Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Nggak Mau Kena Toxic Culture di Tempat Kerja? Riset Budaya Perusahaan Dulu, Baru Lamar!

Najib Haidi Lutfillah by Najib Haidi Lutfillah
Oktober 30, 2025
in Esai, Narasi
0
Nggak Mau Kena Toxic Culture di Tempat Kerja? Riset Budaya Perusahaan Dulu, Baru Lamar!
19
SHARES
111
VIEWS

Oleh: Najib Haidi Lutfillah (Human Resource Development FnB Industry)

Di pasar kerja modern, memiliki skill cemerlang dan CV tebal sudah bukan jaminan kebahagiaan. Seringkali, kegagalan terbesar dalam karier seseorang bukanlah dipecat karena tidak kompeten, melainkan mengundurkan diri karena kesehatan mental terganggu akibat toxic culture. Fenomena ini sudah menjadi hal yang familiar perusahaan menawarkan gaji kompetitif, tetapi menuntut nyawa kita sebagai imbalan, entah dalam bentuk jam kerja tak manusiawi, lingkungan kerja yang penuh drama, atau manajemen yang abusif. Ironisnya, semua racun ini tersembunyi di balik senyum HRD dan website perusahaan yang menampilkan foto-foto gathering ceria. Inilah mengapa kita harus mengubah strategi, berhentilah fokus pada apa yang perusahaan butuhkan, dan mulailah fokus pada apa yang kamu butuhkan untuk survive.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kita sering melupakan bahwa melamar pekerjaan adalah wawancara dua arah. Perusahaan menilai  keterampilan kamu, tetapi kamu juga wajib menilai budaya perusahaan mereka. Budaya perusahaan adalah DNA yang menentukan bagaimana keputusan dibuat, bagaimana tim berkerja sama, dan bagaimana keberhasilan maupun kegagalan ditanggapi. Ini jauh lebih penting dari gaji, karena budaya dan lingkungan yang sehat akan membantu kamu saat krisis, sementara budaya yang toxic akan meruntuhkan kamu meski dengan gaji fantastis. Sayangnya, mayoritas pelamar hanya melakukan riset dangkal, mencari profil di LinkedIn atau produk perusahaan tanpa berusaha keras menyingkap kebenaran di balik tirai. Padahal, kunci untuk menghindari jebakan toxic culture adalah riset budaya yang mendalam.

Riset budaya yang efektif harus melampaui website perusahaan. Kamu harus mencari “suara” karyawan yang tidak difilter. Manfaatkan platform seperti Qerja, atau bahkan review Google Maps perusahaan untuk mencari pola keluhan. Apakah keluhannya berkisar pada micromanagement, jam kerja gila, atau manajemen yang tidak responsif? Pola ini menunjukkan adanya masalah sistemik, bukan sekadar keluhan pribadi. Selain itu, perhatikan juga media sosial perusahaan. Apakah mereka hanya memposting tentang pencapaian profit, atau mereka juga menyoroti kesejahteraan karyawan, work-life balance, dan program wellness? Perbedaan antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan adalah indikator pertama adanya toxic culture yang tersembunyi.

Saat kamu berhasil mencapai tahap wawancara, gunakan kesempatan ini untuk melakukan menanyakan budaya perusahaan dan kebiasaan dari karyawan. Ajukan pertanyaan yang spesifik dan behavioral dan lingkungan kerja kepada pewawancara. Jangan hanya bertanya, “Bagaimana budaya di sini?”, “ Apa saja yang biasanya dilakukan oleh karyawan perusahaan disni ketika sudah menyelesaikan tugas dan pekerjaan?” atau “ Bagaiamana soal kegiatan keagaaaman dan spritualitas karyawan diperusahaan ini?” Jawaban yang diberikan terutama nada bicara dan ekspresi pewawancara, seringkali mengungkapkan lebih banyak tentang realitas budaya sehari-hari daripada yang tertulis di manual HRD. Wawancara bukan lagi sesi kamu diinterogasi, melainkan sesi kamu mencari bukti bahwa lingkungan tersebut aman bagi kamu.

Pada akhirnya, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, kita harus berhenti menjadi korban. Kita tidak bisa lagi asal melamar hanya karena putus asa atau tergiur gaji tinggi. Riset budaya adalah bentuk pertahanan diri agar lebih memfilter lamaran pekerjaan. Dengan mengetahui profil, sejarah, dan terutama budaya perusahaan sebelum melamar, kamu memastikan bahwa waktu, skill, dan kesehatan mental kamu hanya diinvestasikan pada tempat yang layak. Jangan blind date dengan perusahaan, riset budayanya dulu, baru kirim lamaran. Dengan begitu, kamu tidak hanya lolos seleksi, tetapi juga berhasil melindungi diri dari toxic culture yang bisa menghancurkan karier kamu.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: BudayaRisetDuniaKerjaPerusahaanToxicCulture
Previous Post

Lunturkan Ego Digital: Menghidupkan Kembali Adab Gen Z terhadap Orang Tua

Next Post

IMM Konsolidasikan Peran Pemuda dalam Transisi Energi Nasional di Tanwir XXXIII

Najib Haidi Lutfillah

Najib Haidi Lutfillah

Next Post
IMM Konsolidasikan Peran Pemuda dalam Transisi Energi Nasional di Tanwir XXXIII

IMM Konsolidasikan Peran Pemuda dalam Transisi Energi Nasional di Tanwir XXXIII

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.