Oleh: Muhammad Zaini (Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Antasari Banjarmasin)
Terlihat sangat jelas di berbagai platform media sosial hari ini, semakin banyak perempuan, termasuk yang berlatar belakang sebagai muslimah, tergoda oleh tren petantang petenteng memamerkan aurat. Mereka tampil penuh percaya diri di depan kamera, dengan gaya yang menonjolkan lekuk tubuh, riasan mencolok, atau tarian yang mengundang perhatian. Seolah-olah rasa malu, yang dahulu menjadi mahkota iman, kini hilang ditelan zaman. Apa yang dulu dianggap sebagai batasan moral, sekarang justru dipandang sebagai hambatan kebebasan berekspresi.
Sebuah pertanyaan besar pun muncul. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah semua yang mengikuti tren ini adalah orang-orang yang tidak pernah belajar? Apakah mereka tidak tahu bahwa Islam menjunjung tinggi martabat perempuan dan memerintahkan untuk menjaga aurat serta rasa malu?
Namun, faktanya berkata lain. Tidak sedikit dari mereka justru berasal dari lingkungan pendidikan Islam. Bahkan, para santriwati atau alumni pesantren yang pernah bertahun-tahun dididik dalam suasana keagamaan yang kuat pun ikut larut dalam arus ini. Ironis, sebab nilai-nilai kesopanan dan adab yang dahulu mereka pelajari tampaknya terhempas oleh budaya digital yang menormalisasi penampilan vulgar. Budaya malu kini tergeser oleh semangat pamer yang dibungkus dalam label “percaya diri” atau “kebebasan berekspresi”.
Padahal Allah SWT berfirman:
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Dan janganlah kamu bertingkah laku dan berhias seperti orang-orang Jahiliah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Ayat ini merupakan peringatan tegas dari Allah kepada perempuan beriman agar tidak meniru gaya hidup jahiliah yang menonjolkan penampilan dan membuka aurat secara berlebihan. Tindakan seperti itu bukanlah cerminan dari akhlak muslimah yang terhormat, melainkan kebiasaan kaum yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan dan kemuliaan diri.
Sangat disayangkan ketika aurat, yang seharusnya menjadi amanah untuk dijaga, malah dijadikan bahan tontonan publik. Bahkan, sebagian menjadikannya sebagai konten hiburan, ladang monetisasi, dan sumber popularitas. Ukuran keberhasilan diri bergeser menjadi angka views, followers, dan likes. Tak sedikit yang rela mempertaruhkan kehormatan dan marwahnya hanya demi validasi dari orang asing di dunia maya. Padahal, validasi dari Allah jauh lebih utama daripada pujian yang fana dari dunia.
Yang lebih memprihatinkan, banyak di antara mereka tidak sadar bahwa setiap unggahan digital yang menyingkap aurat tidak serta-merta menghilang. Selama tidak dihapus, ia akan terus beredar dan dilihat oleh banyak mata, termasuk yang dipenuhi syahwat. Apa yang dianggap sepele di dunia maya bisa menjadi dosa berkelanjutan yang berat hisabnya di akhirat kelak.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
الحياءُ من الإيمانِ، والإيمانُ في الجنةِ، والبذاءُ من الجفاءِ، والجفاءُ في النارِ
“Malu itu bagian dari iman. Iman itu di surga. Sedangkan perkataan kotor dari kekasaran, dan kekasaran itu di neraka.” (HR. Tirmidzi, no. 2009)
Sifat malu adalah benteng dan perisai bagi seorang perempuan. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan simbol kekuatan iman. Ketika rasa malu mulai hilang, batas antara yang halal dan haram pun mulai memudar. Dan saat seorang perempuan kehilangan rasa malunya, maka kehormatan dirinya menjadi sangat rentan untuk direnggut oleh budaya hedonisme dan eksploitasi tubuh.
Al-‘Allamah ‘Abdurrahman as-Sa’di dalam Taisīr al-Karīm mengatakan:
فإن الحياء من الأخلاق الفاضلة، وخصوصا في النساء
“Sesungguhnya malu termasuk akhlak yang mulia, terutama bagi kaum wanita.”
Sedangkan Ibn al-Qayyim dalam ad-Dā’ wa ad-Dawā’ menjelaskan betapa bahayanya pandangan mata sebagai awal dari segala fitnah. Ia berkata:
وَلَمَّا كَانَ مَبْدَأُ ذَلِكَ مِنْ قِبَلِ الْبَصَرِ…
“Karena permulaan semua itu berasal dari pandangan, maka perintah untuk menundukkannya didahulukan daripada menjaga kemaluan. Sebab berbagai peristiwa besar bermula dari pandangan, sebagaimana api besar berasal dari percikan kecil. Maka dimulai dari pandangan, lalu lintasan hati, kemudian langkah, lalu akhirnya menjadi dosa.”
Perempuan yang menjaga auratnya bukan berarti ia tidak percaya diri. Justru itulah bentuk kepercayaan diri yang sejati. Ia percaya bahwa kemuliaan dirinya tidak diukur dari pujian manusia, melainkan dari pandangan Allah. Ia yakin bahwa kehormatan bukanlah sesuatu yang bisa dijual demi perhatian dunia, tetapi harus dijaga sebagai amanah keimanan.
Untukmu yang Menjaga Aurat dan Malumu
Bagi para muslimah yang tetap istiqamah menjaga auratnya, menundukkan pandangan, dan tidak mengikuti tren pamer tubuh di media sosial, engkaulah perempuan yang mulia di sisi Allah. Meskipun engkau tidak viral, tidak memiliki banyak pengikut, dan tidak dipuja-puji manusia, langkahmu sedang dicatat oleh para malaikat. Keteguhanmu mungkin senyap, tapi sangat berharga di langit.
Saat dunia memandang aurat sebagai gaya, engkau menjadikannya sebagai kehormatan. Ketika yang lain menari di depan kamera, engkau memilih tetap kokoh menjaga diri dari sorotan yang menggoda. Engkau tidak silau oleh popularitas digital karena cahaya iman di hatimu jauh lebih terang daripada semua sorotan dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ
“Sesungguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah, melainkan Allah akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad, no. 20738)
Allah tahu betapa beratnya ujian zaman ini. Ia Maha Melihat setiap penolakanmu terhadap bujukan dunia, setiap klik yang kau tahan, setiap pakaian syar’i yang kau pilih di tengah tren aurat terbuka. Allah tahu air matamu saat engkau merasa sendirian dalam memilih jalan kebaikan. Tapi ketahuilah, engkau tidak sendiri. Banyak perempuan salehah yang diam-diam menempuh jalan yang sama. Dan yang paling penting, Allah bersamamu.
Tak perlu takut dianggap kolot, ketinggalan zaman, atau tidak gaul. Yang lebih penting adalah rida Allah, bukan tepuk tangan manusia. Auratmu bukan untuk umum. Ia adalah amanah. Malumu bukan kelemahan. Ia adalah benteng dari kehinaan. Dan kesetiaanmu pada nilai-nilai iman hari ini akan menjadi saksi di hadapan Allah pada hari yang tak ada naungan selain naungan-Nya.
Teruslah istiqamah. Dunia mungkin tak mengenalmu, tapi Rabb-mu mencintaimu.
Editor: Rafidah Azis