Oleh : Azhar Ardiansyah Al Aziz (Kader IMM Pesma UMS)
Trikoda menjadi bahan bakar IMM untuk bergerak mencapai tujuan. Laksana angin yang berhembus kencang. Menjadikan bahtera berlayar laju menuju sebuah dermaga yang disebut “Tujuan Muhammadiyah”. Sesuai yang termaktub dalam SPI yaitu terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Djazman Al Kindi dan jajarannya merumuskan nilai-nilai (humanitas, religiusitas, intelektualitas) dalam trikoda sebagai kompetensi yang harus dimiliki kader. Nilai tersebut dipandang sebagai kesatuan utuh secara kompherensif tanpa dikotomi.
Apakah keberhasilan seorang kader imm hanya dilihat dari intelektualitasnya? Mengapa setiap kita itu berusaha mencondongkan satu dalam tiga yang menjadi satu? Menggaungkan urgensi manusia menjadi khalifah yang dimana memiliki jiwa kepemimpinan yang besar tetapi belum bisa memimpin dirinya sendiri. Dalam bab 3 pasal 8 tanfidz IMM nomor 1 berbunyi, “membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk melaksanakan ketaqwaan dan pengabdiannya kepada Allah SWT” membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam beribadah? Mengapa hal-hal seperti ini selalu berbenturan dengan realita yang ada. Ketika nilai trikoda tidak benar – benar melekat pada setiap jiwa, nilai – nilai religiusitas hanya sebatas tuntutan dari lingkungan sosial, humanitas hanya sebatas menyelesaikan proker pembinaan masyarakat, dan intelektualitas mengundang rasa jumawa. Seperti judul lagu hindia “untuk apa?”
Meninjau dari teori Abraham maslow tentang hierarki kebutuhan manusia yang memiliki lima tingkatan (1. Kebutuhan Fisiologis 2. Kebutuhan Rasa Aman 3. Kebutuhan Sosial 4. Kebutuhan Ego 5. Kebutuhan Aktualisasi Diri) sepertinya mayoritas dari IMM terjebak dalam tahapan ke 4. Apa itu egoistic needs? Egoistic needs atau kebutuhan ego. Pada tingkat ini, individu mencari penghargaan dan pengakuan dari diri sendiri dan orang lain. Kebutuhan harga diri mencakup perasaan prestasi, kepercayaan diri, dan penghargaan. Kebutuhan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Manusia berusaha mencapai prestis, reputasi dan status yang lebih baik. Manusia memiliki ego yang kuat untuk bisa mencapai prestasi yang lebih baik untuk dirinya maupun lebih baik dari orang lain. Sedangkan hierarki kelima yaitu kebutuhan aktualisasi diri, yaitu merupakan kebutuhan yang berlandaskan akan keinginan dari seorang individu untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang terbaik sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Seorang individu perlu mengekspresikan dirinya dalam suatu aktivitas untuk membuktikan dirinya bahwa ia mampu melakukan hal tersebut. Era kejayaan dari anak-anak IMM akan lahir dimasa depan
Pastinya kita menyadari bahwasannya tidak semua dari IMM seperti itu, tetapi menjadi sebuah pukulan berat kepada kita karena pada akhirnya kita diperintahkan amar ma’ruf nahi mungkar, dalam hadist arbain no 34 berbunyi :
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49] Oke, kita breakdown setiap makna yang terkandung didalam hadist ini
- man ra-a: siapa yang melihat, maknanya adalah siapa yang mengetahui, walaupun tidak melihat secara langsung, bisa jadi hanya mendengar berita dengan yakin atau semisalnya.
- munkaran: segala yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pelakunya diingkari untuk melakukannya. Kemungkaran di sini disyaratkan: (1) jelas kemungkaran yang disepakati oleh pihak yang mengingkari dan yang diingkari; atau (2) orang yang diingkari punya hujah yang lemah.
- minkum: yang dilihat dari kaum muslimin yang sudah mukallaf (yang sudah dikenai beban syariat).
- fal-yughayyirhu biyadihi: maka hendaklah mengubah dengan tangannya. Contoh, seseorang yang punya kuasa–misal: ayah pada anak–, ia melihat anaknya memiliki alat musik (tentu tidak boleh digunakan), maka ayahnya menghancurkannya.
- fainlam yas-tathi’ fa bi lisaanih: jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Yang mengingkari tetap bersikap hikmah dengan tetap melarang. Mengingkari dengan lisan termasuk juga mengingkari dengan tulisan.
- fabi-qalbihi: mengingkari dengan hatinya, yaitu menyatakan tidak suka, benci, dan berharap tidak terjadi.
- adh-‘aful imaan: selemah-lemahnya iman, yaitu menandakan bahwa mengingkari dalam hati itulah selemah-lemahnya iman dalam mengingkari kemungkaran.
Harapan besar tertuang kepada ikatan tercinta ini membawa rasa cinta sampai akhir hayat, rasa cinta karena Nya bukan karena kepentingan pihak semata. Dibekali akal agar kita berfikir bagaimana mewujudkan ikatan yang ideal, dibekali akal agar kita mencari solusi dari apa yang kita hadapi, dibekali akal agar kita mengevaluasi sesama, dan dibekali akal agar kita sama-sama membangun “ERA KEJAYAAN IMM” tidak ada yang mustahil didunia ini, semua berawal dari “KITA”