Oleh: Syakira Maghituf
Aku tumbuh dalam masyarakat yang terlalu sering menjadikan tubuh perempuan sebagai tolak ukur moral. Sejak kecil, kata “perawan” dan “tidak perawan” diajarkan seolah dua dunia yang memisahkan siapa yang layak dihormati dan siapa yang patut dikasihani atau lebih buruk, dihakimi.
Aku pernah melihat bagaimana perempuan lain, korban kekerasan seksual, disebut “rusak,” “hina” padahal di dalam luka mereka tersimpan trauma yang bahkan tak sanggup disebutkan dengan suara keras. Dan di situlah aku mulai sadar, keperawanan bukanlah ukuran kemuliaan atau bahkan kesuksesan, tapi cermin dari betapa sempitnya cara kita menilai manusia.
Sampai hari ini, masih banyak orang menganggap bahwa keperawanan adalah simbol kesucian, kebersihan, atau kehormatan. Seolah selaput tipis yang disebut hymen bisa menentukan seberapa layak seorang perempuan dihormati, padahal menurutku, seharusnya kami di hormati bukan karena kami masih perawan tapi karena kami perempuan adalah manusia!
Medis sudah lama menyatakan: bentuk hymen tidak pernah bisa dijadikan bukti seseorang masih “perawan” atau tidak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan secara tegas menyebut virginity testing sebagai praktik tidak ilmiah, melanggar hak asasi, dan berpotensi menyebabkan trauma psikologis. Tapi di banyak tempat, mitos itu tetap dipertahankan dihidupkan oleh budaya malu, oleh tafsiran yang sempit, dan oleh masyarakat yang belum bisa membedakan moralitas dari pengawasan tubuh.
Kita jarang sadar bahwa di balik obsesi terhadap keperawanan, ada sistem besar yang bekerja “patriarki”. Yang akhirnya kami Perempuan terluka di bawah sistem yang memberi nilai pada manusia bkan karena siapa mereka, selembut apa hatinya, sebnayak apa kebaikan yg di tebarnya.
Tapi karena patuh pada label yang di ciptakan pada konstruk sosial.Perempuan harus selalu perawan agar di anggap baik dan semua yang di antaranya di surug lenyap agar dunia tetap nyaman. Tapi nyaman bagi siapa? Menurutku ini bukan hanya patriarki/ketidakadilan, ini perbudakan yang di bungkus moralitas!
Aku sering terenung dan berfikir kenapa sih semua ini di bentuk oleh logika yang mengukur nilai manusia dari label yang bisa mereka penuhi. Aku rasa ini tidak fair, kami semua kehilangan! Karena kemanusiaan kita di pangkas agar cocok dalam kotak sempit itu saja.
Konstruk menjadikan tubuh perempuan sebagai simbol kehormatan keluarga, seolah hidup perempuan hanya berarti sejauh ia “tidak disentuh.” Padahal, bagaimana jika “sentuhan” itu bukan pilihan? Bagaimana jika yang terjadi adalah kekerasan, pemaksaan, ancaman, atau manipulasi?
Data Komnas Perempuan tahun 2024 mencatat lebih dari 30 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, dan hampir setengahnya adalah kekerasan seksual. Di balik angka itu, ada nama-nama yang dihapus, suara yang dipatahkan, dan masa depan yang dicabut karena stigma. Para korban tak hanya kehilangan rasa aman, tapi juga kehilangan hak untuk dipandang sebagai manusia yang utuh.
Yang lebih menyakitkan, di ruang publik, korban kekerasan seksual kerap diminta “membuktikan” bahwa dirinya tak bersalah. Padahal, bagaimana membuktikan hal yang tak pernah dia minta? Perempuan yang diperkosa sering ditanya pakaian apa yang dia kenakan, di mana dia berada, kenapa dia tidak melawan.
Lalu ketika semua alasan itu dijawab, yang tersisa hanyalah tuduhan baru: “Dia sudah tidak perawan lagi.” Inilah bentuk kekerasan kedua yakni, kekerasan simbolik, kata Pierre Bourdieu, di mana masyarakat memaksa korban menanggung malu atas sesuatu yang bukan kesalahannya.
Aku pernah berbicara dengan seorang teman yang menjadi korban kekerasan seksual di usia 17 tahun. Ia bercerita bagaimana keluarganya lebih sibuk menyembunyikan “aib” daripada menenangkan traumanya.
“Sejak hari itu,” katanya pelan, “aku merasa hidupku selesai.” Padahal yang seharusnya selesai bukan hidupnya, tapi budaya yang membuat perempuan merasa dirinya kotor karena sesuatu yang dilakukan orang lain. Dan itu tak akan selesai selama kita terus menjadikan keperawanan sebagai syarat untuk disebut “perempuan baik-baik.”
Di titik ini, pertanyaan yang muncul di benakku menjadi lebih dalam, kenapa kita begitu takut pada perempuan yang tidak sesuai dengan mitos kesucian? Apa mungkin karena perempuan yang tak lagi diukur oleh keperawanan adalah perempuan yang bebas dan kebebasan perempuan selalu dianggap ancaman?
Kebebasan untuk mendefinisikan tubuhnya sendiri, untuk tidak tunduk pada label, untuk menolak diukur dengan standar moral orang lain. Dan kebebasan seperti itu menakutkan bagi sistem yang dibangun dari pengawasan terhadap tubuh perempuan.
Padahal nilai manusia tidak pernah lahir dari anatomi, tapi dari kesadarannya.
Keberanian untuk bangkit setelah trauma, kemampuan untuk mencintai diri sendiri setelah dihancurkan dunia itulah yang seharusnya disebut kehormatan. Keperawanan tidak memberi nilai lebih pada seseorang, sama seperti kehilangan keperawanan tidak mengurangi nilai kemanusiaannya.
Hanya masyarakat yang terperangkap mitos yang masih mengira tubuh bisa menjadi parameter moral. Aku percaya, kita sedang hidup di masa di mana perempuan mulai menulis ulang kisahnya sendiri. Bukan lagi kisah tentang siapa yang menyentuh tubuhnya,
Pun menurutku menjadi perempuan di masyarakat yang masih mengukur nilai lewat tubuh adalah perjuangan yang melelahkan. Tapi menjadi manusia yang menolak ukuran itu itulah bentuk perlawanan yang paling radikal. Karena saat kita berhenti menilai perempuan dari keperawanannya, kita sedang memutus rantai panjang penghakiman yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kita sedang belajar melihat manusia dari apa yang ia pikirkan, perjuangkan, dan cintai bukan dari apa yang telah terjadi pada tubuhnya.
Jadi, ketika seseorang bertanya, “Apakah kamu masih perawan?” Jawaban paling jujur mungkin bukan “ya” atau “tidak,” tapi “Mengapa itu penting bagimu?”
Pertanyaan itu membalikkan arah pandang dari tubuh ke kesadaran, dari mitos ke kemanusiaan. Karena sejatinya, kehormatan tidak pernah ada di antara selaput yang bisa robek, tapi di antara nilai yang tak bisa diukur. Dan mungkin, di sanalah letak kesuksesan yang sebenarnya, bukan menjaga keperawanan, tapi menjaga kemanusiaan.
Untuk teman-teman perempuanku, Mungkin dunia tidak akan pernah benar-benar tahu betapa beratnya menanggung sesuatu yang direnggut tanpa izin. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa kamu tetap layak mencintai dan dicintai, tanpa harus membuktikan apa pun. Keperawananmu bukan tiket menuju penghargaan, dan kehilangannya bukan kutukan. Kamu lebih besar dari peristiwa yang menimpamu.
Luka itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang, tapi ia bisa berubah bentuk menjadi ruang yang menumbuhkan empati, keberanian, dan kekuatan yang tak semua orang punya. Jadi, jika suatu hari kamu menatap cermin dan merasa dunia menilai tubuhmu berbeda, ingatlah tidak ada yang hilang dari dirimu. Kamu masih utuh, hanya saja kini lebih berani.
Dan barangkali, itu bentuk kesuksesan yang paling sejati Adalah bertahan, meski dunia berusaha menghancurkanmu, dan tetap memilih untuk hidup dengan kepala tegak.
Editor: Arsy Sekar Kemuning