Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Simfoni Rintik di Tanah Mataram: Sebuah Manifesto Rindu

Naufal Febrian by Naufal Febrian
Desember 29, 2025
in Esai, Narasi
0
Simfoni Rintik di Tanah Mataram: Sebuah Manifesto Rindu
14
SHARES
83
VIEWS

Oleh: Naufal Febrian

Sore di Yogyakarta tidak pernah hanya sekadar pergantian waktu. Ia adalah sebuah transisi perasaan. Di kota ini, matahari yang tenggelam tidak pernah benar-benar pamit; ia hanya bersembunyi di balik kenangan, membiarkan lampu-lampu jalan dan aroma tanah basah mengambil alih kemudi rasa. Sore ini, langit di atas Tugu tampak menggantung berat, berwarna kelabu yang pudar, seolah-olah awan-awan itu sedang menanggung beban rindu yang sama besarnya denganku.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Lalu, rintik itu turun. Satu demi satu, menghantam aspal panas Malioboro, menciptakan uap tipis yang membawa aroma petrichor parfum alami Yogyakarta yang selalu berhasil membangkitkan ingatan yang paling terkubur sekalipun.

Aroma Tanah dan Bayangmu

Hujan di Yogyakarta punya suara yang berbeda. Ia tidak terdengar seperti ancaman badai, melainkan seperti bisikan lirih seorang ibu atau pelukan tenang seorang kekasih. Saat air mulai menderas, aku menepi di sebuah selasar toko tua dengan pintu kayu yang catnya mulai mengelupas. Di sinilah, di bawah naungan atap yang bocor kecil di sudutnya, rindu itu tercipta secara otomatis.

Aku ingat bagaimana kau sangat menyukai hujan di kota ini. Kau selalu bilang bahwa Yogyakarta saat hujan adalah waktu di mana kota ini menunjukkan wajah aslinya: romantis, melankolis, dan sedikit magis. “Lihatlah,” katamu waktu itu, menunjuk ke arah becak-becak yang mulai memasang terpal plastik mereka. “Semua orang melambat, semua orang berhenti berlari. Jogja meminta kita untuk bernapas.”

Kini, aku bernafas sendirian di antara ribuan tetes air yang jatuh. Setiap tetesnya seolah menjelma menjadi bayangmu. Aku melihatmu di antara kerumunan orang yang berlarian mencari perlindungan. Aku melihat senyummu pada pantulan air di atas ubin trotoar yang tidak rata. Rindu ini, sayang, adalah rindu yang purba jenis rindu yang membuat dada terasa sesak namun sekaligus hangat.

Mensyukuri Kenangan di Balik Jendela

Karena hujan tak kunjung reda, kakiku membawaku menuju sebuah kedai kopi kecil di daerah jalan lurus menuju Keraton. Kedai itu sederhana, hanya ada beberapa kursi kayu dan aroma kopi Menoreh yang kuat. Aku memilih duduk di kursi paling pojok, tepat di samping jendela besar yang langsung menghadap ke jalanan yang kini menjelma menjadi sungai kecil yang tenang.

Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Warna kuning keemasannya berpendar di atas air, menciptakan suasana syahdu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Yogyakarta dalam hujan adalah sebuah lukisan cat air yang belum kering; garis-garis nya kabur, warnanya menyatu, namun maknanya sangat dalam.

Aku memesan secangkir kopi hitam panas, persis seperti yang biasa kita pesan. Saat uap kopi menyentuh wajahku, aku memejamkan mata. Seketika, aku kembali ke sore itu, setahun yang lalu. Kita duduk di tempat yang mirip, membicarakan hal-hal yang tidak penting tentang mimpi-mimpi kita, tentang rumah masa depan dengan jendela yang besar agar kita bisa melihat hujan, dan tentang janji untuk tidak pernah menjadi asing.

Namun, takdir seringkali memiliki selera humor yang getir. Jarak kini menjadi tembok tinggi yang memisahkan kita. Dan sore ini, hujan di Yogyakarta menjadi jembatan rapuh yang mencoba menghubungkan hatiku dengan hatimu di sana.

Yogyakarta Tak Pernah Ingkar Janji

Orang bilang, Yogyakarta terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Namun bagiku, Yogyakarta sore ini terbuat dari doa-doa yang kupanjatkan di sela-sela gemericik air. Ada sebuah kekuatan magis di tanah ini yang membuat kesedihan tidak terasa pahit, melainkan terasa seperti puisi.

Aku melihat seorang kakek tua penjual koran yang berteduh tak jauh dari kedai. Ia tampak tenang, menikmati sebatang rokok kreteknya sambil menatap hujan. Ketenangannya adalah tamparan bagiku yang masih saja gelisah oleh rindu. Mungkin benar kata orang-orang tua di sini, bahwa hidup adalah tentang nrimo menerima bahwa ada saatnya kita bersama, dan ada saatnya kita hanya bisa mengenang dalam diam.

Rindu kepadamu di tanah ini rasanya sangat organik. Ia tumbuh di antara lumut-lumut di dinding benteng, ia mengalir bersama air di selokan Mataram, dan ia bergaung bersama suara lonceng kereta api di stasiun Lempuyangan. Merindukanmu di Yogyakarta adalah sebuah kegiatan penuh waktu yang tidak mengenal kata lelah.

Penantian di Ujung Hujan dan Jalan Pulang 

Hujan mulai mengecil, menyisakan rintik-rintik halus yang sering disebut orang lokal sebagai gerimis tipis-tipis. Langit sudah gelap sepenuhnya, namun Yogyakarta justru semakin hidup. Aroma bakmi jawa yang dimasak dengan anglo mulai tercium dari kejauhan, bercampur dengan aroma aspal basah.

Aku melangkah keluar dari kedai, membiarkan beberapa tetes sisa hujan menyentuh kulitku. Dinginnya menusuk, namun pikiranku tetap tertuju padamu. Merindukanmu di sini, di bawah langit Yogyakarta yang syahdu ini, membuatku sadar bahwa cinta bukan hanya tentang kehadiran fisik. Cinta adalah tentang bagaimana sebuah tempat bisa membuatmu merasa begitu dekat dengan seseorang, meski ia berada ribuan kilometer jauhnya.

Yogyakarta adalah saksi bisu. Ia mencatat setiap janji yang kita bisikkan, ia menyimpan setiap tawa yang kita lepaskan, dan sore ini, ia menjaga rinduku agar tetap utuh sampai kita bertemu kembali.

Sebuah Janji pada Tanah Mataram

Jika suatu saat nanti kau kembali ke kota ini, mari kita berjalan lagi di bawah hujan yang sama. Kita tidak perlu payung. Kita hanya butuh satu sama lain dan kesediaan untuk membiarkan Yogyakarta mencuci semua rindu yang selama ini menggantung di dada.

Sore ini, hujan telah usai. Namun rinduku? Ia baru saja menemukan rumahnya yang baru di setiap sudut jalanan Yogyakarta yang basah.

Editor: Dwi Kurniadi

Terkait

Tags: IndonesiaIslamManifesto RindupancasilaTanah Mataram
Previous Post

Menanam Akar di Jantung Generasi: Urgensi Pendidikan Anak dalam Islam

Next Post

Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis AI bagi Guru SD Muhammadiyah Tegalgede

Naufal Febrian

Naufal Febrian

Next Post
Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis AI bagi Guru SD Muhammadiyah Tegalgede

Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis AI bagi Guru SD Muhammadiyah Tegalgede

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.