Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Indonesia adalah Negara Adidaya Spiritualitas dan Kebudayaan.

Krisna Wahyu Yanuarizki by Krisna Wahyu Yanuarizki
Agustus 28, 2022
in Esai
0
http://repository.gunadarma.ac.id/568/
30
SHARES
174
VIEWS

Masih keterkaitan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 77. Sebagai penerus zaman seharusnya momen ini adalah moment kita untuk “Jas Merah”. Sekaligus bermuhasabah dan berefleksi tentang persoalan yang ada di Negeri Ini.

Tidak cukup untuk mengkritik persoalan di negeri ini, perlahan- lahan kita harus Update semangat Spiritualitas dan Nasionalis kita. Sebagai warga Negara ini. Kita juga harus mampu membuka jembatan untuk negeri ini, dan bertanya apakah yang sudah kita berikan kepada negeri ini.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Refleksi selalu terkait dengan peristiwa kelam masa lalu, Imperialisme demi imperialism. Yang dimulai dari bangsa Portugis (1509-1595), Spanyol (1521-1529), Belanda (1602-1942), Perancis (1806-1811), Inggris (1811-1816) hingga sampai Jepang (1942-1945).

Perasaan yang mendalam atas penjajahan yang kita rasakan seharusnya menambah spirit kita untuk sadar akan eksistensi kita sebagai bangsa yang digdaya. Mengutip dari Kemendikbud.go.id Hilmar Farid, selaku Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud mengajak masyarakat untuk bahu-membahu mengangkat budaya sebagai identitas bangsa.

“Pada tahun 2017, UNESCO mengatakan bahwa Indonesia adalah negara super power di bidang budaya. Dunia sudah mengakui Indonesia sebagai negara dengan ekosistem budaya yang sangat besar. Maka butuh kerja sama dari seluruh masyarakat Indonesia, dengan caranya masing-masing untuk memajukan aset berharga ini”

Oleh sebab itu Ekosistem Kebudayaan dan Spiritual bangsa adalah tanggung jawab kita semua sebagai, bangsa yang berperadaban. Lekas sembuh dari Kultur Pandemi Covid 19 yang dulu menimpa kita. Kita harus refleksi Double Movement, yakni menilik sejarah perjuangan bangsa dan mengoreksi masalah hari ini dengan Spirit masa lalu. Yang Bhineka Tunggal Ika.

Spiritualitas adalah Iman Bangsa 

Mari kita bermuhasabah dengan sila pertama yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa ”. Perlu kalian ketahui para penggagas Pancasila tidak semerta- merta mengambil point- poin penting ini. Kalau tidak dengan asas landasan filosofis dan sosialis.

Ketuhanan (Theosentris) adalah pusat dari segala persatuan. Seorang yang beragama kuat, seharusnya menciptakan implementasi ketauhidan, bukan menciptakan sikap eksklusif, radikal, egosentris. Sejatinya agama turun untuk manusia, bukan untuk Tuhan sendiri.

Sikap perpecahan, separatisme, pemberontakan(bughah) merupakan kesyirikan Antroposentris. Mengapa bisa menilai syirik?, karena pada hakikatnya semua para nabi mulai dari Agama Samawi atau Non Samawi. Semuanya menyuarakan persatuan akan meraih kebenaran dan amal.

Seorang Sosiolog Islam Ali Syariati mengutarakan bahwa pandangan dunia syirik selalu membentuk landasan syirik dalam masyarakat dengan diskriminasinya di antara kelas- kelas dan ras- ras. Kepercayaan adanya pluralitas para pencipta menjustifikasi dan mensucikan pluralitas makhluk serta menggunakanya sebagai suatu yang kekal abadi.

Maksudnya bila mana di dalam pluralitas tidak disertai spiritual yang kuat maka akan menciptakan kemajemukan yang menyebabkan konflik destruktif. Dalam QS Al Hujurat ayat 13 Allah Swt berfirman

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Yang artinya : Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Kata Lita’arofu bukan pemaknaan hanya saling kenal mengenal, tetapi lebih dalam maknanya yakni supaya kalian bersatu dalam tali kasih-Nya.

Kebudayaan Sebagai Wadah Ketauhidan

Nusantara adalah nama kuno dari Indonesia, yang dahulu tempat berbagai macam pengaruh kebudayaan, seperti pengaruh dari Cina, Yunnan- Champa, India- Persia, Arab dan masih banyak lagi. Ada yang bilang bahwa Nusantara dahulu adalah negeri seribu peradaban, atau Negeri Atlantis yang hilang.

Tetapi yang patut ditekankan adalah dengan survey Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mencatat, karya budaya yang telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia tercatat sejumlah 1.239 hingga 2020.  Budaya tak benda meliputi seni pertunjukkan, tradisi dan ekspresi lisan, adat istiadat, pengetahuan alam, kerajinan, dan perayaan.

Banyak bukan itu pun hanya sebagian yang dapat kita teliti, masih banyak lagi d iluar sana yang belum mampu kita teliti. Itu menandakan bahwa sebaga bangsa yang besar kebudayaan adalah wadah yang tepat untuk membangun Indonesia sebagai bangsa yang adidaya dengan budaya.

Perlunya partisipasi antara lembaga otoritas dan masyarakat menggencarakan keberagaman ini sebagai symbol ketauhidan. Symbol yang membawa kita sebagai bangsa yang kuat secara de facto maupun de jure. Sehingga bangsa lain akan enggan untuk menjajah kita. Dengan persatuan yang kuat tadi.

Tetapi permasalahanya adalah Individual yang berkontradiksi dengan cita- cita bangsa akan sering melakukan kegiatan egosentris dan pemenuhan nafsu syahwatnya saja, seperti korupsi, nepotisme,  sindikat, Opportunis dan masih banyak lagi. Perluanya kita semua warga Negara menyadari akan permasalahan tersebut.

Tiada yang dapat kita lakukan, hanya untuk membranding citra kebaikan dengan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi yang dimiliki bangsa kita lebih banyak, agar keburukan semakin terbungkam dan tertelan. Seharusnya Revolusi Mental harus digencar- gencarkan mungkin dimulai hal yang terkecil, seperti membaca, toleran, ramah tamah dan lainya. 

Seharusnya Nasionalisme bergerak bukan hanya sebagai wacana saja, perlunya implementasi dengan reflektif, dari perjuangan historis, sampai hingga keadaan sosial dan problematika yang kini telah terjadi dengan marak. Maka hiasilah semangat kemerdekaan dengan memerdekakan diri kalian terlebih dahulu, dari segala kejumudan berfikir, dari segala rasa gundah sampai persoalan materi. Ingat perkataan sang proklamator .

Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.”- Soekarno.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari bahwa negerinya besar secara kolektif. Dengan spirit itu kita akan melampaui negeri lainya, tetaplah bergerak jangan sampai terperosok arus zaman, sedikit open minded, dan kesadaraan kita akan meraih kemerdekaan.

Editor : Akbar Syifa Nursyam

Terkait

Previous Post

Nihilisme Optimistik dan Matinya Kepercayaan

Next Post

Islam sebagai Agama Lintas Etnis, Budaya, dan Benua

Krisna Wahyu Yanuarizki

Krisna Wahyu Yanuarizki

Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Next Post
Islam sebagai Agama Lintas Etnis, Budaya, dan Benua

Islam sebagai Agama Lintas Etnis, Budaya, dan Benua

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.