterikatan sosial yang membuat orang mau bertahan dan merawatnya.
Contoh lain datang dari Nepal melalui Community Forestry Program. Sejak puluhan tahun lalu, pengelolaan hutan diserahkan kepada komunitas lokal. Hasilnya bukan hanya penurunan degradasi hutan, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program ini berhasil bukan karena kampanye besar-besaran atau sorotan media, melainkan karena pengetahuan lokal, kontrol sosial, dan solidaritas warga menjadi fondasi utama. Lingkungan dijaga karena ia menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bukan karena sedang ramai dibicarakan.
Jika ditarik ke konteks Indonesia, kontras itu terasa semakin nyata. Kampanye lingkungan berbasis media sosial sering kali sangat kuat saat isu sedang hangat, penolakan tambang, reklamasi, atau proyek ekstraktif lainnya. Namun ketika perhatian publik bergeser, banyak gerakan melemah.
Di sisi lain, komunitas adat, petani, dan nelayan terus berjuang dalam senyap mempertahankan ruang hidupnya, bahkan tanpa sorotan. Ini memperlihatkan perbedaan mendasar antara aktivisme berbasis isu dan perjuangan berbasis kehidupan.
Dari sini, persoalannya menjadi semakin jelas. Lingkungan tidak membutuhkan pembela musiman, tetapi penjaga yang setia. Kesadaran publik memang penting, namun tanpa struktur sosial yang kuat, ia hanya melahirkan euforia sesaat. Gerakan yang benar-benar berkelanjutan lahir dari rasa memiliki, dari relasi yang terus dirawat, dan dari keberanian untuk bertahan bahkan ketika tidak ada kamera yang menyorot.
Harapan dari ramainya jargon lingkungan hari ini seharusnya diarahkan pada tumbuhnya gerakan yang mengakar. Bayangkan sebuah kebun dengan banyak pohon, di mana akar-akar saling terikat di dalam tanah. Dalam kebun seperti itu, ketika satu pohon tumbang atau mati, pohon lain tidak diam. Mereka tetap berdiri, saling menopang, dan bersuara untuk menjaga kehidupan bersama.
Di situlah keberlanjutan menemukan maknanya yang paling dalam bukan pada seberapa sering kita menyebut kata “lingkungan”, tetapi pada seberapa lama dan seberapa setia kita merawatnya, bahkan ketika tidak ada yang menonton.
Editor: Zahfa Almedina