Di era modern saat ini, kemajuan telah menjadi bagian dari kehidupan. Modernisasi tentunya tidak luput dari usaha dan kerja keras manusia dalam mewujudkan kehidupan yang sejahtera. Tentu, dibutuhkan sumber daya manusia yang dapat mengimbangi kemajuan-kemajuan tersebut. Salah satu konsep yang dapat menginspirasi manusia di zaman sekarang adalah konsep insan al-kamil.
Konsep insan al-kamil dalam pemikiran beberapa tokoh memiliki cara pandang yang berbeda. Seperti pada Al-Jilli dengan konsep kesufiannya dan Muhammad Iqbal dengan pemikiran filsafatnya. Bagaimana menjadi muslim yang berwawasan luas seperti konsep dari Muhammad Iqbal namun tetap rendah hati dan tidak melupakan ajaran agamanya seperti konsep Al-Jilli. Keduanya dapat dijadikan sebagai bekal manusia dalam menghadapi problematika di era modern ini dan bagaimana kiat menjadi manusia yang kreatif, inovatif, produktif, serta memiliki attitude dan manner yang berkualitas.
Konsep Insan Kamil Abdul Karim Al-Jilli dan Muhammad Iqbal
Insan al-kamil secara bahasa memiliki arti manusia sempurna. Konsep insan al-kamil digagas oleh tokoh Sufi yang bernama Ibnu Arabi, namun tidak ada karya yang menjelaskan bagaimana konsep dari insan al-kamil secara menyeluruh. Konsep insan al-kamil Ibnu Arabi dikembangkan oleh muridnya yakni Abdul Karim al-Jilli. Al-Jilli menjelaskan konsep insan al-kamil dengan merujuk pada akhlaq Nabi Muhammad SAW yang disebut sebagai manusia sempurna atau ideal.
Nabi Muhammad SAW tidak hanya dipahami sebagai utusan Allah SWT saja, namun juga sebagai nur Ilahi atau nur Muhammad yang memancarkan sifat-sifat dari Allah SWT. Allah SWT memiliki asma’ wal sifat yang dapat diterapkan oleh manusia. Seperti sifat pengasih, penyayang, pemaaf dan lain sebagainya. Bila manusia merealisasikan sifat tersebut di dalam kehidupannya maka ia telah mencapai tingkatan awal dari tahapan insan al-kamil yang disebut dengan tingkatan al-bidayah.
Selanjutnya manusia akan berada pada tingkatan at-tawasut di mana pengetahuan yang didapatkan semakin luas seperti diperlihatkannya pengetahuan tentang hal gaib oleh Allah SWT dan ditutup dengan tingkatan terakhir yakni al-khitam yang mana manusia telah merealisasikan citra Allah SWT pada dirinya secara utuh. Tidak sembarang manusia dapat sampai pada tahap ini, sebelum sampai pada tahap berikut manusia perlu melakukan serangkaian produk dari tasawuf seperti mahabbah, zuhud, wara’, dan lain-lainnya yang diterapkan pada kehidupan sehari-hari para Sufi.
Konsep insan al-kamil juga dibahas oleh tokoh terkemuka yang gagasannya juga berangkat dari insan al-kamil Ibnu Arabi. Muhammad Iqbal. Tokoh filsafat Islam yang memiliki gagasan teori tentang insan al-kamil dalam pandangan filsafatnya. Insan al-kamil versi Muhammad Iqbal adalah manusia yang di dalam dirinya memiliki wawasan, kekuatan, dan merupakan makhluk moralis yang dibekali anugerah kemampuan rohani dan agamawi.
Di bumi, insan al-kamil dianggap sebagai wakil Tuhan yang perlu memiliki kemampuan intelektual, imajinasi, pengaturan emosional, akal budi serta pengetahuan agama yang berkembang sesuai zaman agar tidak memperlakukan agamanya seperti dogma yang kuno, namun dapat mengemas agama dengan kreatifitas seiring dengan kemajuan zaman.
Menurut Muhammad Iqbal, dalam membangun insan al-kamil yang kuat dibutuhkan keberanian dalam membela kebenaran dengan menerima perubahan-perubahan yang terjadi serta memiliki cita-cita untuk masa depan agar kehidupannya tidak stagnan. Manusia juga perlu memiliki cinta yang dapat menumbuhkan keinginan untuk berusaha mewujudkan cita-citanya dengan penuh perjuangan. Dalam mewujudkan cita-cita, manusia pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Maka dari itu pentingnya menjaga toleransi dan sosialisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama. Manusia harus senantiasa bersikap zuhud dan tidak mengharapkan imbalan dari dunia.
Dengan zuhud manusia dapat menggunakan dunia sebagai alat dan tempat untuk mencapai kemuliaan. Jadi, dalam menghadapi modernisasi manusia tidak boleh menutup semua pandangannya dengan alasan tidak sesuai dengan ajaran agama, namun dengan modernisasi manusia dapat membawa agamanya menuju pembaharuan agar menjadi fleksibel disetiap zaman.
Bagaimana Menghadapi Modernisasi dengan Konsep Insan Kamil
Dari berbagai gagasan tokoh mengenai insan al-kamil, jika ditarik dari segi fungsional terdapat hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam menyeimbangkan kehidupan di era modern ini. Pertama, kekuatan intelektual. Manusia dianugerahi oleh Allah SWT akal sempurna yang dapat digunakan untuk berfikir. Berfikir dalam memecahkan suatu masalah, maka secara tidak langsung akan menumbuhkan kreatifitas manusia.
Kedua, keseimbangan finansial. Dalam melakukan suatu pekerjaan manusia dituntut untuk totalitas dalam menjalankannya demi memenuhi kebutuhan hidup. Dengan berbekal intelektual serta pengalaman hidup, manusia akan mudah dalam menyeimbangkan finansialnya. Bagaimana mengatur waktu serta keuangan yang baik agar setiap detik dalam hidupnya tidak terbuang sia-sia.
Ketiga, keseimbangan estetika dan etika. Keindahan diperlukan manusia sebagai sarana untuk bersyukur. Dengan estetika, manusia dapat menyadari nilai-nilai keindahan yang terdapat di kehidupannya. Sama pentingnya dengan etika, manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk bertindak dalam situasi tertentu.
Keempat, keseimbangan sosial. Sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, maka diperlukan interaksi antarsesama yang baik dengan memperluas relasi agar memiliki pengetahuan yang terbuka. Dalam bersosialisasi, diperlukan bekal pengetahuan mengenai etika dan penerapannya. Etika adalah hal yang paling mendasar yang dapat mempengaruhi interaksi sosial seperti bagaimana tindakan yang diambil dalam bersosialisasi.
Kelima, emosional. Adalah respon tubuh dalam mengadapi situasi tertentu. Emosional merupakan hal yang lumrah dan setiap manusia pasti memilikinya. Hal yang membedakan emosional dari setiap manusia adalah bagaimana cara mereka mengekspresikan emosional tersebut. Seperti insan al-kamil al-Jilli yang mempraktekkan qana’ah, zuhud, dan wara’ yang berkaitan dengan bagaimana mengontrol emosional manusia. Yang terakhir adalah keseimbangan spiritual.
Manusia dibentuk oleh tubuh, pikiran, emosi dan spirit. Spiritualitas manusia berkaitan dengan perasaan, suara hati, serta intuisi manusia. Manusia dapat memilih tindakan mana yang ia ambil sesuai dengan suara hati mereka. Spiritualitas dapat membantu manusia dalam memahami nilai personalnya, dengan nilai personal dapat membedakan manusia dalam hasratnya membantu alam dan makhluk hidup lainnya.
Penulis : Eka Ananda Sari (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)
Editor : Izzul Khaq