Oleh: Yayan Armain
Fenomena “matahari terbit dari barat” sebagai tanda kiamat seringkali diperdebatkan melalui tiga sudut pandang, yaitu Burhani (logika/sains) yang cenderung menolaknya karena dianggap mustahil secara astronomi, Bayani (tekstual) yang meyakininya akan terjadi secara fisik atas kuasa Ilahi, serta pendekatan integratif yang mencoba menggali makna filosofis di baliknya.
Dalam tinjauan yang lebih mendalam, fenomena ini dapat dimaknai sebagai simbol dari dominasi Globalisasi dan Westernisasi.
1. Globalisasi sebagai Cahaya yang Menjangkau Dunia
Globalisasi diibaratkan seperti matahari karena kemampuannya mengintegrasikan seluruh penjuru bumi melalui teknologi, budaya, dan informasi. Tidak ada satupun wilayah yang benar-benar terisolasi dari pengaruh global ini, sebagaimana tidak ada tempat yang luput dari sinar matahari.
2. Kebangkitan Barat dari Masa Kegelapan
Istilah “terbit dari barat” merujuk pada sejarah bangkitnya bangsa Barat (Eropa) dari Zaman Kegelapan (Dark Age) menuju era Renaisans dan Pencerahan (Enlightenment). Sejak saat itu, Barat menjadi pusat peradaban yang mempengaruhi dunia melalui:
- Teknologi: Media sosial dan internet (Google, YouTube, dll).
- Ekonomi & Politik: Penggunaan mata uang Dollar, sistem Kapitalisme, dan paham Demokrasi Liberal. Begitu kuatnya pengaruh ini hingga muncul gagasan “The End of History” dari Francis Fukuyama, yang menganggap bahwa sejarah peradaban telah mencapai puncaknya dengan diterimanya ideologi Barat secara universal.
3. Fenomena “Matahari Palsu”
Secara hakiki, matahari sejati tetap terbit dari timur sesuai hukum alam. Namun, dominasi peradaban Barat dianggap sebagai “matahari palsu” yang hanya bisa dikenali kepalsuannya melalui mata batin (basyirah). Orang yang hanya melihat secara lahiriah akan terpedaya oleh kilaunya, tanpa menyadari hakikat di baliknya.
4. Akar Paganisme dan Konsep Dewa Matahari
Terdapat keterkaitan sejarah antara konsep globalisasi kuno dengan pemujaan Dewa Matahari yang dimulai sejak era Raja Namrud di Babilonia. Namrud adalah tokoh pertama yang berambisi menyatukan dunia di bawah kekuasaannya dan menganggap dirinya sebagai representasi Tuhan di bumi.
Jejak pemujaan matahari ini menyebar ke berbagai budaya (Amaterasu di Jepang, Ra di Mesir, Baal di Romawi). Bahkan, pengaruh tradisi pagan ini dinilai masih menyusup dalam peradaban modern dan praktik keagamaan tertentu, yang oleh sebagian kalangan ortodoks dianggap sebagai bentuk adopsi ajaran lama yang menyimpang dari kemurnian tauhid.
Pakar peradaban dunia dalam karya – karya mereka juga mengkaji terkait fenomena ini dari sudut pandang agamis dan juga astronomis. Perpaduan antara tafsir simbolis tersebut dan juga pemikiran pakar peradaban dunia menghasilkan pemahaman baru terkait hal ini.
1. Malek Bennabi: Siklus Dinamika Peradaban
Kutipan: “The civilization cycle shows how the centre of creative power moves from one part of the world to another, depending on the vitality of ideas and the will to change within societies. When a civilization declines, another rises in a different region.”
- Terjemahan: “Siklus peradaban menunjukkan bagaimana pusat kekuatan kreatif berpindah dari satu belahan dunia ke belahan dunia lainnya, bergantung pada vitalitas ide dan kemauan untuk berubah dalam masyarakat. Ketika suatu peradaban runtuh, peradaban lain akan bangkit di wilayah yang berbeda.”
- Penjelasan: Pemikiran Bennabi menjelaskan mengapa matahari peradaban bisa “terbit dari barat”. Ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan perpindahan pusat energi kreatif dan intelektual manusia. Saat dunia Islam atau Timur mengalami stagnasi, energi tersebut berpindah ke Barat, menjadikan mereka pusat cahaya peradaban baru bagi dunia.
2. Imran N. Hosein: Matahari Palsu dan Kegelapan Spiritual
Kutipan: “The false sunrise refers to the emergence of a western civilization that appears to bring light to the world—through technology, science, and human rights—but in reality conceals a spiritual darkness of secularism and materialism.”
- Terjemahan: “Matahari terbit yang palsu merujuk pada kemunculan peradaban Barat yang tampak membawa cahaya bagi dunia—melalui teknologi, sains, dan hak asasi manusia—namun kenyataannya menyembunyikan kegelapan spiritual berupa sekularisme dan materialisme.”
- Penjelasan: Syeikh Imran Hosein memberikan dimensi eskatologis yang kuat. Ia menegaskan bahwa apa yang kita anggap sebagai “pencerahan” dari Barat sebenarnya adalah “Matahari Palsu”. Cahayanya menyilaukan mata fisik melalui kemajuan material, namun membutakan mata batin karena mengabaikan dimensi ketuhanan (sekularisme).
3. Max Weber: Sangkar Besi Rasionalitas
Kutipan: “The Puritan wanted to work in a calling; we are forced to do so. For when asceticism was carried out of monastic cells into everyday life, and began to dominate worldly morality, it did its part in building the tremendous cosmos of the modern economic order.” (Kutipan ini sering berlanjut pada konsep Iron Cage).
- Terjemahan: “Kaum Puritan dulu ingin bekerja karena panggilan jiwa (ibadah); namun kita sekarang dipaksa untuk melakukannya. Sebab ketika nilai-nilai asketisme dibawa keluar dari sel biara ke dalam kehidupan sehari-hari dan mulai mendominasi moralitas duniawi, hal itu turut membangun tatanan ekonomi modern yang sangat besar (namun membelenggu).”
- Penjelasan: Weber menjelaskan dampak dari “matahari” Barat ini. Peradaban ini menciptakan tatanan ekonomi dan birokrasi yang rasional namun dingin, yang ia sebut sebagai “Iron Cage” (Sangkar Besi). Manusia modern terjebak dalam sistem materialistik yang efisien tetapi kehilangan ruh atau makna spiritualnya.