Aqidah secara bahasa artinya ikatan. Sedangkan secara istilah aqidah artinya keyakinan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Aqidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan di dalam hati seseorang.
Menurut pandangan penulis, tak sedikit orang yang mengarungi hidup tanpa berlandaskan Aqidah yang kuat. Mereka hidup dalam alam pikirnya sendiri. Berilusi dan berhalusinasi merasa memegang “kompas” sebagai penentu arah yang ditempuhnya.
Padahal hidup tanpa aqidah mengakibatkan kehancuran dan kesesatan. Maka dari itu aqidah adalah hal penting karena aqidah berdasarkan kepada ajaran Islam itu sendiri, yang bersumber pada Alquran dan hadits.
Aqidah bukanlah barang yang dapat diperjualbelikan, atau bukan pula sebagai pakaian yang dapat dipakai dan dilepas. Ia adalah pokok pikiran dan idealisme. Sumber letupan jauh di dalam lubuk jiwa. Ia dapat memberi kepuasan pada perasaan dan keresahan hati. Jawaban atas segala khayalan dan ilusi yang didapatkan dari lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Memahami Teori Penanggulangan Kondisi Kritis Aqidah
Pada abad modern sekarang ini, kekufuran adalah kesan nyata, juga merupakan warna kehidupan dominan dalam peradaban modern. Hal ini terjadi akibat pergulatan antar ilmu pengetahuan dengan agama. Antara alam material dengan spiritual. Antara kehidupan dunia yang bisa dinikmati saat ini dengan kehidupan akhirat yang baru akan dinikmati sesudah mati dan di kehidupan berikutnya.
Inilah pergulatan nyata di era modern sekarang. Manusia dengan ilmu pengetahuan dapat mengungkapkan ketidaktahuan. Manusia dengan agama dapat menimbulkan kejernihan hati. Bilamana manusia dengan kejernihan hatinya dapat mengaktualisasikan ilmu pengetahuan dunia. Maka pastilah ilmu yang dikuasai adalah ilmu yang mensejahterakan kehidupan.
Keangkuhan terhadap kemampuan menjadikan pemiliknya merumuskan segala hal tanpa kontrol. Dari hal ini meredupkan iman dalam hati, menjadikannya statis. Sampai agama terputus dalam jiwa, baginya tidak ada hal kecuali sesuatu yang nyata, hanya yang langsung terasa atau dapat digali oleh Indra.
Suatu mazhab hidup yang membuat gelisah dan menimpa generasi muda terpelajar, menggoyangkan keimanan mereka pada Allah, pada rasa percaya diri dan pada hukum-hukum serta ajaran-ajaran agama. Penulis hanya ingin mengajak orang lain untuk berefleksi akan masa depan orang banyak.
Sungguh, bilamana agama ditarik dari akal dan perasaan penganut setianya, itu sangat berbahaya. Karena makna inti dari ajaran ini dikikis dari umatnya secara moral dan spiritual. Karenanya seperti yang disebutkan di atas bahwa, saya tidak menganut mazhab yang membingungkan, sebagaimana yang kita lihat atau dengar ataupun baca. Adapun beberapa di kalangan remaja yang menyebarkan ajakan dari beberapa pendapat tentang agama, cenderung malah mengarah pada jebakan dan akan membuat kita menjauh dari aqidah dan juga ajaran agama.
Hal tersebut kita pandang dari satu sisi permasalahan dan dipertimbangkan dengan pertimbangan dan bijaksana, dan jauh dari letupan emosi. Bahkan pendapat itu merupakan ajakan pada arah kebaikan dengan argumentasi yang baik. Kenyataan yang sebelumnya merupakan keraguan, lalu berubah menjadi suatu keyakinan dengan mempertimbangkan dan menempatkan masalah pada hukum sebab dan akibat. Begitulah kiranya metode penelitian ilmiah yang berlaku saat ini untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan dan meyakini hasilnya.
Tentunya tidaklah wajar, bila akal sehat menginginkan pembuktian dengan cara dan upaya dalam mencari jawaban tentang hakikat maha besar “Allah Penguasa Alam”. Tidak ada suatu kekuatan yang dapat mencegah kekuatan akal pikiran dalam mencari Allah dengan cara-cara tersebut. Begitu pula tidak ada kekuasaan yang mampu mencegah akal pikiran, menerima paham-paham yang tidak berlandaskan dalil-dalil nyata yang dapat dirasa.
Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki kaum muda sekarang adalah wajar. Karena hal itu adalah gejala keraguan atau kekufuran yang tampak dan dikesampingkan oleh sebagian pemuda. Pada prinsipnya ia bukanlah sumber bahaya. Tapi mungkin jalan paling aman menurut mereka untuk mencapai Tuhan yang mereka yakini wujudnya. Juga mampu menghangatkan dada dengan keimanan yang meneranginya. Dengan demikian pencarian pun dapat berlanjut, begitu pula penelitian dan perhatian mereka.
Tugas dan tujuan yang harus kita perhatikan adalah mengawasi mereka dengan raja rasa curiga, menuntun mereka yang kebingungan. Membuat rambu-rambu pada jalan yang akan mereka lalui. Kalau tidak demikian, para remaja itu akan terlempar ke arah syirik.
Seandainya hal itu sampai terjadi, maka akan tampak jurang pemisah yang dalam di antara mereka dan orang-orang yang dapat memberikan kalimat-kalimat haq. Tanpa disadari mereka terjebak dalam posisi yang berlawanan. Berpegang teguh pada apa yang mereka yakini, dan mereka mengayunkan langkah dengan kehendak hatinya ke arah yang jauh dan lebih sesat. Sehingga untuk memberi pertolongan pun merupakan suatu tantangan tersendiri.
Alangkah baiknya kaum intelektual muda itu diberi hal-hal yang jelas dan dapat memberi kepuasan kepada mereka akan jawaban dan pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang ada di benaknya. Baik tentang Allah, kerasulan dan misinya, dengan cara ilmiah agar yang tadinya ragu berubah menjadi yakin, yang sebelumnya merupakan perumpamaan menjadi kenyataan. Dengan cara itulah kiranya kebingungan remaja itu dapat teratasi. Sekaligus dapat menggiring mereka dari kondisi keraguan menuju keyakinan yang mantap.
Seandainya kita mampu membimbing dan menanamkan keimanan serta aqidah yang kuat, tentunya kita dapat menambah generasi yang berkualitas pada umat Islam. Karena kekufuran atau keraguan yang mereka dapatkan dalam perjalanan mencari kebenaran iman, sudah terlewati. Bagaikan seorang pasien yang terobati dan memiliki kekebalan dari penyakit yang pernah dideritanya.
Editor: Yusuf