Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Singkirkan Nahkoda Buta Arah, Selamatkan Ikatan!

Figur Ahmad Brillian by Figur Ahmad Brillian
Juli 4, 2025
in Esai, Narasi
0
Singkirkan Nahkoda Buta Arah, Selamatkan Ikatan!
40
SHARES
236
VIEWS

Oleh: Figur Ahmad Brillian (Kader PK IMM Abduh FAI UMS)

Kapal sebesar ini seharusnya mampu menantang gelombang, bukan malah terombang-ambing tanpa tujuan. Bukan karena tak ada layar, bukan karena tak ada awak, tapi karena yang memegang kemudi justru kehilangan arah. Nahkoda yang buta arah adalah bahaya paling besar bagi kapal apa pun. Dan jika tidak segera digantikan, kapal ini bukan hanya tersesat, tapi akan karam bersama semua yang berada di dalamnya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Banyak yang mengira krisis dalam ikatan lahir dari tekanan luar. Padahal sering kali, krisis lahir dari dalam: dari kepemimpinan yang tidak mendengar, dari keputusan yang diambil secara sepihak, dari ego yang mengalahkan akal sehat. Ketika satu orang merasa berhak menentukan semuanya dari arah pelayaran, siapa yang bicara, hingga siapa yang dibungkam, di saat itulah ikatan berubah menjadi milik pribadi.

Jabatan bukan ruang takhta. Pemimpin bukan penguasa. Tapi ketika jabatan dijalankan seperti kursi kekuasaan mutlak, maka yang tersisa hanyalah struktur kosong tanpa jiwa. Musyawarah menjadi formalitas. Forum hanya simbol. Dan keputusan tinggal pelengkap untuk melegitimasi ambisi personal.

Prinsip kolektif kolegial, yang menjadi jantung dari ikatan ini, dihancurkan secara perlahan oleh gaya kepemimpinan satu arah. Padahal sejak awal, gerakan ini dibentuk untuk berpikir kolektif, bertindak bersama, dan mendahulukan kemaslahatan bersama, bukan mengkultuskan individu. Seperti yang ditegaskan oleh Haedar Nashir:

“Muhammadiyah dibangun bukan oleh kepemimpinan karismatik personal, tetapi oleh kolektivitas yang rasional dan beretika.”

Lalu apa jadinya jika pemegang jabatan justru menjadi pusat kekacauan? Ia tidak memimpin, tapi mengendalikan. Ia tidak membangun, tapi memonopoli.

Dan ketika muncul suara peringatan, saat ada yang mencoba mengoreksi arah, yang terjadi bukan dialog, tetapi pembungkaman. Yang menyuarakan kebenaran dicap pembangkang. Yang meminta musyawarah dianggap pembuat gaduh. Ini bukan ikatan yang hidup, ini tirani yang disamarkan.

Allah Swt. telah mengajarkan dalam Q.S. Asy-Syura: 38:
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.“

Maka saat musyawarah ditiadakan, dan keputusan hanya datang dari satu mulut, itu bukan lagi amanah, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip ilahiah dan jati diri ikatan.

Krisis hari ini bukan hanya soal arah, tapi soal keberanian untuk menghentikan kehancuran yang diakibatkan satu tangan yang merasa paling benar. Kepemimpinan seperti itu bukan hanya gagal, tapi berbahaya. Dan tak ada jalan lain: harus disingkirkan.

Menyelamatkan ikatan tidak bisa ditunda. Kapal harus dibersihkan dari komando tunggal yang melawan arah angin kebenaran. Kepemimpinan bukan soal gengsi, tapi tentang tanggung jawab. Jika itu tidak dipenuhi, maka layak untuk dilengserkan.

Singkirkan nahkoda buta arah. Bangun kembali kolektif kolegial. Dan selamatkan ikatan sebelum karam bersama ego dan ambisi segelintir orang.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: kepemimpinanKolektifKolegialMuhammadiyah
Previous Post

Petantang Petenteng Pamer Aurat di Medsos: Di Mana Rasa Malu Itu Kini?

Next Post

KH. Mustain Nasoha: Muthawwif Sebaiknya Menguasai Empat Mazhab Fiqih Haji Dan Umrah

Figur Ahmad Brillian

Figur Ahmad Brillian

Mahasiswa HES FAI UMS

Next Post
KH. Mustain Nasoha: Muthawwif Sebaiknya Menguasai Empat Mazhab Fiqih Haji Dan Umrah

KH. Mustain Nasoha: Muthawwif Sebaiknya Menguasai Empat Mazhab Fiqih Haji Dan Umrah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.