Oleh: Filza Zuan Nabila (Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UMS)
Halooo! Langsung saja, karena literasi kebanyakan orang Indonesia masih agak lemah, aku sebagai penulis tidak ingin membuat narasi yang terlalu panjang, puitis, dan lain sebagainya. Heyyy guys, aku Zuan, dan aku adalah seorang Gen Z. Di sini aku akan menulis sedikit tentang asal-usul zodiak, karena aku lihat kebanyakan Gen Z sangat tertarik pada zodiak.
Seperti yang telah kita ketahui, ada 12 zodiak yang sangat familiar di kalangan masyarakat, yakni: Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpius, Sagittarius, Capricornus, Aquarius, dan Pisces. Tapi, sudahkah kalian tahu sebenarnya apa sih zodiak itu? Siapa pencetus zodiak pertama? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Zodiak berasal dari bahasa Yunani Zodiakos kyklos yang berarti “lingkaran hewan.” Menurut sejarah, kata zodiak pertama kali muncul pada sebuah manuskrip Yunani pada abad ke-4 SM. Zodiak sendiri bisa dikatakan sebagai “sabuk imajiner” di langit yang melingkupi jalur ekliptika (jalur semu yang dilalui Matahari dari perspektif Bumi).
Berat ya bahasanya? sini aku jelaskan. Mudahnya, orang dulu melihat Matahari seakan-akan bergerak dari selatan ke utara dan kembali ke selatan setiap tahun, padahal Matahari tidak benar-benar bergerak. Fenomena ini terjadi karena Bumi melakukan revolusi mengelilingi Matahari dengan sumbu rotasi yang miring, sehingga posisi Matahari seolah bergeser, memengaruhi musim dan intensitas sinarnya di berbagai belahan Bumi.
Lalu, rasi-rasi zodiak ini adalah kumpulan bintang yang letaknya berada di sekitar jalur tersebut. Ilustrasinya kaya gini:

Sekitar 3000 SM, bagi Mesir Kuno, Sungai Nil adalah sumber kehidupan. Setiap tahun, sekitar pertengahan Juli, sungai ini meluap dan membanjiri daratan di sekitarnya. Walaupun terdengar berbahaya, banjir ini justru membawa lumpur subur yang menjadikan tanah Mesir sangat produktif untuk bercocok tanam.
Masalahnya, orang Mesir Kuno harus mengetahui kapan banjir itu datang supaya bisa menyiapkan sawah, benih, dan lumbung. Nah, untuk memperhitungkan waktunya, mereka menengadah ke langit malam. Mereka menggunakan Bintang Sirius (disebut Sopdet oleh orang Mesir) sebagai tanda. Bintang itu selalu terbit menjelang fajar pada saat-saat tertentu. Saat Sirius muncul kembali di langit timur sebelum Matahari terbit (heliacal rising), banjir Sungai Nil biasanya segera datang.
Bahkan, mereka menjadikan kemunculan Sirius sebagai awal tahun baru Mesir Kuno. Adapun siklusnya (sekitar 365,25 hari) membuat orang Mesir mampu menyusun kalender yang hampir sama dengan kalender modern kita sekarang. Sirius bahkan dipuja sebagai simbol kesuburan dan dikaitkan dengan Dewi Isis.
Walaupun Sirius sendiri bukan bagian dari rasi zodiak, pengamatan Mesir ini mengajarkan bahwa langit bisa menjadi penentu musim. Dari sini, lahirlah ide untuk membagi langit menjadi bagian-bagian agar manusia lebih mudah membaca pola pergerakan benda langit.
Nantinya, bangsa Babilonia mengembangkan sistem ini menjadi 12 bagian rasi bintang di sepanjang jalur Matahari, lalu Yunani memasukkan mitologi mereka. Jadi, bisa dibilang Mesir memberi dasar pada fungsi praktis (musim dan kalender), sedangkan Babilonia dan Yunani memberi struktur dan cerita pada zodiak.
Jadi, detailnya: banjir Sungai Nil adalah alasan kenapa orang Mesir sangat tekun mengamati langit. Dan Sirius adalah kunci yang menghubungkan fenomena alam di Bumi dengan perhitungan langit. Dari tradisi inilah kemudian berkembang sistem perbintangan yang kita kenal sekarang.
Setelah Mesir, Babilonia, dan Yunani membentuk sistem zodiak, pertanyaan berikutnya adalah: apakah semua rasi ini bisa kita lihat dari satu tempat di Bumi? Jawabannya: tidak. Kenapa? Karena Bumi itu bulat (cieee basic science), dan posisimu di permukaan Bumi, apakah di lintang utara, selatan, atau tropis menentukan rasi apa yang bisa kelihatan.
Bahasa gampangnya, kalau kamu tinggal di Indonesia yang dekat khatulistiwa, kamu punya keuntungan: bisa lihat rasi-rasi dari belahan utara dan selatan. Tapi kalau kamu tinggal di Eropa Utara atau Kanada, jangan harap bisa lihat rasi Scorpius full body, karena sebagian rasi itu hanya terlihat di langit tropis dan selatan.
Oke, aku kasih datanya ya:
- Dimulai dari Aries, si domba enerjik. Rasi ini terlihat pada lintang +90° sampai −60°, artinya bisa dinikmati hampir di seluruh belahan Bumi kecuali daerah kutub selatan ekstrem. Dari Amerika Serikat bagian utara, Inggris, Jerman, hingga Jepang, Aries paling jelas muncul pada November hingga Desember. Kehadirannya pas di masa transisi musim, cocok buat kamu yang suka suasana perubahan.
- Lanjut ke Taurus, si banteng keras kepala tapi setia, dengan rentang lintang +90° sampai −65°. Ia bisa dilihat dari Spanyol, Italia, Mesir, hingga Jepang sekitar Januari–Februari. Yang bikin keren, Orion’s Belt biasanya muncul bersamaan dengan Taurus, sehingga menjadi favorit para pemburu foto langit.
- Berikutnya ada Gemini, si kembar kompak, yang juga berada di lintang +90° sampai −60°. Dari Kanada, Rusia, Prancis, Tiongkok, sampai Jepang, rasi ini muncul antara Februari–Maret. Dua bintang ikonik, Castor dan Pollux, membuatnya mudah dikenali.
- Pada bulan Maret–April, muncullah Cancer, si kepiting misterius, dengan rentang lintang +90° sampai −60°. Dari Jerman, Korea Selatan, Turki, hingga Amerika Serikat bagian utara, kamu bisa melihat Beehive Cluster, sekumpulan bintang yang tampak seperti taburan glitter di langit.
- Saat April–Mei, terlihat Leo, si singa sangar, yang berada di lintang +90° sampai −65°. Dari Mesir, Italia, Yunani, Iran, sampai Amerika Serikat utara, Leo memperlihatkan Regulus—bintang paling terang yang dijuluki Heart of the Lion.
- Berikutnya, Virgo, si gadis analitis, muncul pada lintang +90° sampai −80°. Dari Indonesia, Brasil, Australia, India, hingga Mesir, Virgo tampak jelas pada Mei–Juni, dengan Spica sebagai bintang biru terang andalannya.
- Pada lintang +65° sampai −90°, muncullah Libra, si penimbang bijak. Dari Indonesia, Brasil, Australia, hingga Afrika Selatan, rasi ini bisa dilihat pada Juni–Juli, dengan dua bintang khas bernama Zubenelgenubi dan Zubeneschamali.
- Memasuki Juli–Agustus, giliran Scorpius, si kalajengking garang, yang berada di lintang +40° sampai −90°. Dari Indonesia, Australia, Brasil, hingga Afrika Selatan, rasi ini menampakkan Antares, bintang merah terang yang menjadi jantung kalajengking.
- Selanjutnya, Sagittarius, si pemanah petualang, muncul pada lintang +55° sampai −90°. Dari Australia, Brasil, Indonesia, hingga Afrika Selatan, ia tampak pada Agustus–September. Menariknya, area Sagittarius adalah pusat galaksi kita, Bima Sakti.
- Lalu ada Capricornus, si kambing laut unik, di lintang +60° sampai −90°. Dari Australia, Cile, Argentina, hingga Afrika Selatan, Capricorn terlihat sekitar September–Oktober. Meski agak redup, teleskop bisa memperlihatkan bentuk segitiga khasnya.
- Berikutnya, Aquarius, si pembawa air visioner, berada di lintang +65° sampai −90°. Dari Australia, Brasil, Afrika Selatan, hingga Indonesia, rasi ini muncul pada Oktober–November. Fenomena Delta Aquarids meteor shower membuat langit semakin spektakuler.
- Pada bulan November–Desember, hadir Pisces, si ikan tenang, pada lintang +90° sampai −65°. Dari Jepang, Amerika Serikat, Prancis, Mesir, hingga India, rasi ini tampak redup tetapi menarik karena menjadi transisi ke musim horoskop baru.
- Dan terakhir, ada Ophiuchus, si pawang ular, dengan lintang +80° sampai −20°. Dari Brasil, Australia, Indonesia, hingga Afrika Selatan, rasi ini muncul pada November–Desember. Meski sering dilupakan, sebenarnya Matahari juga melintas di Ophiuchus, menjadikannya bagian penting dari “zodiak tersembunyi.”
Waitt… I know what you want to ask. Pasti di hati kalian: “Kak, kok Oktober di Aquarius sih? Kok Juni–Juli di Libra sih? And etc.”
Brooo, come here, I’ll explain it to you.
Banyak orang sering bingung kalau ditanya, “Libra itu kapan, sih?” Jawabannya ternyata bergantung pada apakah kita bicara soal zodiak astrologi atau bintang nyata astronomi. Keduanya sama-sama ngomongin “Libra,” tapi dari sudut pandang yang berbeda banget.
Mari kita mulai dari orang kuno. Ribuan tahun lalu, bangsa Babilonia, Mesir, dan Yunani rajin mengamati langit malam. Mereka melihat bahwa beberapa bintang muncul di musim tertentu, dan menyadari ada jalur khusus yang dilewati Matahari sepanjang tahun yang sekarang disebut ekliptika.
Nah, rasi Libra muncul di malam hari beberapa bulan sebelum Matahari “melewati” jalurnya. Tapi saat Matahari berada tepat di jalur Libra, misalnya di Oktober, bintang-bintang Libra tidak bisa dilihat malam hari karena sinar Matahari terlalu terang.
Lalu, gimana mereka tahu seseorang lahir di Libra? Mereka menghubungkan pola bintang malam hari dengan posisi simbolik Matahari di siang hari. Bisa dibayangkan seperti ini: Matahari itu mobil yang berjalan di jalan raya langit, sedangkan Libra itu papan reklame di pinggir jalan. Saat siang, papan reklame tertutup sinar Matahari, tapi orang kuno tahu jalannya mobil dari papan reklame yang muncul di malam hari.
Dari sinilah lahir sistem zodiak simbolik: “Kalau lahir saat Matahari di jalur Libra, kamu Libra.”
Sekarang, di era modern, astrologi tetap memakai sistem kuno itu. Jadi, tanggal zodiak tetap sama, misalnya Libra 23 September–22 Oktober. Tapi karena fenomena precession (pergeseran poros Bumi), posisi Matahari sebenarnya tidak selalu berada tepat di rasi Libra saat seseorang lahir.
Jadi, secara astronomi, tanggal lahir astrologi modern kadang tidak cocok dengan posisi bintang asli. Sementara itu, astronomi modern fokus pada bintang nyata, bukan simbolik. Rasi Libra benar-benar ada dan bisa diamati di langit malam, tapi waktunya bukan Oktober, melainkan sekitar Juni–Juli, saat Matahari berada di sisi langit yang berlawanan dan cahaya siang tidak menutupi pandangan kita.
Astronom modern nggak peduli tanggal lahir seseorang; mereka hanya ingin tahu kapan bintang itu bisa muncul di malam hari.
Editor: Rafidah Azis