Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

“Ulul Albab” Sebagai Solusi Mahasiswa Milenial

Rifqi Bagus Priyono by Rifqi Bagus Priyono
Januari 2, 2020
in Narasi
0
“Ulul Albab” Sebagai Solusi Mahasiswa Milenial
106
SHARES
622
VIEWS

Oleh: Rifqi Bagus Priyono[1]

Mahasiswa seringkali dijuluki sebagi generasi harapan (generation of hope), agen perubahan (agent of change), poros peradaban (axis of civilation), ataupun kontrol sosial (agent of social control). Gelar-gelar tersebut tidak hanya “cuma-cuma” serta merta dinisbahkan pada yang biasa disebut sebagai kaum intelektual.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Posisi mahasiswa yang strategis berada di tengah-tengah antara para elit dan rakyat biasa mengindikasikan gelar-gelar tersebut tersematkan pada pundak para mahasiswa. Berangkat dari gelar-gelar tersebut, apakah gelar tersebut sebuah anekdot ataukah harapan besar umat? Hal itu yang akan Saya ulas lebih dalam tulisan kali ini.

Kedudukan mahasiswa berada di tengah (moderat), mengantarai para elit dan kaum akar rumput. Sudah seyogyanya mahasiswa mampu menjembatani keduanya. Hal itu dikarenakan mahasiwa hidup dan membersamai realitas yang berada di akar rumput.

Selain itu, mereka juga belajar ilmu-ilmu, teori, regulasi, terlebih kebijakan para elit yang nantinya akan berimplikasi besar pada umat di semua realitas kehidupan. Menyoal mahasiswa ialah bentuk refleksi bagai penulis khusunya, lebih jauh sebagai alarm bahwa mahasiswa sebagai tampuk harapan umat.

Apakah mahasiswa tidak selesai dengan dirinya sendiri? Ya, tepat sekali. Dewasa ini mahasiswa tidak selesai pada persoalan-persoalan pada dirinya sendiri, lalu bagaimana dengan nasib gelar-gelar yang disematkan sebagai bentuk harapan umat? Mahasiswa harus segera berbenah! Melihat arus perkembangan zaman yang begitu masif tampaknya perlu segera dibenahi.

Tunamental Mahasiswa

Westernasi yang implikasinya berupa gaya hidup hedonis, telah menghegemoni kehidupan para kaum muda, kecintaan terhadap budaya Barat adalah salah satu yang mengindikasikan hal tersebut. Selanjutnya, para mahasiswa kehilangan akan identitas bangsanya, buta akan sejarah bangsanya, gagap moral terlebih “tunamental”.

Beberapa indikasi tersebut menyebabkan terputusnya matarantai sejarah bangsa, amoral, hilangnya nilai-nilai luhur, dan tunakualitas. Revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan teknologisasi di segala lini tampaknya membuat kaget generasi muda. Ketidak- bijakan merespon hal tersebut berimplikasi masif pada budaya individualistik, budaya pragmatis, terlebih apatis dengan realitas sosial.

Disusul lagi dengan pendidikan bangsa yang anti-realitas, pendidikan bangsa tidak selesai pula dengan dirinya, baik dalam ranah kurikulum, metodologi, ataupun regulasi. Bukankah proses pendidikan di Indonesia sekian lama lebih banyak mencatat kegagalan daripada keberhasilan? Hanya sedikit orang merdeka yang lahir dari “rahim” pendidikan Indonesia. Hal ini memperparah implikasi dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya.

Konsep Ulul Albab Sebagai Solusi

Kata Ulul Albab terdiri dari kata (ulu) أولو dan (al-albab) الألباب. Kata ulu أولو adalah bentuk jamak, yang artinya pemilik. Kata yang kedua adalah al-albab الألباب, kata ini adalah bentuk jamak dari kata al-lubb. Al-lubb, اللُّبّ artinya inti dari segala sesuatu. Selain itu, kedudukan jamak mengindikasikan bahwa ulul albab adalah orang yang mempunyai akal berlapis-lapis alias kuat dan tajam.

Ulul albab ialah mereka yang serat dengan muatan kebajikan dan kearifan. Aktifitas ulul albab ada dua, yang pertama, “berfikir”. Dalam berfikir, ulul albab menjadikan fenomena alam dan fenomena sosial sebagai objeknya. Yang kedua, “berdzikir”. Dalam berdzikir, ulul albab mempunyai dua hubungan, yaitu hubungan vertikal (hablum minaullah) dan hubungan horizontal (hablum minannas).

Sudah barang tentu kualitas yang seperti tergambar di atas adalah kualitas ideal. Ke arah itu kita harus melangkah dan bergerak. Jika memang Islam diyakini sebagai antitesis terhadap peradaban barat yang kian sekuler dan bahkan ateistik. Mahasiswa harus mampu memposisikan diri sebagai yang demikian, menjadikan fenomena alam dan segala fenomena sosial sebagai objek dalam berfikirnya.

Artinya seorang anak muda itu (dalam hal ini adalah mahasiswa) mampu menuai pelajaran dari segala fenomena, meretasnya, lalu menganyamnya guna menciptakan tatanan peradaban yang lebih maju dan humanis (rahmatan lil alamin).

Dalam kaitanya dengan dzikir, mahasiswa juga harus mampu menjalin hubungan vertikal (hablum minaullah) soleh individu dengan sebaik-baiknya, tidak lupa pula dengan hubungan horisontal (hablum minannas) atau yang biasa dikenal dengan soleh sosial. 

Spirit and Stategy

Dalam berfikir dan berdzikir, ulul albab selalu membumbuinya dengan beberapa sepirit dan strategi, di antaranya: Pertama, integrasi, ulul albab menjaga integrasi antara berpikir dan berzikir, antara ilmu dan iman. Kedua, sensitivitas. Berpikir membutuhkan sensitifitas. Fenomena yang sama dapat memberikan beragam makna jika didekati dengan tingkat sensitivitas yang berbeda.

Ketiga, relevansi manfaat. Proses berpikir harus menghasilkan manfaat. Isu relevansi menjadi penting. Bisa jadi kemampuan berpikir manusia belum sanggup membuka tabir dan memahaminya dengan baik alias berpikir fungsional. Aspek fungsional tersebut harus didasarkan pada nilai-nilai universal guna maslahat bagi seluruh umat.

Keempat, imajinasi. Perpaduan aktivitas fikir dan dzikir seharusnya menghasilkan imajinasi masyarakat dan umat Islam yang lebih maju sebagaimana terinspirasi dalam Q.S. Al-Hasyr: 18 dan  An-Nisa: 9. Untuk bergerak dan maju, kita perlu mempunyai imajinasi masa depan dan tidak terjebak dalam sikap reaktif yang menyita energi.  Karenanya, ulul albab harus mengikhtiarkan pikiran yang kritis, kreatif, dan kontemplatif untuk menguji, merenung, mempertanyakan, mereorientasi, mengkritik, dan mengimajinasi.

Kelima, independensi. Ulul albab juga seharusnya terbiasa berpikir independen. Tidak dilandasi kepentingan saat ini dan konteks kini apalagi kepentingan individu. Landasan berpikirnya adalah nilai-nilai perenial atau abadi. Kita diminta mandiri dalam berpendapat.  Mandiri dalam berpendapat dan bertindak sangatlah penting dalam kaitannya sebagai agen perubahan (agent of change).

***

Pandangan positif terhadap masa depan dan anti terhadap kemapanan tampaknya perlu menjadi doktrin dalam menyusun peradaban yang lebih maju. Mahasiswa dengan segala kepercayaan dan gelar yang disematkan padanya sudah waktunya berbenah. Kita dihadapkan dengan peradaban yang satu, dua, tiga langkah lebih maju daripada kita.

Sudah bukan waktunya untuk bersantai-santai, mementingkan diri sendiri, terlebih tidak mau tau dengan persoalan-persoalan umat. Menggunakan teori, sepirit, dan strategi ulul albab dengan terintegrasinya antara dzikir dan fikir, hablum minaullah dan hablum minannas, yang tidak lain ialah mutiara dari apa yang disajikan Al-Quran.

Setidaknya menjadi harapan positif bagi terrealisasikannya kepercayaan dan gelar-gelar yang disematkan pada mahasiswa di atas sebagai kaum muda intelektual.

[1] Anggota IMM Komisariat Muhammad Abduh FAI-UMS

Terkait

Tags: gerakan anak mudamahasiswaulul albab
Previous Post

Waspada Keselamatan Negara

Next Post

Hukum Mengkonsumsi Kopi Luwak dan Binatang Luwak

Rifqi Bagus Priyono

Rifqi Bagus Priyono

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam FAI-UMS

Next Post
Hukum Kopi Luwak

Hukum Mengkonsumsi Kopi Luwak dan Binatang Luwak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.