Oleh: Hammam Alghazy
Banjir datang membawa kayu,
Bukan hanya lumpur dan air yang tumpah,
Tapi juga pesan getir dari hutan yang menangis.
Gunung yang dulu kokoh kini tinggal luka,
Pohon-pohon tumbang bukan karena usia,
Melainkan ketamakan yang dilegalkan tanda tangan.
Air mengalir deras, menyeret rumah,
Seakan berkata: “Inilah harga yang kalian diamkan.”
Sungai meluap bukan karena salah arah,
Tapi karena jalannya dirampas
Demi proyek yang mengenyangkan segelintir kursi empuk.
Rakyat berteriak mencari tangan yang bertanggung jawab,
Namun yang terdengar hanya suara janji
Yang tenggelam sebelum diwujudkan.
Negeri ini tak butuh pidato panjang,
Yang rakyat mau hanyalah keputusan yang benar
Dan keberanian untuk tidak menutup mata
Pada kesalahan sendiri.
Jika kayu bisa bicara,
Mungkin ia akan bertanya:
“Siapa sebenarnya perusak negeri ini,
Banjir atau kalian?”