Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Sebegitu Kapitaliskah Tuhan?

M. Khusnun Niam by M. Khusnun Niam
Juni 11, 2020
in Narasi
0
Doa penutup kegiatan adalah doa yang cukup penting, mengingat doa tersebut harus selalu kita ucapkan setiap mengakhiri kegiatan.
18
SHARES
105
VIEWS

Cerpen – Tempo hari seorang pengembara agama (Tuhan) sedang berjalan-jalan di jalanan kampung desanya. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan teman kecilnya di persimpangan jalan, mereka saling bertemu mata lalu saling melambaikan tangan. Akhirnya, iapun menghampiri temannya dan bergegas menyebrangi jalanan yang kian ramai.

Pada saat perjalanan penyebrangannya, ia bingung dengan tampilan teman kecil dikampungnya ini. Sejauh ingatannya, temannya ini belajar agama di suatu tempat lumayan jauh dan ia sejak dulu memang sudah senang dalam bergelut terhadap agama. Akhirnya, ia sampai di depan tempat temannya berdiri lalu bersalaman sambil bertanya,

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

“Gimana, kabarnya sekarang? Sepertinya semakin cinta agama? keluarga di rumah sehat?”, sambil tersenyum, tanya sang pengembara.

“Alhamdulillah khoir, iya alhamdulillah ana (saya) seperti ini. Alhamdulillah keluarga di rumah sehat”, sambil tersenyum juga memegangi sorban di bahu kirinya, jawab temannya.

“Ouh gitu, syukur deh. Kamu sekarang ngilang kemana aja, kok bisa berubah seperti ini? kenapa bisa sampai begini ya?”, sambil heran, tanya sanga pengembara.

“Sejak lulus SD, ana melanjutkan sekolah sambil mondok di pesantren. Sudah sekitar 11 tahunan ana (saya) mondok, baru bulan kemaren wisuda sarjana. Alhamdulillah”, sambil senyum dan membenarkan sorban di bahu kirinya, jawab ia.

“Mantap ya. Sekarang, sudah jadi orang penting desa. Identitasmu sakral sekarang, sarat agama dan akhirat. Apalagi pemahamanmu tentang agama dan akhirat, pasti sudah hebat.”, puji sang pengembara.

“Iya gini, akhirnya perjuangan ana jadi gini selama 11 tahun mondok. Seperti sudah dekat akhirat, surga”, jawab ia.

“Wah, mantap ya. Ouh iya, sejak kapan tampilan km begini (jubah, sorban, kupluk)?”, tanya sang pengembara sambil nunjuk pakaian.

“Iya, begini agama yg ana pahami. Seharusnya semua orang termasuk antum(kamu) kek begini tampilannya. Insya Allah surganya sama kita”, sambil memegangi dada, jawab ia.

“Gitu ya. Emang apa hubungannya surga dan pakaian ya?”, tanya sang pengembara kebingungan.

“Kalau pakaiannya jelek atau nabi tidak pernah pakai, mana bisa kita masuk surga?!”, jawab ia.

Fenomena

“Emang harus begitu ya beragama? kayaknya kasian orang-orang seperti saya, ngaji sama ustadz kampung, ustadnya juga ngajarin seadanya, bahkan pakaian pun biasa”, tanya sang pengembara sambil mengungkap isi kepalanya.

“Harus diusahain biar bisa kek gini. Jangan tiru yang tidak-tidak. Bisa jadi yang mengajari antum (kamu) itu tidak benar atau sebenarnya tidak tahu, seperti orang-orang di kampung kita”, jawab ia.

“Ouh gitu ya?. Siap siap! makasih ya. Semoga sukses. Saya pulang dulu”, ajak sang pengembara sambil pamitan.

“Afwan. Ana juga ini mau ngisi pengajian di masjid situ”, jawab ia.

Akhirnya mereka berdua bersalaman dan saling meninggalkan tempat disitu, karena arahnya berlawanan. Namun, keheranan sang pengembara terus membara dan memuncak di kepala berupa pertanyaan.

“Sebegitu kapitaliskah Tuhan dalam memasukan manusia ke surga? atau sebenarnya Tuhan sebenarnya telah dibunuh oleh pemahaman orang-orang baru yang belajar agama? entahlah …” (isi kepala sang pengembara).

Selain itu, dia juga heran atas sikap temannya itu ketika menyalahkan ustadnya dan sedulur kampungnya. Padahal ustadz itu yang mengajarinya dulu mengaji bahkan membimbingnya mencintai agama, juga ia dibesarkan bersama orang-orang kampungku yang kepeduliannya luar biasa.

Sudahlah, ini hanya buatan, semoga dapat mengajak kita lebih dalam belajar agama dan memahaminya secara kritis. Anggap saja tulisan ini, celoteh aksara yang tidak berbentuk kalimat.

Terkait

Tags: CerpenKapitalisTuhan
Previous Post

Misykat Al-Anwar: Tafsir Sufistik Tentang Cahaya

Next Post

Mengenang 119 Tahun Sang Proklamator: Soekarno dan Pemikirannya

M. Khusnun Niam

M. Khusnun Niam

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Next Post
Mengenang 119 Tahun Sang Proklamator: Soekarno dan Pemikirannya

Mengenang 119 Tahun Sang Proklamator: Soekarno dan Pemikirannya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.