Oleh: Toni Hidayat
Peradaban manusia hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Kehadiran era Society 5.0 telah menggeser paradigma lama tentang bagaimana teknologi seharusnya bekerja. Jika Industri 4.0 berfokus pada otomatisasi mesin, Society 5.0 menitikberatkan pada integrasi ruang siber dan ruang fisik yang berpusat pada manusia (human-centered).
Konsep ini menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus diarahkan untuk menyelesaikan problematika sosial secara fundamental (Schwab, 2019). Namun, di balik janji kemudahan melalui Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data, muncul sebuah fenomena yang disebut sebagai dialektika disrupsi. Di satu sisi, teknologi menawarkan efisiensi tanpa batas, namun disisi lain, ia melahirkan disrupsi kemanusiaan: mulai dari pengikisan privasi, polarisasi digital, hingga alienasi sosial di mana manusia justru menjadi objek dari algoritma yang ia ciptakan sendiri.
Bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), fenomena ini bukanlah sekadar tantangan teknis, melainkan tantangan ideologis. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di ranah kemahasiswaan, IMM memiliki jangkar filosofis yang disebut Tri Kompetensi Dasar (Trikoda): Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas.
Dalam konteks ini, reaktualisasi Islam Progresif menjadi sebuah keniscayaan. Islam Progresif yang diusung Muhammadiyah menuntut pemahaman agama yang dinamis dan tidak alergi terhadap kemajuan, namun tetap teguh pada prinsip-prinsip kemanusiaan (Nashir, 2015). Esai ini akan membedah bagaimana manifestasi Trikoda IMM bertransformasi menjadi solusi atas problematika sosial di era Society 5.0, sekaligus menempatkan kader IMM sebagai subjek penggerak peradaban.
Islam Progresif dalam Pusaran Society 5.0
Islam Progresif adalah wajah Islam yang berorientasi pada masa depan. Sebagaimana gagasan K.H. Ahmad Dahlan tentang tajdid (pembaruan), Islam Progresif menekankan bahwa wahyu harus mampu berdialog dengan realitas zaman.
Di era Society 5.0, disrupsi tidak hanya menyerang sektor ekonomi, tetapi juga nalar keberagamaan. Keberagamaan yang kaku akan cenderung menolak teknologi secara reaksioner, sementara keberagamaan yang terlalu cair akan kehilangan identitas moralnya.
Dialektika disrupsi menuntut IMM untuk menghadirkan Islam yang membebaskan, memberdayakan, dan mencerahkan. Reaktualisasi Islam Progresif dalam tubuh Ikatan berarti menempatkan Trikoda sebagai perangkat lunak (software) mental bagi kader (Hidayat, 2021).
Ketika masyarakat terjebak dalam disrupsi informasi, Islam Progresif hadir memberikan kerangka etika. Di sinilah relevansi Trikoda diuji: apakah ia masih sanggup menjadi kompas moral di tengah badai algoritma yang sering kali mengabaikan nilai-nilai transendental. Kader IMM dituntut untuk melakukan reaktualisasi nilai tersebut agar gerakan mahasiswa tetap relevan dalam merespon disrupsi (Anwar, 2020).
Manifestasi Religiusitas: Spiritualitas Transformatif dan Etika Siber Manifestasi religiusitas dalam Trikoda seringkali disalah pahami hanya sebatas kesalehan ritual di atas sajadah. Namun, dalam ekosistem Society 5.0, religiusitas harus bertransformasi menjadi spiritualitas transformatif.
Konsep ini menekankan pada pembentukan spiritualitas baru yang mampu merespon isu-isu kontemporer secara kritis (Fanani, 2014). Kader IMM harus menyadari bahwa tauhid adalah dasar dari kedaulatan digital. Menghamba pada Allah berarti menolak untuk diperbudak oleh mesin atau kepentingan korporasi teknologi global.
Dalam ranah praktis, religiusitas progresif mewujud sebagai etika siber. Di tengah era post-truth dimana fitnah dan hoaks tersebar lebih cepat daripada cahaya, prinsip tabayyun (verifikasi) menjadi manifestasi ibadah yang nyata.
Kesalehan seorang kader diukur dari integritasnya dalam menjaga kejujuran informasi. Lebih jauh lagi, religiusitas ini harus mendorong kader untuk memanfaatkan teknologi demi kemaslahatan umat dan memastikan perkembangan teknologi tetap berada dalam koridor rahmatan lil ‘alamin. Religiusitas adalah rem bagi ambisi teknologi
yang melampaui batas moral kemanusiaan.
Manifestasi Intelektualitas: Nalar Kritis dan Kedaulatan Pengetahuan Intelektualitas dalam IMM bukanlah sekadar akumulasi IPK yang tinggi di transkrip nilai, melainkan nalar kritis yang tajam. Di era Society 5.0, intelektualitas kader bermanifestasi pada kemampuan melakukan dekonstruksi terhadap realitas digital.
Kader IMM dituntut memiliki literasi data yang mumpuni agar tidak terjebak dalam arus informasi yang manipulatif. Di bidang informatika, intelektualitas progresif mewujud pada penguasaan sistem dan keamanan data untuk melindungi hak-hak sipil di ruang digital.
Kader IMM harus mampu membaca “politik algoritma”. Intelektualitas ini memaksa kita untuk tidak sekedar menjadi konsumen teknologi, tetapi produsen pengetahuan. Intelektualitas progresif juga berarti keberanian untuk melakukan dialog antara sains dan iman.
Inilah intelektualitas organik yang menyentuh akar rumput, dimana ilmu pengetahuan digunakan untuk memecahkan masalah nyata masyarakat, bukan hanya berpuas diri di dalam menara gading akademik. Penajaman nalar ini merupakan bagian dari tinjauan filosofis gerakan mahasiswa Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan masa depan (Hidayat, 2021).
Manifestasi Humanitas: Memanusiakan Manusia di Tengah Automasi
Pilar ketiga, humanitas, menjadi ujian terberat di era Society 5.0. Ancaman terbesar teknologi bukan hanya hilangnya pekerjaan, tetapi hilangnya empati. Masyarakat super pintar cenderung mengarah pada individualisme digital yang akut.
Manifestasi humanitas IMM di sini adalah menghadirkan kembali “sentuhan manusia” (human touch) dalam setiap interaksi sosial. Hal ini sejalan dengan upaya revitalisasi nilai humanitas dalam gerakan mahasiswa sebagai bentuk digital humanism (Kusuma & Wardani, 2022). Islam Progresif menekankan pembelaan terhadap kaum mustad’afin (kaum yang terlemahkan). Dalam konteks disrupsi, mustad’afin baru adalah mereka yang gagap teknologi, terpinggirkan oleh ekonomi digital, dan menjadi korban eksploitasi data.
Humanitas IMM harus bergerak pada upaya advokasi digital. Kader harus mampu menjembatani kesenjangan akses teknologi dan memastikan bahwa inovasi digital tidak justru memperlebar jurang kemiskinan. Gerakan sosial IMM harus bertransformasi menggunakan platform digital untuk mengorganisir solidaritas nyata, memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar berpusat pada pemuliaan martabat manusia.
Sintesa: Trikoda sebagai Kompas Peradaban
Ketiga nilai Trikoda di atas bukanlah entitas yang berdiri sendiri. Antara religiusitas, intelektualitas, dan humanitas terdapat dialektika yang saling menguatkan. Religiusitas memberikan arah moral, intelektualitas memberikan alat dan metode, sedangkan humanitas memberikan tujuan akhir dari gerakan Ikatan.
Di era Society 5.0 yang penuh dengan ketidakpastian, integrasi Trikoda ini menjadi solusi konkret atas problematika sosial yang ada. Problematika Society 5.0 seperti depresi sosial, hilangnya privasi, dan dominasi mesin hanya bisa dijawab jika manusia kembali pada hakikatnya sebagai khalifah di bumi yang dibekali akal dan nurani.
IMM, melalui reaktualisasi Islam Progresif, menawarkan sebuah tatanan masyarakat di mana teknologi canggih berjalan beriringan dengan nilai-nilai ketuhanan yang luhur dan empati kemanusiaan yang dalam. Kader IMM adalah aktor yang harus berdiri paling depan untuk memastikan kemanfaatan teknologi seluas-luasnya bagi sesama.
Menyelesaikan dialektika disrupsi di era Society 5.0 memerlukan pembaruan jiwa dan nalar. Reaktualisasi Islam Progresif berbasis Trikoda dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah jawaban atas krisis kemanusiaan di era digital.
Manifestasi nilai religiusitas, intelektualitas, dan humanitas yang terintegrasi secara dinamis akan melahirkan kader-kader yang tangguh secara ideologis dan peka secara sosial. Trikoda adalah warisan sekaligus masa depan IMM. Dengan memegang teguh nalar progresif, IMM akan menjadi nahkoda yang mengarahkan bahtera peradaban menuju pelabuhan kemuliaan. Perjuangan di era Society 5.0 adalah perjuangan untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang mekanistik, dan bagi IMM, jalan tersebut adalah melalui Trikoda.
Editor: Zahfa Almedina