Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Maraknya Kasus Bullying Di Era Digitalisasi

RedaksiKS by RedaksiKS
November 11, 2023
in Akhlak
0
beretika media sosial

Kalimahsawa.id

36
SHARES
211
VIEWS

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa bullying adalah suatu perilaku kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh pihak individu atau kelompok. Sedangkan makna digitalisasi adalah masa dimana berkembangnya kehidupan yang serba digital.

Pada era digital sekarang ini, marak terjadi banyak sekali kasus bullying di berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan kalangan orang dewasa. Bentuk dari kasus bullying ini terbagi menjadi dua macam, yaitu dalam segi fisik dan non fisik. Meski demikian, keduanya memiliki pengaruh yang sangat signifikan. Dampaknya mulai dari kesehatan fisik, mental, sosial, dan lain sebagainya.

TulisanTerkait

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Ketika Anak Membangkang, Siapa Sebenarnya yang Harus Disalahkan?

Validasi Manusia vs Ridha Allah: Kita Lagi Mengejar yang Mana?

Kasus bullying seperti ini di representasikan pada ayat al-Qur’an surat al-Hujurat (49) ayat 11 yang berbunyi :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.

Menurut tafsir kemenag, dalam metode kajian Tafsir Tahlili. Ayat ini menjelaskan tentang larangan bagi kaum mukmin untuk saling mencela di antara sesama. Baik di kalangan perempuan maupun laki-laki. Karena mungkin mereka yang di cela, derajatnya lebih mulia dan terhormat di bandingkan dengan orang yang mencela.

Allah melarang perbuatan mencela karena kaum mukmin adalah saudara seiman yang merupakan satu kesatuan yang terjalin dalam ukhuwah Islamiyah. Dalam ayat tersebut Allah juga melarang untuk memanggil dengan panggilan yang buruk di antara sesama. Sesuai dengan hadis riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari an-Nu‘mān bin Basyīr:

مَثلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ. (رواه مسلم وأحمد عن النعمان بن بشير)

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula. (Riwayat Muslim dan Aḥmad dari an-Nu‘mān bin Basyīr)

Ibnu Jarīr meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās. Beliau dalam menafsirkan ayat ini, menceritakan tentang kisah seorang laki-laki yang masa mudanya melakukan perbuatan buruk, lalu ia bertobat. Maka, Allah melarang siapa pun untuk mengungkit lagi keburukannya. Karena itu dapat menimbulkan perasaan yang tidak baik. Maka dari itu, Allah melarang memanggil dengan panggilan dan gelar yang buruk.

Di lihat dari beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini, kasus bullying lebih banyak terjadi di kalangan para anak sekolah. Di mana para anak-anak ini melakukan tindak kekerasan fisik pada temannya hingga terluka. Bahkan, lebih parahnya lagi sampai terjadi kasus pembunuhan yang pelakunya adalah para siswa yang masih di bawah umur.

Dalam kasus seperti ini, sangat di pertanyakan bagaimana nasib masa depan para generasi muda. Kasus digitalisasi sangat memengaruhi tingginya kasus bullying. Cepatnya arus informasi dan semakin berkembangnya kemajuan teknologi menjadi faktor utama.

Jika di kaitkan dengan surah al-Hujurat ayat 11, kasus bullying yang terjadi pada zaman sekarang lebih di kategorikan dalam tindakan kekerasan fisik. Salah satu pengaruh terjadinya kasus bullying di sebabkan oleh rasa sakit hati yang di rasakan oleh pelaku.

Penyebab sakit hati tersebut bisa disebabkan oleh kata-kata yang tidak pantas diucapkan ataupun perilaku yang tidak mengenakkan hati diantara salah satu pihak. Sehingga, membuat pelaku memiliki rasa dendam dan langsung melakukan kekerasan pada korban tanpa berpikir lebih jauh tentang dampaknya nanti di masa depan. Pelaku kekerasan ini bisa dilakukan oleh individu atau kelompok.

Seperti kasus seorang anak di Gresik yang matanya di tusuk dengan tusuk bakso oleh temannya, pelajar SMK keroyok teman di Cimahi, perundungan adik kelas di Bekasi, siswa SD di Sukabumi yang di bully hingga patah tulang, dan masih banyak lagi.

Melihat tingginya kasus bullying di era digitalisasi sekarang, solusi untuk mengatasi kasus bullying adalah dengan mengadakan edukasi bahaya negatif kasus bullyingdi berbagai kalangan. Khususnya, bagi para anak-anak yang masih di bawah umur. Edukasi ini dapat di berikan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah pengawasan kepada anak-anak pada saat menggunakan gadget atau mengawasi tontonan yang dilihat oleh anak-anak. Karena pengaruh media sosial sangat memengaruhi tingkat perkembangan motorik anak.

Untuk kasus bullying di Indonesia sendiri. Dapat di bantu oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang memberikan perlindungan dan keamanan bagi setiap anak agar anak-anak di Indonesia mendapatkan hak dan wewenangnya.     

Solusi bullying bagi anak zaman now yaitu dengan cara membalas balik apa yang dilakukan (change the game). Akan tetapi, cara membalasnya dengan cara yang baik yaitu dengan senyuman yang kalem dan santai.

Dari kasus di atas, kita dapat terinspirasi dari kisah Rasulullah yang selalu di ejek, di hina, dan di caci oleh kaumnya. Akan tetapi Rasulullah menanggapinya dengan santai, tidak di masukkan ke hati. Maka, kita sebagai anak muda berusaha menyikapi kasus bullying ini dengan cara tidak mudah terbakar oleh api amarah. Salah satunya langkah yang dilakukan adalah berusaha menyelesaikan semua masalah dengan solusi yang terbaik.

Penulis: Iftitari Itsna Syayyidah (Mahasiswa UIN Surabaya)

Terkait

Previous Post

Hilangnya Semangat Woman Support Woman dalam Gerakan

Next Post

Nilai Tasawuf Modern Hamka untuk Generasi Muda

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Buya Hamka

Nilai Tasawuf Modern Hamka untuk Generasi Muda

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.