Konflik adalah konsekuensi logis dari adanya perbedaan dalam suatu lingkup masyarakat. Dalam menghadapi konflik, kita bisa melakukan mitigasi, pun ketika konflik tersebut telah terjadi, kita bisa melakukan manajemen konflik agar konflik tersebut tidak berkelanjutan dan menimbulkan permasalahan yang lebih besar.
Dalam konteks keindonesiaan hal itu sangat lumrah terjadi. Tercatat ada banyak sekali konflik yang terjadi dengan berbagai macam latar belakangnya. Ras, suku dan agama adalah tiga hal yang seringkali menjadi pemicu timbulnya ketegangan antar masyarakat. Perbedaan di negeri ini adalah suatu kemestian dan tak dapat dihilangkan, sekalipun negara memaksakan hal itu.
Keniscayaan ini haruslah dimaklumi dan ditoleransi sehingga nantinya konflik itu tidak larut terjadi. Karena jika kita terus menerus membela egoisme kelompok, bisa saja negara ini terpecah-pecah menjadi beberapa negara independent yang tentu saja tidak kita inginkan.
Pendahulu kita sudah membuat sebuah falsafah kehidupan bangsa yang mampu mengakomodir segala kepercayaan dan pandangan hidup dari berbagai elemen masyarakat yang menyatakan dirinya sebagai warga negara Indonesia. Pancasila yang dirumuskan sebagai dasar-dasar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan berbegara seharusnya mampu diterapkan masyarakat, namun mengapa konflik akibat ras, suku dan agama masih sering terjadi?
Perbedaan Adalah Sebuah Kesalahan
Masih banyak orang yang berpandangan bahwa perbedaan adalah suatu hal yang seharusnya tidak ada. Masyarakat yang demikian belum menyadari keragaman yang ada sehingga belum mampu bersikap ketika dihadapkan dengan fakta tersebut.
Sejatinya perbedaan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebuah hasil dari adanya keragaman tersebut. Jika kita terus menerus mengartikan perbedaan sebagai sebuah kesalahan maka konflik sudah pasti akan terus terjadi dan terulang.
Seharusnya pandangan ini segera dibenahi sehingga dapat meminimalisir narasi-narasi perpecahan yang keluar dari beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab. Pandangan yang berbeda menjadi sebuah kewajaran dalam kehidupan, alergi terhadap perbedaan secara tidak langsung sudah menyalahi keniscayaan tentang sebuah keragaman.
Sikap Mayoritarianisme Yang Tak Kunjung Usai
Salah satu penyebab dari berbagai konflik yang ada adalah sikap mayoritarianisme di beberapa lapisan masyarakat. Sesuai sebutannya sikap ini sering di temukan di beberapa wilayah yang di dalamnya ada satu kelompok yang menguasai. Mental mayoritas yang berkuasa ini seringkali mengahasilkan sikap diskriminatif terhadap golongan lain yang minoritas.
Contoh kasus bisa kita jumpai bahkan di lingkungan terdekat kita. Sikap diskriminasi umat Hindu atas Umat Islam di India, Diskriminasi umat Islam atas Kristen di Indonesia, Diskriminasi Umat Budha ats Umat Islam di Myanmar. Ini menunujukkan bahwa sikap Mayoritarianisme tidak hanya di lakukan oleh umat tertentu akan tetapi semua bisa melakukannya.
Jika kita berkaca pada prinsip demokrasi, seharusnya kita bisa menerapkannya untuk mengatasi hal ini. Prinsip demokrasi mengharuskan mayoritas melindungi hak-hak minoritas. Dalam demokrasi sudah menjadi kewajaran suara terbanyak yang akan menang, oleh karena itu suara minoritas harus tetap di lindungi tanpa melakukan tindakan-tindakan yang bersifat repretif dan diskriminatif.
Memperbaiki Pandangan Terhadap Perbedaan
Agaknya perlu edukasi terhadap pandangan-pandangan yang masih mengatakan bahwa perbedaan adalah sebuh kesalahan. Justru persatuaan itu akan hadir jika ada perbedaan. Perbedaan antar manusia adalah fakta antropologis yang tidak dapat di bantah.
Oleh karenanya, ketika kita menjalin sebuah hubungan dengan orang lain maka akan terciptalah sebuah sistem nilai secara tidak langsung, nilai inilah yang harus di taati dalam kehidupan. Agama Islam mengajarkan kita agar senantiasa memiliki pandangan hidup yang egaliter, sehingga tindakan-tindakan tadi tidak akan pernah terjadi.
Pancasila yang di maknai sebagai falsafah negara juga harus di jadikan acuan dasar dalam menjalankan hidup. Sila-sila itu bukan hanya menjadi teks yang selalu di baca dalam setiap upacara bendera, akan tetapi mengalir dalam setiap sikap dan tindakan kita sebagai warga Indonesia.
Hukum-hukum juga harus di tegakkan, seringkali penegakan hukum ini bersifat tebang pilih sesuai keinginan dan nafsu aparat. Belum lagi penegak hukum yang condong atas suatu kepentingan golongan sehingga penengakkannya terkesan tidak fair dan jauh dari kata adil. Kembali saya ingatkan bahwa perbedaan akan menjadi indah bila kita bisa menerimanya, bukannkah pelangi-pelangi itu muncul dengan beragama warna?
Editor : Izzul Khaq