Oleh: Syakira
Ekofeminisme bukan sekadar wacana tentang perempuan dan lingkungan. Ia adalah manifestasi perlawanan terhadap sistem yang merusak kehidupan secara menyeluruh. Dunia yang dikuasai oleh kapitalisme patriarkal telah mengubah tubuh perempuan dan alam menjadi objek eksploitasi tanpa batas. Perempuan dijadikan mesin reproduksi, sementara bumi dikuliti hingga ke inti demi kepentingan industri dan akumulasi modal. Dalam realitas yang terus-menerus mengeksploitasi dua entitas ini, ekofeminisme muncul bukan hanya sebagai pisau analisis, tetapi juga sebagai gerakan yang membongkar ketidakadilan dan menawarkan arah baru bagi peradaban.
Ekofeminisme menelanjangi bagaimana sistem ekonomi dan politik global menempatkan perempuan dan alam dalam posisi subordinat. Patriarki dan kapitalisme, yang bertumpu pada ekspansi dan kontrol, tidak hanya menindas perempuan melalui penguasaan atas tubuh, tenaga, dan pekerjaannya, tetapi juga melanggengkan eksploitasi ekosistem yang menopang kehidupan.
Perempuan dalam masyarakat agraris dan adat sering kali berperan sebagai penjaga alam, pengelola sumber daya, dan pemelihara kehidupan. Mereka yang menanam, menyimpan benih, merawat air, serta memastikan ketersediaan pangan bagi keluarga dan komunitas. Namun, modernisasi dan industrialisasi yang rakus menjadikan mereka korban pertama dari kerusakan lingkungan.
Ketika hutan dihancurkan, tanah direbut, dan air tercemar, perempuanlah yang pertama kali merasakan dampaknya. Mereka kehilangan akses terhadap pangan, air bersih, kesehatan reproduksi, dan bahkan ruang aman untuk hidup. Dalam bencana ekologis, perempuan juga lebih rentan terhadap kekerasan berbasis gender: perdagangan manusia, perkawinan paksa, hingga pelecehan seksual di pengungsian. Dengan kata lain, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan gender yang mengancam martabat manusia secara utuh.
Perlawanan Perempuan Kendeng: Rahim yang Bertahan, Tanah yang Diperjuangkan
Salah satu contoh paling nyata dari keterkaitan ekofeminisme dan ketimpangan gender adalah perjuangan perempuan Kendeng melawan tambang semen di Rembang, Jawa Tengah. Sebagaimana ditulis Dewi Candraningrum dalam Politik Rahim: Perempuan Kendeng Menolak Tambang Semen, perlawanan perempuan Kendeng bukan sekadar aksi melindungi tanah, tetapi juga mempertahankan kehidupan itu sendiri.
Perempuan Kendeng menyadari bahwa tubuh mereka memiliki hubungan tak terpisahkan dengan tanah tempat mereka berpijak. Bagi mereka, merusak alam sama saja dengan merusak rahim yang melahirkan generasi mendatang. Rahim perempuan dan rahim bumi sama-sama menjadi sumber kehidupan. Ketika tambang mulai menggali perut bumi, perempuan Kendeng merapatkan barisan. Mereka mendirikan tenda, duduk di depan alat berat, menyemen kaki mereka sebagai simbol perlawanan, dan bertahan meski menghadapi intimidasi aparat maupun kriminalisasi.
Gerakan ini membuktikan bahwa perempuan tidak hanya menjadi korban ketimpangan gender dan perusakan lingkungan, tetapi juga aktor utama dalam perubahan sosial. Mereka menolak tunduk pada sistem yang menjadikan tubuh dan tanah sebagai komoditas. Sebaliknya, mereka bangkit dan menuntut hak atas kehidupan yang bermartabat. Perlawanan perempuan Kendeng menjadi cermin bagaimana ekofeminisme bukan sekadar teori, melainkan praktik hidup yang nyata, tumbuh dari pengalaman sehari-hari perempuan desa.
Kapitalisme dan Patriarki: Dua Wajah Eksploitasi yang Sama
Kapitalisme tidak dapat berjalan tanpa patriarki, begitu pula sebaliknya. Kedua sistem ini saling menopang dalam eksploitasi yang sistematis. Jika kapitalisme membutuhkan tenaga kerja murah dan sumber daya alam yang dapat dieksploitasi tanpa batas, maka patriarki memastikan perempuan tetap berada dalam posisi subordinat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Perempuan yang berjuang mempertahankan tanahnya sering dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas ekonomi. Mereka dikriminalisasi, ditindas, dan dicap sebagai penghambat pembangunan. Negara dan korporasi memproduksi narasi pembangunan yang menyanjung pertumbuhan ekonomi, tetapi menutupi kerusakan ekologis serta penderitaan sosial yang ditimbulkannya. Pembangunan semacam ini bersifat semu: ia hanya menguntungkan segelintir elite, sementara biaya ekologis dan sosial ditanggung oleh masyarakat, terutama perempuan.
Dengan demikian, kapitalisme patriarkal tidak hanya merampas tanah, air, dan udara, tetapi juga mengekang kebebasan perempuan untuk menentukan nasib atas tubuh dan kehidupannya. Rahim perempuan dan bumi sama-sama ditempatkan dalam logika produksi sebagai mesin reproduksi tenaga kerja dan mesin produksi komoditas. Inilah wajah ganda eksploitasi yang membuat ekofeminisme sangat relevan sebagai kritik sekaligus gerakan tanding.
Menuju Masa Depan yang Adil: Perempuan sebagai Agen Perubahan
Ekofeminisme bukan sekadar kritik terhadap sistem yang ada, tetapi juga tawaran visi alternatif. Ia mengajak kita membayangkan dunia di mana relasi manusia dengan alam tidak lagi berdasarkan eksploitasi, melainkan harmoni dan saling merawat. Dunia di mana perempuan tidak dipandang sebagai objek yang dapat dikendalikan, melainkan sebagai subjek yang memiliki otonomi penuh atas tubuh dan kehidupannya.
Di berbagai belahan dunia, perempuan telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar korban, tetapi juga pemimpin dalam perjuangan ekologi. Dari petani perempuan Amerika Latin yang melawan agribisnis transnasional, hingga perempuan adat di Kalimantan dan Papua yang mempertahankan hutan mereka dari ekspansi sawit dan tambang, gerakan ekofeminisme terus menunjukkan bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan menuju keadilan ekologis dan gender.
Masa depan tidak bisa lagi diserahkan kepada sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ia harus dibangun dari bawah, dari solidaritas komunitas, dari perjuangan perempuan yang mempertahankan tanah, air, dan kehidupan itu sendiri. Sebab, ketika rahim perempuan dan rahim bumi dilindungi, kehidupan dapat terus berlanjut dengan martabat, keberlanjutan, dan harapan.
Ekofeminisme, dengan demikian, bukan hanya wacana akademik, melainkan panggilan moral dan politik. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak boleh dikorbankan demi akumulasi modal. Ia mengajak kita kembali pada prinsip dasar, yakni menjaga kehidupan, bukan menghancurkannya.
Editor: Rafidah Azis