KALIMAHSAWA.ID, MALAYSIA – Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) di Malaysia pada bulan Januari menghadirkan edukasi tentang bahaya cyber bullying serta penguatan konsep sekolah aman dan ramah anak berbasis nilai-nilai Islam. Kegiatan ini merupakan kolaborasi tiga perguruan tinggi di Surakarta, yakni Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, dan Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, dengan menghadirkan para akademisi sebagai pembicara.
Kegiatan PkM Internasional tersebut dilaksanakan pada bulan Januari dan dipusatkan di Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah, Malaysia. Dalam rangkaian agenda edukasi itu, para siswa mendapatkan pembekalan mengenai literasi digital, pencegahan perundungan daring, serta penguatan karakter untuk membangun lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak.
Materi pertama disampaikan oleh Kaprodi Ekonomi Syariah Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta Izzun Khoirun Nissa, SE., M.E.K., AWP yang mengangkat tema “Cyber Bullying: Ancaman Mental Siswa di Era Digital”. Ia menekankan bahwa kehidupan siswa saat ini sangat dekat dengan gawai dan media sosial. Dunia digital, menurutnya, bukan lagi ruang terpisah, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari siswa.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa cyber bullying merupakan tindakan menyakiti orang lain melalui media digital, baik melalui komentar, pesan pribadi, unggahan, maupun interaksi di grup daring. Berbeda dengan perundungan langsung, cyber bullying dapat terjadi kapan saja dan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus. Dampaknya pun nyata, mulai dari ketakutan, kecemasan, gangguan tidur, gangguan akademis, hingga depresi.
Contoh cyber bullying yang sering terjadi antara lain menghina fisik, menyebarkan foto tanpa izin, membuat akun palsu untuk mengejek, hingga sengaja mengeluarkan seseorang dari grup. Ia menegaskan bahwa candaan hanya disebut candaan jika kedua pihak tertawa, bukan ketika satu pihak terluka.
Faktor penyebab cyber bullying di antaranya adalah pengaruh lingkungan sosial serta penggunaan teknologi yang tidak terawasi. Untuk itu, pencegahan perlu dilakukan melalui program pendidikan kesadaran, pola komunikasi terbuka di sekolah, pengembangan keterampilan sosial dan empati siswa, serta pengawasan penggunaan media sosial.
Materi berikutnya disampaikan oleh Rektor Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta Dr. Edy Muslimin, M.S.I dengan tema “Nilai-Nilai Islam dalam Membangun Sekolah Aman dan Ramah Anak”. Ia mengajak peserta merefleksikan apakah sekolah telah menjadi tempat yang benar-benar aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa.
Dalam pemaparan Dr. Edy Muslimin, ditekankan empat nilai utama dalam Islam yang dapat membangun budaya sekolah ramah anak, yakni nilai kasih sayang (rahmah), persaudaraan (ukhuwah), penghormatan dan adab (akhlak mulia), serta keadilan dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui perilaku tidak mengejek, tidak melakukan kekerasan, menghormati guru dan teman, serta bertanggung jawab atas ucapan dan tindakan, termasuk di ruang digital.
Selain itu, Wakil Rektor 2 Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta Dr. Meti Fatimah, M.Pd.I. juga tampil sebagai pembicara dalam rangkaian kegiatan di Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah tersebut. Ia memperkuat pesan pentingnya membangun budaya sekolah yang ramah anak melalui pendekatan edukasi dan nilai-nilai karakter, agar lingkungan belajar menjadi lebih aman, inklusif, dan berempati bagi seluruh siswa.
Kegiatan ini turut didukung oleh tim kolaborator lintas kampus, yakni Dr. Muh Nur Rochim Maksum S.Pd.I., M.Pd.I., Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi S.Pd, Alfan Rifai Lc., M.Pd., Viky Nur Vambudi S.Pd., M.Pd., Athia Tamyizatun Nisa, M.Pd., dan Aulia Rachma Fajria, M.Pd., yang bersama-sama memperkuat implementasi program edukasi lintas negara ini.
Melalui PkM Internasional yang digelar pada bulan Januari di Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah, Malaysia, peserta diharapkan tidak hanya memahami bahaya cyber bullying, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Islam dan pendidikan karakter dalam menciptakan sekolah yang aman, ramah, dan berempati. Edukasi ini menegaskan bahwa dunia digital membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial dalam setiap interaksi.