Sebagai organisasi masyarakat keagamaan, Muhammadiyah tentu memiliki metode dakwah khusus. Metode dakwah Muhammadiyah ini bisa jadi sama, bisa jadi berbeda, bisa jadi beririsan dengan metode dakwah yang dilakukan oleh kelompok lain. Yang jelas, metode dakwah Muhammadiyah ini yang mengantarkan Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi keislaman besar di Indonesia bahkan di dunia.
Metode Dakwah Pertama: Inklusif – Partisipatoris
Dalam buku Pluralisme Positif, Abdul Mu’ti dan Azaki Khoirudin menulis bahwa Kiai Dahlan berusaha menghapus tradisi “rahibyiah”. Sebuah tradisi yang meyakini bahwa ulama adalah figur suci, pemegang otoritas agama, dan penghubung manusia dengan Tuhan.
Melalui penyampaian dakwah yang dialogis, Ahmad Dahlan meletakkan dasar-dasar prinsip egaliter atau kesetaraan dalam beragama. Ulama adalah manusia biasa, bukan “manusia setengah dewa” yang harus dipuja-puja dan dibenarkan segala perilakunya. Akibatnya, agama dipahami sebagai ajaran yang bisa dipelajari oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun.
Kiai Dahlan juga mencoba untuk menjangkau berbagai kalangan. Untuk itu, ia mengikuti Jamiat al Khoir, Budi Utomo, dan Sarekat Islam. Hal ini ia lakukan sebagai upaya membangun jaringan sosial dan memperluas dakwah. Ketika belakangan Kiai Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, hubungan dengan ketiga organisasi di atas masih terjalin dengan sangat harmonis.
Metode Dakwah Kedua: Transformatif non-Konfrontatif
Muhammadiyah, sebagaimana yang diajarkan oleh Kiai Dahlan, tidak suka dengan cara-cara yang konfrontatif, melawan, memberontak, memusuhi, menyerang, dan lain-lain. Corak dakwah Muhammadiyah bersifat solutif. Memberikan solusi nyata dari permasalahan yang ada di masyarakat.
Ketika melihat banyak anak-anak miskin yang tidak berpendidikan, Kiai Dahlan tidak menyalahkan pemerintah kolonial, keraton, atau elemen lainnya. Ia mengambil inisiatif untuk memberdayakan anak-anak tidak berpendidikan tersebut secara langsung.
Pembangunan berbagai amal usaha butuh waktu yang lama agar dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat. Namun, hal tersebut adalah perwujudan nyata dari agama Islam. Tidak sekedar retoris atau slogan-slogan semata. Maka, dakwah Muhammadiyah bersifat pelan tapi pasti.
Selain itu, karakter dakwah Muhammadiyah yang lebih lembut dan tidak konfrontatif membuat Muhammadiyah bisa berhubungan dengan berbagai pihak seperti pemerintah dan organisasi yang lain. Muhammadiyah juga berprinsip sedikit bicara banyak bekerja. Tidak suka berwacana tetapi lebih banyak bekerja dan berbuat sesuatu untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Dalam sejarah, lahirnya Muhammadiyah adalah untuk menanggulangi misi agama Kristen. Namun, Muhammadiyah tidak berhadap-hadapan dengan Kristen. Muhammadiyah tidak melakukan demo, protes, boikot, dan lain-lain. Muhammadiyah justru memberikan alternatif peradaban Islam yang lebih maju. Caranya adalah dengan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Muhammadiyah merasa bahwa melakukan kebaikan adalah perlombaan sehingga umat Islam harus memenangkan perlombaan dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Bukan menang karena protes, demo, atau boikot.
Kultural Pro-Pluralistik
Dakwah kultural adalah dakwah oleh umat Islam kepada orang lain untuk kesejahteraan seluruh umat manusia tanpa memandang agama, ras, suku, etnik, warna kulit, bahasa, dan gender. Dakwah ini merupakan penyebaran rahmat melalui pendekatan dan metode yang bijak sesuai dengan kapasitas intelektual dan psikologis manusia tanpa paksaan apapun.
Hal ini dicontohkan oleh Muhammadiyah ketika mendirikan Perguruan Tinggi. Setidaknya ada enam Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang memiliki mayoritas mahasiswa non-muslim. Yaitu Universitas Muhammadiyah Sorong, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, STKIP Muhammadiyah Manokwari, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah Jayapura, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan IKIP Muhammadiyah Maumere.
Di kampus-kampus tersebut, mahasiswa yang sebagian besar beragama Protestan dan Katholik memiliki kewajian mempelajari mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk memberi pemahaman tentang Islam secara benar, tanpa dipaksa untuk masuk Islam. Ada juga beberapa dosen non-muslim yang mengajar, termasuk Pastur.
Di Ende, Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya beragama Katholik, sekolah-sekolah Muhammadiyah memberikan mata pelajaran agama Katolik dan Kemuhammadiyahan bagi siswa-siswi yang beragama Katolik. Di Serui, Papua, siswa-siswi Kristen yang sekolah di Sekolah Muhammadiyah memperoleh mata pelajaran agama Kristen dan Kemuhammadiyahan.
Menurut Mu’ti, Muhammadiyah menerapkan strategi kultural untuk menguah masyarakat dengan mengubah perilaku sosial dan cara berpikir masyarakat. Dilakukan dengan proses penyadaran individual yang bersifat sukarela dan tanpa paksaan. Dalam hal ini, agama menjadi inspirasi yang menjadi petunjuk perilaku dalam semua bidang kehidupan.
Strategi kultural berusaha memberikan tawaran kepada individu dan masyarakat untuk memilih sesuatu secara dewasa dan mandiri. Semuanya itu dimungkinkan apabila manusia memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak. Amar ma’ruf nahi munkar versi Muhammadiyah adalah gerakan ilmiah, proses pencerdasan dan pencerahan sehingga setiap aktivitas manusia senantiasa disadari oleh ilmu.
Ilmu pengetahuan akan membebaskan manusia dari tirani politik (kolonialisme), tirani kultural (feodalisme), dan tirani relijius (taklid). Dakwah adalah proses menuju terwujudnya masyarakat ilmiah. Masyarakat yang berpikir rasional sesuai ilmu pengetahuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Strategi kultural berarti tidak menggunakan konfrontasi dan konflik. Sehingga harus mampu akomodasi dan kerja sama dengan pihak lain, namun tetap kritis. Sejak pertama kali berdiri, Muhammadiyah menjadi organisasi yang inklusif. Terbuka bagi siapa saja tanpa memandang etnis, ras, dan agama.