Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Siapakah Cendekiawan Berpribadi Di Panggung Aktor Intelektual Bangsa?

Dwi Kurniadi by Dwi Kurniadi
September 22, 2026
in Esai, Narasi
0
Siapakah Cendekiawan Berpribadi Di Panggung Aktor Intelektual Bangsa?
9
SHARES
55
VIEWS

Oleh: Dwi Kurniadi (Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Pertanyaan mendasar tentang “siapa sebenarnya cendekiawan berpribadi?” di negeri ini menjadi sangat relevan untuk digugat kembali, terutma saat menengok kondisi gerakan mahasiswa hari ini, tak terkecuali di tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sebagai organisasi kader yang didirikan oleh Moh. Djazman Al Kindi, IMM memikul mandat mulia mencetak akademisi Islam yang tak hanya cerdas secara akdemik, tapi juga berakhlak luhur dan peka terhadap realitas sosial. Pegangannya sudah sangat kokoh: Trikoda IMM yang meniscayakan perpaduan religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun, realitas di gelanggang sering kali tak seindah diktat teori. Ada jurang menganga antara nilai ideal dan praktik keseharian. Religiusitas yang semestinya menjadi fondasi moral justru luntur oleh pragmatisme sesaat. Tradisi intelektual yang diharap melahirkan karya berdampak menyusut jadi rutinitas seremonial nir-makna. Begitu pula humanitas; kepedulian pada kaum marginal kerap kalah oleh kesibukan birokrasi internal organisasi (Siregar, 2023).

Ironi ini makin tajam ketika sebagian kader justru lebih asyik bermanuver mengamankan “kursi empuk” jabatan struktural ketimbang memikirkan nasib umat. Bahkan, tak sedikit yang mulai lihai dan rapi dalam mengolah dana proyek. Jika pragmatisme akut ini dibiarkan, organisasi mahasiswa berisiko mati rasa, kehilangan perannya sebagai agen perubahan, dan hanya menjelma menjadi pabrik pencetak elite baru.

Padahal, gagasan cendekiawan berpribadi sangat seirama dengan Intelektual Profetik Kuntowijoyo (Dartim, 2020): humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga pilar ini adalah cermin murni Trikoda IMM. Transendensi adalah napas religiusitas, liberasi mewujud dari intelektualitas kritis, dan humanisasi adalah bukti nyata humanitas. Secara konseptual, IMM punya amunisi ideologis yang luar biasa. Sayangnya, syahwat pragmatisme sering kali membuatnya seolah sekadar utopia.

Berangkat dari kegelisahan saya inilah, esai ini saya renungkan kemudian saya tulis untuk membedah sebuah diskursus: “Siapa sebenarnya cendekiawan berpribadi di panggung aktor intelektual bangsa?” Tulisan ini hadir sebagai refleksi kritis atas kesenjangan nilai dan realitas. Sebab, kemajuan bangsa tak cukup ditopang deretan orang pintar. Kita mendesak hadirnya mahasiswa berintegritas, berempati, dan berani bergerak. Tanpanya, gerakan intelektual hanyalah jasad yang kehilangan ruh.

Intelektualitas yang Kehilangan Arah

Bicara wacana “Cendekiawan Berpribadi” menuntut kita berani melepas topeng dan menengok kondisi “dapur” pergerakan hari ini. Realitasnya, arus utama gerakan mahasiswa tak terkecuali IMM sedang dihadapkan pada ujian disorientasi serius. Kita kerap terjebak rutinitas organisasi yang menjemukan, berputar pada birokrasi kampus, dan perlahan kehilangan daya kritis (Harahap dkk., 2021). Aktivitas intelektual menyusut maknanya, seolah hanya diukur dari megahnya panggung seminar atau bagusnya desain pamflet. Kita lupa bertanya: dari semua kepanitiaan melelahkan itu, berapa banyak warga marginal yang benar-benar dibela dan diberdayakan?

Kondisi ini makin parah kala nalar kritis kader dibajak pragmatisme kekuasaan. Meminjam kacamata hegemoni Antonio Gramsci (1971) , mahasiswa kini rentan terhegemoni oleh sistem yang memanjakan mereka. Sistem politik kampus sering membuat mahasiswa lebih berhasrat sikut-sikutan mengejar jabatan struktural atau fasilitas organisasi, ketimbang memilih jalan sunyi menjadi “intelektual organik” yang sudi turun ke jalan berlumpur membersamai penderitaan rakyat (Afandi, t.t.).

Di akar rumput, masalahnya tak kalah pelik. Perkaderan yang mestinya menjadi kawah candradimuka pencetak pemikir tajam kadang melenceng jadi ajang kumpul-kumpul semata demi merawat eksistensi tongkrongan. Ini adalah alarm keras; tradisi intelektual di tubuh IMM harus segera direvitalisasi agar tak mati tertelan pragmatisme internal (Labib, 2026). IMM tidak boleh kerdil menjadi sekadar “pabrik pencetak proposal” demi mengejar anggaran kampus. Lebih dari itu, IMM harus kembali pada khitahnya sebagai laboratorium pemikiran progresif yang berani memihak kaum mustadhafin, mereka yang tertindas dan dibungkam sistem (Suriyati dkk., 2024).

Menghidupkan Nalar Profetik sebagai Jalan Keluar

Untuk keluar dari jebakan pragmatisme dan rutinitas kosong tersebut, kita butuh pijakan yang mampu menyatukan kembali kecerdasan akal, keluhuran moral, dan keberanian bertindak. Di sinilah gagasan Cendekia Berpribadi menemukan jodoh teoretisnya melalui paradigma Intelektual Profetik dari Kuntowijoyo (2006). Beliau menawarkan tiga pilar relevan untuk membangunkan mahasiswa dari tidur panjang di menara gading (Nur Alfiyani & Saliman Saliman, 2024).

Pilar pertama adalah humanisasi, yakni ikhtiar memanusiakan manusia dari berbagai dehumanisasi modern. Seperti sistem ekonomi yang mencekik si miskin, atau algoritma digital yang mereduksi manusia sekadar menjadi data. Pilar kedua, liberasi, yakni semngat membebaskan rakyat dari ketidakadilan struktural yang membelenggu hak hidup layak mereka (Aisy, 2024). Pilar krusial ketiga adalah transendensi, yakni mengikat seluruh peluh perjuangan sosial murni pada nilai ketuhanan, agar manusia tak menjadi tuhan atas manusia lainnya.

Menariknya, ketiga pilar profetik ini ibarat cermin jernih yang memantulkan wajah murni Trilogi IMM. Pilar transendensi adalah ruh religiusitas kita, rem cakram yang menjga pergerakan tetap beradab dan tak beringas. Pilar liberasi adalah manifestasi intelektualitas kritis untuk berani membongkar kebobrokan sistem (Sari & Arif, 2020). Sementara pilar humanisasi adalah wujud konkret humanitas, di mana ilmu diabdikan untuk kesejahteraan umat. Dengan memadukan konsep profetik dan Trilogi IMM, cendekiawan berpribadi bukan lagi angan-angan utopis, melainkan rumusan ideologi tegas yang siap dieksekusi (Lestari, t.t.).

Dari Mimbar Kampus ke Realitas Umat

Pertanyaannya, bagaimana menerjemahkan ideologi keren ini ke dunia nyata? Di sinilah identitas cendekiawan berpribadi diuji. Gerakan mahasiswa tak boleh lagi asyik sendiri dengan bahasa melangit di warung kopi atau sekadar berteriak di mimbar kampus yang megah. Pengetahuan harus rela diturunkan derajatnya agar bisa dipahami di jalanan, pasar tradisional, desa terpelosok, hingga ke ruang obrolan digital (Nova Nafisah Zulfa & Muhamad Parhan, 2024).

Pertama, kader IMM harus merombak pola advokasi dari yang reaksioner (hanya turun saat isu viral atau FOMO) menjadi gerakan sosial berkelanjutan. Berdemonstrasi itu penting, tapi advokasi tak boleh berhenti saat toa dimatikan. Kita harus berani menginisiasi pemberdayaan ekonomi lokal, membangun sekolah literasi anak jalanan, dan konsisten mengawal kebijakan publik di daerah masing-masing. Inilah wujud nyata keringat liberasi dan humanitas (Wansyah dkk., t.t.).

Kedua, di era disrupsi penuh hoaks dan misinformasi, cendekiawan berpribadi wajib “turun gelanggang” merebut ruang publik. Mengacu pada gagasan Jurgen Habermas (1989) tentang ruang publik deliberatif, mahasiswa memikul tanggung jawab moral menyehatkan isi media sosial (Tricana, 2013). Alih-alih ikut menyebar debat kusir demi engagement murahan, kader IMM justru harus hadir menetralisir racun digital. Kita harus aktif memproduksi narasi pencerahan, meluruskan disinformasi, dan menjadi pemandu akal sehat bagi masyarakat luas (Sugianto dkk., 2021).

Pada akhirnya, intelektualitas bukan sekadar urusan selembar ijazah atau seberapa fasih mengutip teori filsafat Barat dan Timur. Intelektualitas sejati adalah seberapa berani kita menggunakan ilmu untuk menantang ketidakadilan.  Mahasiswa yang banga menyandang gelar aktivis, namun dengan angkuh memalingkan muka dari penderitaan masyarakat di sekitarnya, sejatinya telah mengkhianati nuraninya sendiri (Safrudin dkk., 2023).

Cendekia berpribadi menuntut kita rela berkeringat dan lelah. “Bergerak dan Berdampak” bukan sekadar jargon manis perayaan Milad ke-62 IMM, melainkan sumpah setia bahwa selama ketidakadilan masih bernapas, kaum terpelajar tak akan duduk diam. Pemuda terpelajar adalah oase yang dinantikan negeri yang kehausan ini. Sebab pada akhirnya, ibarat suatu benda yang mutlak membutuhkan ruang untuk eksis, aksi pergerakan kader IMM juga mutlak membutuhkan cinta kepada umat agar ia benar-benar nyata terjadi. Tanpa cinta pada kemanusiaan, gerakan kita hanyalah bunyi bising yang akan hilang ditelan angin.

Penutup

Pada akhirnya, “Cendekiawan Berpribadi” bukanlah mahkota kebanggaan, melainkan beban sejarah. Bangsa ini sudah kelebihan orang pintar, namun krisis sosok peduli, jujur, dan berani. Trikoda IMM, religiusitas, intelektualitas, dan humanitas harus segera diturunkan dari langit idealisme ke aspal kenyataan; tak sekadar hafalan perkaderan, tapi menjelma etos kerja keseharian.

Untuk mewujudkan itu, ada dua langkah strategis. Pertama, IMM wajib merombak budaya organisasinya. Hentikan pemujaan pada acara seremonial yang membakar anggaran namun miskin substansi, lalu gantikan dengan tradisi riset dan advokasi sosial berkelanjutan di akar rumput. Kedua, kader harus didorong keluar dari zona nyaman untuk bertransformasi menjadi intelektual organik. Kita harus rela mengotorkan tangan demi mengurai masalah riil masyarakat; entah melalui pemberdayaan ekonomi desa, pendampingan hukum, atau perang narasi akal sehat di ranah digital.

Menjadi cendekiawan berpribadi adalah komitmen seumur hidup. Pada muaranya, jubah kebesaran mahasiswa bukanlah almamater yang ia kenakan, melainkan seberapa dalam jejak kebaikan yang ia tinggalkan. Tema “Bergerak dan Berdampak” takkan terwujud jika hanya menjadi pajangan spanduk.

Sebagai pamungkas, siapakah Cendekiawan Berpribadi di panggung aktor intelektual bangsa? Ia jelas bukan mereka yang asyik memeluk kursi jabatan atau penjaja retorika di mimbar kampus. Cendekiawan Berpribadi adalah kader yang berani meruntuhkan keangkuhan menara gadingnya demi menyembuhkan luka rakyat. Ia adalah manusia utuh: nalarnya menyala, spiritualitasnya membumi, dan tangannya rela berkeringat menebus ketidakadilan. Di pundak merekalah, perjuangan bangsa ini akan terus hidup, bergerak, dan berdampak.

Terkait

Tags: Al-QuranIkatan Mahasiswa MuhammadiyahIslamMuhammadiyahpendidikanPeradaban
Previous Post

Lelah Mental dan Kekosongan Batin: Reaktualisasi Psikologi Jiwa Ibnu Sina di Era Distraksi Digital

Next Post

30 Mahasiswa Internasional Bergabung, UMS Kian Kokoh Bangun Kampus Berkelas Global

Dwi Kurniadi

Dwi Kurniadi

Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS

Next Post
30 Mahasiswa Internasional Bergabung, UMS Kian Kokoh Bangun Kampus Berkelas Global

30 Mahasiswa Internasional Bergabung, UMS Kian Kokoh Bangun Kampus Berkelas Global

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.