Oleh: Abbad Muhammad Zahid (Kabid Kaderisasi PK IMM KH Mas Mansur UMS)
Bumi adalah rumah kita yang dinamis, selalu berubah, dan menyimpan keindahan yang menakjubkan. Perubahan ini mencerminkan sifat alami bumi sebagai sebuah sistem yang hidup, di mana proses geologis, biologis, dan atmosferik terus berlangsung. Pergerakan lempeng tektonik, letusan gunung berapi, dan siklus iklim adalah contoh dari perubahan alami yang telah membentuk lanskap bumi selama jutaan tahun. Planet ini memiliki ekosistem yang saling terkait dan mampu memperbarui dirinya secara alami. Dari pegunungan yang menjulang, hingga samudra yang luas, setiap sudut bumi mencerminkan keagungan dan keseimbangan yang harus kita jaga.
Dalam Perspektif Ekosentris keseimbangan ekositem dipengaruhi oleh hubungan dinamis dan harmonis antara makhluk hidup dengan lingkungannya sehingga bumi dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem dimana semua elemen baik yang hidup atau tidak berperan penting dalam menjaga keseimbangan. Sementara, biosentrisme menawarkan pandangan yang melengkapi ekosentrisme dengan menitikberatkan nilai intrinsik setiap makhluk hidup. Biosentrisme menekanan nilai intrinsik setiap makhlup hidup dengan meyakini bahwa semua makhluk, dari yang terbesar hingga terkecil, memiliki hak untuk hidup dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Dalam pandangan ini, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menghormati dan melindungi semua bentuk kehidupan. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, kita memahami bahwa menjaga bumi bukan hanya tentang melindungi kepentingan manusia, tetapi juga tentang melestarikan ekosistem dan kehidupan yang ada di dalamnya. Keindahan dan keberlanjutan bumi tidak akan abadi jika kita tidak merawatnya dengan bijaksana.
Namun, bumi kini menghadapi berbagai masalah lingkungan. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa perubahan iklim, deforestasi (Penghilangan Hutan), dan pencemaran telah merusak keseimbangan ekosistem. Menurut Dr. Johan Rockström menyatakan “bahwa kita telah melampaui beberapa batas planet kritis, yang dapat mengancam keberlanjutan hidup di Bumi”. Ia mengungkapkan hal ini dalam wawancaranya dengan McKinsey pada Juli 2024, mengingat bahwa melampaui batasan-batasan lingkungan seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati yang dapat menyebabkan kerusakan tak terpulihkan. Namun, masih ada peluang untuk memulihkan keseimbangan planet melalui kebijakan berkelanjutan dan tindakan kolektif. Rockström adalah salah satu ilmuwan yang mengembangkan kerangka “planetary boundaries” untuk menjaga stabilitas Bumi.
Kerusakan yang terjadi di bumi sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41). Aktivitas seperti penggunaan bahan bakar fosil, pembakaran hutan, dan pembuangan sampah sembarangan menjadi penyebab utama krisis ini. Rachel Carson, seorang ahli lingkungan, menyatakan, “Manusia sering kali tidak menyadari bahwa perilaku mereka menciptakan rantai kehancuran terhadap alam.” Carson menyatakan hal ini untuk menyoroti bahwa banyak tindakan manusia, seperti penggunaan pestisida dan polusi menyebabkan kerusakan lingkungan dan melalui bukunya Silent Spring (1962), Dia memperingatkan bahwa manusia, dengan segala kemajuan teknologinya, sering kali mengabaikan konsekuensi ekologis jangka panjang dari tindakan mereka.
Keselamatan bumi ada di tangan kita. Setiap tindakan, sekecil apa pun, berdampak besar pada masa depan planet ini. Meski terdengar klise, kita sering lalai dan justru melakukan hal kecil yang merusak bumi. Padahal, ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi:
- Menghemat Air
air merupakan sumber daya terbatas yang vital bagi kehidupan. Penggunaan air secara berlebihan dapat menyebabkan kekeringan, merusak ekosistem, dan mengancam keberlanjutan. Untuk menghemat air, kita bisa mematikan keran saat tidak digunakan, memperbaiki kebocoran, dan menggunakan peralatan hemat air seperti shower beraliran rendah atau toilet dual flush. Selain itu, kita juga dapat menggunakan air bekas cucian untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan dengan ember, serta menanam tanaman hemat air dan menyiramnya pada pagi atau sore hari untuk mengurangi penguapan. Menampung air hujan untuk keperluan non-konsumsi dan menghindari membuang makanan juga merupakan cara efektif, mengingat proses produksi makanan membutuhkan banyak air.
- Mengurangi Penggunaan Kendaraan Bermotor
Mengurangi Penggunaan kendaraan bermotor berperan penting untuk menekan polusi udara dan emisi gas rumah kaca. Beralih ke transportasi umum, berjalan kaki, atau bersepeda dapat mengurangi emisi dan menjaga kesehatan. Menggunakan mobil listrik atau berbagi kendaraan (carpooling) juga efektif untuk menekan konsumsi bahan bakar fosil dan mengurangi kepadatan lalu lintas.
- Menanam Pohon dan Melestarikan Hutan
Menanam pohon dan melestarikan hutan adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim. Pohon menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan menjaga kestabilan tanah serta habitat bagi banyak spesies. Mengikuti kegiatan penghijauan di lingkungan sekitar dapat membantu mengembalikan lahan yang gundul atau rusak. Selain itu, menghindari produk yang berasal dari hutan yang dikelola secara tidak berkelanjutan, seperti kayu atau kertas ilegal, dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hutan alam. Merawat tanaman di rumah juga memiliki manfaat besar, seperti meningkatkan kualitas udara dengan menyerap polutan dan memberikan kenyamanan.
- Menghemat Energi
Menghemat energi sangat penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang terbatas. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menggunakan peralatan hemat energi, seperti lampu LED, yang lebih efisien dan memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan lampu biasa. Mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan, seperti televisi, komputer, atau charger, dapat mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu. Selain itu, memanfaatkan energi terbarukan, seperti panel surya, dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang mencemari lingkungan
- Mengelola sampah dengan bijak
Mengelola sampah dengan bijak adalah langkah penting untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan mendukung keberlanjutan. Salah satunya dengan memilah sampah organik dan anorganik agar sampah yang dapat didaur ulang bisa diproses dengan lebih efisien. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tas belanja kain dan botol minum sendiri membantu mengurangi volume plastik yang mencemari lingkungan dan menurunkan permintaan produksi plastik. Selain itu, menggunakan barang daur ulang seperti kertas, plastik, atau logam mengurangi kebutuhan akan barang baru dan mengurangi limbah yang menumpuk di tempat pembuangan sampah.