Gen Z seringkali dikaitkan dengan julukan-julukan yang berkaitan dengan kesehatan mental. Bahkan tak sedikit yang menjuluki “si paling mental health”. Kesehatan mental memang penting diperhatikan, sebagai makhluk sosial kita memang harus tanggap terhadap kasus mental health yang ada di sekitar kita. Karena orang-orang yang memiliki problem mental tersebut memang butuh support dari orang disekelilingnya.
Namun tak jarang juga justru mental illness dijadikan sebagai trend. Sungguh miris memang!. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini dimana ada seorang mahasiswi salah satu kampus yang melakukan aksi bunuh diri namun justru mendapat banyak dukungan. Bahkan banyak ditemui komentar-komentar seperti “Tunggu aku ya N***” “N*** kenapa ngga ajak aku?” dan banyak komentar serupa yang menunjukkan keinginan menyusul si mahasiswi tersebut.
Lalu pada kasus lain juga ditemukan anak-anak SMP yang melalukan ‘barcode’ / tindakan melukai diri sendiri dengan menyayat tangan dengan menggunakan cutter/jarum. Tindakan Barcode ini biasa di lakukan oleh penderita depresi dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Namun mirisnya para siswa SMP ini melakukan hal itu tanpa tahu tujuan dan manfaat melakukan hal tersebut. Menurut penuturan salah satu guru para siswa melakukan hal tersebut hanya karena mengikuti trend yang ada di sosial media.
Mental illness atau gangguan mental menjadi salah satu problem yang di alami oleh anak muda saat ini atau yang sering di sebut dengan istilah Gen Z. Gangguan seperti depresi hingga bipolar tak jarang terdengar dari anak-anak Gen Z. Lantas apa penyebab hal tersebut?. Mental illness dapat di sebabkan oleh beberapa hal seperti adanya trauma yang signifikan, faktor genetik, kehilangan pekerjaan, atau kematian orang terdekat, dan lain sebagainya.
Lantas bagaimana korelasi antara mental illness terhadap kajian tasawuf?. Pada dasarnya kajian tasawuf dan psikologi serupa namun tidak sama. Hamka menyatakan bahwa tasawuf merupakan aktivitas membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi pekerti, menekan kerakusan, dan memerangi nafsu yang melebihi keperluan diri. Hamka menganjurkan membersihkan diri dengan berbagai latihan diri.
Beberapa cara bertasawuf di suguhkan oleh Hamka, di antaranya dengan zuhud, taubah, sabar, tawakal, qana’ah, rela, wara’, dan sebagainya. Sedangkan kajian psikologi positif tersebut di antaranya: gratitude (kebersyukuran), forgiveness (pemaafan), happiness (kebahagiaan), kindness (kebaikan), resilience (resiliasi), patience (kesabaran) dan masih banyak lagi.
Jauh sebelum munculnya psikologi positif pembahasan mengenai hal tersebut telah di kaji oleh ilmuwan muslim. Seperti halnya Al-Ghazali yang mengkaji tantang kesabaran dan kebersyukuran secara mendalam dalam karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddin. Juga dalam bukunya yang berjudul Kimyatusy-Sya’adah (kimia kebahagiaan), yang membahas topik kebahagiaan.
Demikian juga dengan kajian mengenai kebaikan hati dan pemaafan yang telah terdapat dalam kajian tasawuf. Sebutlah akhlakul karimah (akhlak terpuji) yang meliputi: sabar (shobr) tanpa pamrih (ikhlas), menerima dengan tulus (ridho), berserah diri (tawakkal), dan penuh harapan (roja’).
Salah satu cara dalam tasawuf yang dapat di gunakan untuk mengatasi mental illness, yakni dengan konsep qana’ah. Konsep qana’ah Hamka menuntut adanya keikhlasan dan kerelaan hati dalam menerima apa yang telah di karuniakan Tuhan dengan selalu berusaha secara maksimal. Selain itu, seseorang juga di tuntut untuk bersabar apabila usaha yang di lakukan tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.
Begitupun sebaliknya, apabila usaha yang di lakukan membuahkan hasil yang baik. Maka seseorang harus bersyukur kepada Tuhan atas karunia yang telah di berikan tersebut. Dari paparan di atas memang kesehatan mental penting untuk di perhatikan dan penting bagi kita untuk memilih dan memilah trend apa yang baik untuk di ikuti. Sebagai pengguna media sosial penting adanya filter dari diri sendiri untuk bisa mendapatkan manfaat dari perkembangan teknologi tersebut.
Daripada mengikuti trend barcode yang jelas menyakiti diri sendiri. Atau bahkan ingin menyusul orang yang telah bunuh diri bahkan memuji seperti pahlawan. Akan lebih baik jika konten di sosial media di gunakan untuk memberikan afirmasi positif. Pada gilirannya menjadikan kita lebih positif dalam menghadapi suatu masalah.
Dan dengan menerapkan ilmu tasawuf seperti qana’ah dapat membantu agar lebih legowo dalam menghadapi hidup. Bagi kamu yang merasa sedang merasa berat menghadapi masalah. Ingatlah kamu hebat sudah berjuang hingga saat ini, gapapa untuk istirahat dulu dan sandarkan semua masalahmu pada Tuhan. Kamu hebat, kamu berharga, aku bangga sama kamu, terimakasih sudah bertahan hingga saat ini!
Penulis : Ika Zulfa Fitriana Sari (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)