Oleh: Figur Ahmad Brillian (Kader IMM Abduh)
Pada tanggal 11 Juni 1904, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh pembaru terbesar dalam sejarah modernnya, yaitu Syekh Muhammad Abduh. Ia bukan hanya seorang ulama asal Mesir, tetapi juga seorang intelektual, reformis sosial, dan pejuang kebangkitan umat. Kehadirannya menjadi penanda munculnya kesadaran baru umat Islam akan pentingnya pembaruan dalam bidang agama, sosial, dan politik.
Syekh Muhammad Abduh hidup pada masa ketika umat Islam terpuruk dalam kebodohan, keterbelakangan, dan penjajahan. Melihat kondisi tersebut, Abduh tampil membawa gagasan yang progresif namun tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang autentik. Ia menyerukan pentingnya berpikir rasional, pembaruan pendidikan, pemurnian ajaran agama dari praktik takhayul dan bid’ah, serta keterlibatan aktif umat Islam dalam menjawab tantangan zaman.
Islam yang Mencerahkan dan Membebaskan
Bagi Syekh Muhammad Abduh, Islam bukan sekadar ajaran ritual semata, melainkan sistem hidup yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial. Ia menegaskan bahwa ajaran Islam datang untuk memuliakan akal dan mendorong umat agar tidak larut dalam taklid buta terhadap tradisi yang sudah usang.
Dalam salah satu pemikirannya yang terkenal, Abduh menyatakan:
“Agama Islam datang untuk membebaskan akal, memerangi kebodohan, memuliakan ilmu, dan mengangkat derajat manusia.”
Pernyataan tersebut mencerminkan betapa agama, dalam pandangannya, harus berperan aktif dalam menghidupkan nilai-nilai keadilan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan. Islam harus menjadi cahaya yang menuntun, bukan membelenggu nalar dan kemajuan umat.
Kritik Sosial dan Gerakan Politik Etis
Tidak hanya dalam wacana keagamaan, Syekh Muhammad Abduh juga dikenal sebagai pengkritik keras terhadap sistem kekuasaan yang otoriter, baik dari kalangan penjajah Barat maupun penguasa lokal yang menindas rakyat. Ia dengan lantang menentang penyalahgunaan agama untuk kepentingan kekuasaan sempit. Abduh mengajarkan bahwa agama seharusnya menjadi kekuatan moral yang membela rakyat dan menegakkan keadilan sosial.
Keterlibatannya sebagai Mufti Mesir tidak lantas membuatnya tunduk pada kekuasaan. Justru, ia menggunakan posisi itu untuk memperjuangkan reformasi hukum, pendidikan, dan administrasi negara. Ia percaya bahwa hanya dengan membebaskan pemikiran dan memperkuat pendidikan, umat Islam dapat kembali bangkit dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Jejak Abduh dalam Gerakan Pembaruan KH Ahmad Dahlan
Gagasan dan perjuangan Syekh Muhammad Abduh melintasi batas geografis dan memberi inspirasi yang besar bagi tokoh-tokoh Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu tokoh yang sangat terpengaruh oleh pemikiran Abduh adalah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
KH Ahmad Dahlan mengadopsi semangat tajdid (pembaruan) Abduh dengan mendirikan sistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dan pengetahuan umum. Ia tidak hanya mengajarkan Islam sebagai dogma, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan transformatif yang hadir di tengah masyarakat, menyelesaikan persoalan umat, dan membangun peradaban.
Melalui Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan menyusun gerakan dakwah yang modern dan terorganisir, menjadikan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial sebagai instrumen dakwah. Ini adalah bukti nyata bahwa pemikiran Syekh Muhammad Abduh tidak hanya hidup dalam buku dan ceramah, tetapi juga mewujud dalam tindakan nyata dan gerakan sosial.
Relevansi Pemikiran Abduh bagi Umat Masa Kini
Lebih dari satu abad setelah wafatnya, pemikiran Syekh Muhammad Abduh tetap relevan. Di tengah tantangan zaman modern seperti krisis identitas, polarisasi keagamaan, serta penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik, warisan Abduh menjadi pengingat penting akan perlunya umat Islam untuk berpikir terbuka, kritis, dan solutif.
Ketika sebagian umat lebih sibuk memperdebatkan perbedaan kecil dalam ibadah, sementara masalah besar seperti kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan moral dibiarkan begitu saja, maka sesungguhnya kita sedang menjauh dari semangat Islam yang dibawa oleh para pembaru seperti Syekh Muhammad Abduh.
Ia pernah berkata:
“Saya melihat Islam di Eropa, tetapi tidak melihat Muslim. Saya melihat Muslim di Timur, tetapi tidak melihat Islam.”
Pernyataan ini bukan sindiran, melainkan peringatan. Abduh mengingatkan bahwa Islam bukan hanya soal identitas formal, tetapi tentang nilai, etika, dan peradaban yang nyata dalam kehidupan.
Memperingati wafatnya Syekh Muhammad Abduh bukan hanya soal mengenang masa lalu. Lebih dari itu, ini adalah momen untuk menyadari bahwa perjuangan membangkitkan umat masih belum selesai. Obor yang dahulu ia nyalakan kini harus dijaga dan diteruskan oleh generasi saat ini. Sebab ketika cahaya mulai padam, sejarah menuntut ada yang menyalakan kembali.
Syekh Muhammad Abduh telah memulai. KH Ahmad Dahlan telah melanjutkan. Kini, giliran kita untuk menjaga nyala itu tetap hidup.