Kira-kira pasca perang dingin, manusia terombang-ambing menelusuri jalan solitude (kesendirian, kesunyian). Mengakui eksistensialisme sebagai barang yang sudah usang nan berlalu. Ideologi menjadi represif yang mendahului esensi moral, deontologis etis yang menyimpang pada kegelapan perbudakan nir Emansipatoris.
Inilah yang menjadi metanarasi kaum intelektual untuk menuju pada kebebasan manusia yang dibangun sejak dahulu, keangkuhan intelektual yang menjelma menjadi ideologi buas harus menghilangkan emanasi kebaikan Tuhan di dunia fana.
Masa depan yang diharapkan sebenarnya hanyalah ilusi dan utopis belaka, manusia postmodern hanyalah lingkaran kedunguan yang pasti. Postmodern seolah mengharamkan kolonialisme dan membenci ide fixed yang dibangun dari epistemologi, nyatanya hanya menghantui dan menakuti roh absolut manusia.
Kita tahu setelah perang dingin Amerika adalah pemenangnya dengan ditandai runtuhnya tembok Berlin dan kekalahan serta keruntuhan uni Soviet, sejak saat itu Amerika menjadi negara yang adidaya.
Persaingan antara dua negara besar ini adalah Amerika Serikat dengan semangat liberalisme dan Soviet dengan semangat marxisme, kedua negara ini mencoba untuk menyebarkan dan mempengaruhi ideologi mereka masing-masing di berbagai negara lainnya.
Meskipun pada akhirnya Soviet harus takluk oleh Amerika Serikat, tapi pengaruh wacana mengenai marxisme tetap ada sampai saat ini.
Problem etis ini seolah menjadi semacam ranjau ke bhulsit an yang dibangun oleh para filsuf mengenai moral kebahagiaan manusia dijadikan para iblis semacam dekonstruksi.
Kita seolah di pertontonkan oleh adegan kebohongan dunia realitas tanpa menginterupsinya, berganti dengan wajah lain untuk menutupi kejahatan moral.
Mengunggulkan manusia yang lain untuk memenuhi hasrat kesombongan rasionalitas tanpa menghegemoni hati nurani, sehingga ego adalah puncak dari kepiawaian hati yang busuk yang menggerogoti roh absolut ke dalam kebinasaan intelektual.
Pertanyaannya adalah apakah kita perlu bersyukur berakhirnya perang dingin ini, atau kita senang lahir ke dunia? Apakah benar kita baik-baik saja pasca perang dingin? Apa benar manusia menjadi lebih beradab? Benarkah kehidupan kita lebih layak di era kekinian?
Jika itu benar apakah tidak ada lagi peperangan dan hegemoni di depan dan di belakang layar? Saya kira semua itu perlu kita kaji ulang dalam diri manusia agar supaya kita tidak terjebak pada retorika kemuslihatan, yang berujung pada penyesalan dan kebutaan pada realitas.
Atau jangan-jangan ini hanyalah sebuah enigma yang menjelma menjadi fatamorgana sehingga tidak ada musuh negara lain atau ideologi baru yang mencuat pada peperangan kembali, apakah pasca perang dingin negara adidaya tidak punya musuh?
Siapa Musuh Amerika Serikat Pasca Perang Dingin?
Pasca komunisme runtuh tahun 1991 yang disebabkan atas kekalahan melawan Amerika Serikat. Mengharuskan negara yang dikenal adi kuasa karena kemenangannya pada perang dunia II mengharuskan mereka menjadi negara yang menerima keadaan.
Karena banyak negara bagian Soviet yang memilih jalan mereka masing-masing karena menganggap komunisme produk gagal yang tidak beradaptasi dengan zaman.
Sebenarnya bukan itu saja yang menjadi problem negara Uni Soviet tersebut, tapi banyak lagi yang menjadi faktor keruntuhan Soviet, salah satunya adalah sistem yang diterapkan oleh ekonomi komunisme yang terjebak pada problem utopis tidak memberikan kepuasan pada kelas menegah dan elit.
Sehingga susahnya kesejahteraan ekonomi yang pasti adalah sistem ekonomi komunisme banyak menyebabkan korupsi dikalangan pemerintahan dan partai, yang mengharuskan kehilangan esensialisme dalam keadilan kelas.
Jika Soviet telah runtuh lalu siapakah musuh Amerika Serikat selanjutnya? Bila kita telusuri lebih jauh mengenai musuh Amerika Serikat adalah “Islam”. Mereka (orang Amerika) menyebutnya Islam radikal, entah dari mana istilah itu didapatkan yang pasti mereka memusuhi Islam garis keras tersebut.
Posisi Soviet kini digantikan oleh Islam militan, Amerika Serikat sudah menemukan musuh barunya, bisa kita lihat pada buku Samuel P Huntington yang berjudul Who Are We (New York: Simon & Schuster).
Saya mau mengatakan bahwa negara yang bisa dikatakan adi kuasa adalah ketika dia sudah mempunyai musuh, kebobrokan dan kehancuran Soviet pasca perang dingin membuat Amerika tidak mempunyai musuh.
Maka harus memunculkan musuh baru agar terlihat besar dan people power, maka mereka mengaitkan semua dengan agama dibuatlah Islam sebagai musuh baru. Islam dianggap berbahaya, karena pernah menaklukkan Eropa pada zaman keemasan Islam, karena itu mereka mengingatkan untuk menghentikan perkembangan Islam di Eropa.
Sehingga Islam dibuat sedemikian rupa sebagai agama yang menakutkan, seolah semacam Cyclops atau monster baru yang berdiri di hadapan manusia kulit putih dengan mengancam nuklir doktrin keagamaan yang membuat mereka merasa terganggu dengan bingkai ayat yang mereka anggap propaganda.
Hal ini di setting dengan baiknya oleh mereka sebagai bentuk politisasi sejarah, yang menjadikan paradigma rasio itu berkembang menjadi kebencian publik terhadap agama.
Saya cuma ingin bilang bahwa kenapa hanya Islam yang menjadi musuh baru? Jika alasan tersebut karena Islam pernah menaklukkan Eropa lalu bagaimana dengan agama yang saya sebut sebagai “Gereja” pernah menaklukkan Eropa bahkan dunia hingga hari ini agama terbesar di dunia.
Kita tahu bahwa zaman kegelapan Eropa karena adanya otoritas gereja, sehingga ilmu pengetahuan harus ditentukan oleh gereja, jika bertentangan akan dibunuh. Kemuakkan itu memuncak hingga memunculkan zaman pencerahan yang kita sebut sebagai “Renaisans”.
Apa yang kita sebut sebagai kesejahteraan bersama bila yang dilihat adalah klaim kebenaran antar kelompok dan ideologi. Pada akhirnya hanyalah kampanye mengenai Islamofobia, takut pada Islam yang membuat geger seolah Islam adalah Agama intoleran.
Misalnya dalam buku Bernard Lewis “Assasin Islam” menganggap bahwa kata assasin berasal dari Islam “hasyasyin” yang artinya orang membunuh dengan cepat. Padahal sebenarnya ini hanyalah kebohongan kategoris-induktif seolah pada akhirnya menjadi kebenaran umum.
Pada Akhirnya negara timur tengah adalah dampak dari hegemoni barat yang berlanjut, hingga saat ini mereka belum menemukan kedamaian dan keadilan serta kesejahteraan, di adu domba, kemiskinan, kelaparan yang terjadi di Libya misalnya, lalu di mana yang menginginkan kedamaian tanpa peperangan dan intervensi?
Di mana posisi Amerika saat terjadi perang saudara dan pembantaian di timur tengah? Di mana mereka saat terjadi perang Suriah? di mana HAM Internasional? Saya yakin mereka hanya menonton sambil menikmati kopi dan merokok di depan televisi.
Satu hal yang perlu kita tahu bahwa Islam adalah musuh sampai hari ini, orang yang menentang Amerika dan barat di anggap teroris wajib di musuhi dan diperangi dengan alasan menakuti dunia yang suci ini.
Sebut saja ia Muammar Khadafi yang menentang kolonialisme dianggap sebagai teroris berjubah Islam. Inikah demokrasi yang di inginkan oleh Amerika bila ternyata masih terjadi hegemoni dan intervensi.
Nihilisme Optimistik dan Matinya Kepercayaan Era Kekinian
Keangkuhan Intelektual semacam bumerang pada filsafat sejarah, ini membunuh karakter generasi, menyongkel kewarasan berpikir, dan menumbuhkan skeptisisme pesimis terhadap realitas sosio-politik.
Ketidakpercayaan pada sebuah ide tetap (fixed) yang sudah dianggap mapan, absurditas itu seolah menghantui kehidupan manusia, melonjaknya ekonomi neo-liberalisme yang semakin mengukuhkan feodalisme.
Kapitalisme semakin berkuasa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan struktural, kapitalisasi pendidikan, orang miskin harus memenuhi kebutuhan dengan cara bekerja dengan orang kaya.
Kegelisahan ini sebenarnya beranjak dari dampak pada perang dingin, meskipun abad ke-21 ini tidak sama pada zaman modern pasca renaisans, yang menjadi hantu dalam sepanjang sejarah.
Tapi setidaknya kita menginginkan kemerdekaan yang universal, agar tidak menimbulkan dendam kembali, karena sejatinya kesejahteraan puncaknya adalah tanpa intervensi dan hegemoni.
Apa yang kita anggap sebagai kemapanan ideologis seharusnya kita tolak jika ide fixed itu menjadikan kehendak kuasa. Maka nihilisme menjadi pegangan moral etis yang sungguh menjadikan kita sebagai orang yang optimistik dengan kemerdekaan individu.
Ideologi itu ada pada pikiran, bukan pada realitas. Maka genggam ia dengan ide kebaikan, ide adalah kebaikan moral yang berfungsi mengatur ego yang condong pada keangkuhan intelektual. Kita adalah manusia bukan robot atau android.
Dialektika moral pada hati manusia harus digenggam melalui diri yang absolut bukan roh. Kita adalah yang mengada, harus mengaktifkan dari apa yang sudah ada (ide), kita menjauhi ego sentris yang memuncak pada keangkuhan, yang mengada pada diri manusia adalah sebuah realitas objektif bisa menjadi sebuah ruang dialektika pencerahan dari emanasi Tuhan.
Seperti filsafat wajah Immanuel Levinas “bahwa Tuhan telah menampakkan wajahnya pada kita, seharusnya kita segera menghadapkan diri kepadanya dengan keadaan bersih, dengan cara kebaikan dari wajah Tuhan kita realisasikan pada kehidupan sosial dengan berbuat keadilan”.
Editor: Rahmat