Oleh: Awwalia Sely Rahmawati
Jika kita mengintip berita yang baru-baru terjadi kemarin, yaitu berita tentang adanya salah seorang mahasiswa dari Universitas Udayana yang bunuh diri dikarenakan adanya bullying di lingkungan kampus tersebut. Problematika ini bukanlah suatu hal yang sepele, melainkan adalah kasus permasalahan besar yang harus diatasi. Kasus bullying sekarang ini sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan sekolah maupun kampus. Hal ini, harus segera diatasi dari hal kecil agar tidak terjadi risiko besar di masa yang akan datang.
Berdasarkan data gabungan JPPI dan KPAI, bentuk bullying yang paling banyak terjadi pada tahun 2025 adalah bullying fisik dengan persentase sekitar 55,5%. Kasus ini mencakup pemukulan, penendangan, atau bentuk kekerasan fisik lainnya. Disusul dengan bullying verbal atau psikis menempati posisi kedua dengan angka 29,3%. Bentuk ini mencakup hinaan, ejekan, atau pengucilan yang membuat korban merasa tertekan secara emosional.
Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah tren cyberbullying atau perundungan siber. Laporan SAFE – net pada triwulan pertama 2024 menunjukkan bahwa kasus perundungan siber meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 480 kasus. Lonjakan ini tidak lepas dari penggunaan media sosial yang masif di kalangan pelajar, di mana platform digital sering menjadi sarana perundungan yang sulit diawasi oleh guru maupun orangtua.
Bullying yang marak didunia maya sekarang ini, tidak hanya bullying verbal tapi juga cyber bullying. Melalui kolom komentar postingan banyak sekali komentar yang mengandung unsurbullying serta tuaian negatif terhadap seseorang. Bullying pada umumnya mengacu kepada fisik seseorang serta kekurangan seseorang, padahal semua orang memiliki kekurangan juga. Kekurangan harusnya dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas diri bukan untuk ejekan atau cemoohan. Dan Bullying ini bisa menyebabkan seseorang mempunyai trauma ataupun depresi berat. Maka dengan itu, membangun konsep resiliensi mental ini sangat penting ditengah gemparan bullying didunia maya.
Lalu Apa itu Resiliensi ?
Henderson & Milstein (2003) mengungkapkan bahwa resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari tekanan hidup, belajar dan mencari elemen positif dari lingkungannya, untuk membantu kesuksesan proses beradaptasi dengan segala keadaan dan mengembangkan seluruh kemampuannya, walau berada dalam kondisi hidup tertekan, baik secara eksternal atau internal.
Dapat disimpulkan bahwa resiliensi diri merupakan kemampuan individu dalam menghadapi, mengatasi dan menjadi kuat atas segala pengalaman buruk yang terjadi dalam hidupnya dan mengarahkannya pada pengambilan makna positif atas hal yang terjadi. Resiliensi sebagai sebuah kemampuan yang ada pada diri individu, memiliki beberapa fungsi yang dapat berguna bagi diri individu tersebut. Menurut Reivich dan Shatte (Mawarpury & Mirza, 2017), fungsi dari resiliensi diri yaitu agar mampu menghadapi masalah psikologis di lingkungan terdekat, dan agar bisa menciptakan lingkungan sosial yang baik dan sehat. Selain dukungan sosial, pola pikir juga berperan penting dalam membangun resiliensi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dweck bahwa pola pikir berkembang (growth mindset) dapat membantu individu melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh, bukan sebagai hambatan yang tidak dapat diatasi (Dweck, 2021).
Dampak Nyata Bullying
Bullying membawa dampak jangka panjang yang serius bagi korban. Anak-anak yang menjadi korban perundungan berisiko mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, bahkan trauma berkepanjangan. Dalam beberapa kasus ekstrem, bullying dapat memicu keinginan bunuh diri pada korban. Selain itu, bullying juga berdampak pada prestasi akademik. Anak yang mengalami perundungan cenderung kehilangan motivasi belajar, menurunnya konsentrasi, hingga enggan hadir di sekolah. Dan seseorang yang terkena kasus bullying ini juga membuat dirinya kehilangan rasa cinta terhadap dirinya sendiri serta rasa kepercayaan diri.
Strategi untuk meningkatkan ketahanan serta resiliensi mental
- Mulailah ciptakan Mindfulness dan Self love
Mindfulness membantu individu untuk fokus pada momen saat ini dan mengelola pikiran atau emosi negatif secara lebih baik. Latihan ini terbukti meningkatkan ketahanan mental dan mengurangi efek negatif dari stres (Kabat-Zinn, 2003). Mindfulness ini juga memunculkan rasa menerima semua apa adanya dan bentuk dari menghargai diri sendiri. Dengan menerapkan konsep self love dan mindfulness dapat menciptakan hubungan cinta yang sehat terhadap diri sendiri, menghadirkan rasa self care terhadap diri sendiri serta mengurangi risiko terjadinya gangguan mental.
- Ciptakan hubungan serta dukungan sosial yang baik
Memiliki jaringan dukungan sosial yang kuat (keluarga, teman, atau komunitas) memberikan individu lebih banyak sumber daya emosional saat menghadapi tantangan. Rasa terhubung dengan orang lain juga membantu mengurangi perasaan isolasi dan putus asa (Cohen & Wills, 1985). Dukungan sosial ini adalah hal yang sangat penting bagi seseorang yang terkena kasus bullying, terutama pada lingkup terdekat seperti keluarga, teman, saudara, dll.
- Kelola emosi dengan baik dan jangan mudah terpancing emosi
Kesadaran emosional membantu mengelola stres dan kecemasan seseorang dengan baik. Tingkat emosional dimasa remaja ini sering tidak kondusif. Dan Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengelola diri, seperti kemampuan: memotivasi diri, bertahan terhadap stres, mengelola emosi, bersosialisasi, dan hubungannya dengan Tuhan (Goleman, 2009). Orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan cenderung memiliki kemampuan emosional yang lebih bisa membantu menghadapi permasalahan sehari-hari dan cenderung tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Cerdas secara akademis saja ternyata tidak cukup untuk seseorang bisa mengontrol diri dan bersosialisasi dengan lingkungan, dibutuhkan kecerdasan emosional untuk menyeimbangkannya.
- Ingat bahwa diri kita ini juga berharga
Banyak kasus bunuh diri di zaman sekarang ini, karena sudah tidak ada rasa cinta terhadap diri sendiri serta merasa dirinya ini sudah tidak berharga. Self worth ini adalah pengakuan yang lebih global bahwa kita adalah manusia yang berharga dan layak untuk dicintai. Serta pengetahuan mendalam mengenai diri sendiri bahwa saya berharga, layak dicintai dan diperlukan dikehidupan ini.
- Menjaga Kesehatan Fisik
Ketahanan mental dan fisik sangat berkaitan erat. Olahraga teratur, tidur yang cukup, dan pola makan yang sehat membantu meningkatkan kapasitas seseorang untuk menghadapi tekanan mental. Kebiasaan fisik yang baik dapat memperkuat kemampuan otak untuk mengatasi stress.
Editor: Astyra Gita Kinanti