Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz
Barangkali setiap organisasi pernah memiliki musim semi. Musim ketika gagasan tumbuh lebih cepat daripada ambisi. Ketika malam-malam di sekretariat dipenuhi aroma kopi, lembaran buku yang usang, dan perdebatan yang tak mengenal jam pulang. Di masa itu, menjadi kader bukan sekadar mengenakan jas IMM. Ia adalah kesediaan untuk membiarkan diri dibentuk oleh pertanyaan-pertanyaan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pernah hidup dalam musim seperti itu. Ia tidak hanya menawarkan ruang berkumpul, melainkan sebuah keyakinan bahwa ilmu dapat menjadi ibadah, bahwa iman dapat menjadi keberanian, dan bahwa kemanusiaan adalah alasan mengapa perjuangan harus terus dilanjutkan. Tri kompetensi Dasar (Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas) bukan sekadar rumusan organisatoris, tetapi kompas yang menunjuk ke arah masa depan IMM itu sendiri.
Namun waktu, sebagaimana sungai, tidak pernah berhenti mengalir.
Di tepian abad digital, ketika algoritma lebih cepat daripada perenungan, ketika unggahan lebih sering dibaca daripada buku, muncul pertanyaan yang mengusik, apakah narasi atau ideologi besar itu masih dipercaya? Ataukah ia telah menjadi gema yang terdengar indah, tetapi kehilangan pendengarnya? Di sinilah Jean-François Lyotard hadir, bukan sebagai hakim, melainkan sebagai pembaca zaman.
Ketika Cerita Besar Kehilangan Langitnya
Dalam The Postmodern Condition, Lyotard menulis bahwa dunia postmodern ditandai oleh ketidakpercayaan terhadap metanarasi cerita-cerita besar yang dahulu memberi manusia arah dan legitimasi. Dahulu, manusia percaya sejarah memiliki tujuan. Hegel menyebutnya Roh Absolut. Marx menyebutnya revolusi proletar. Semua percaya bahwa di ujung jalan terdapat satu matahari yang sama.
Namun abad kedua puluh memperlihatkan ironi yang kejam. Teknologi melahirkan perang. Rasionalitas melahirkan birokrasi pembunuhan. Kemajuan ternyata dapat berjalan berdampingan dengan kehancuran. Kepercayaan itu retak dan retakan itu menjalar hingga ke ruang-ruang organisasi sekalipun IMM yang sedang kita bahas.
IMM, dalam cara yang berbeda juga memiliki metanarasinya sendiri. Ia percaya bahwa kaderisasi mampu melahirkan manusia paripurna, religius tanpa fanatik, intelektual tanpa arogansi, humanis tanpa kehilangan imannya. Narasi itulah yang dahulu menghidupkan forum-forum perkaderan, menggerakkan diskusi filsafat hingga dini hari dan membuat seorang kader merasa bahwa perjuangannya memiliki makna yang melampaui dirinya. Tetapi sebuah narasi tidak mati karena ia salah. Ia mati ketika orang berhenti mempercayainya.
Barangkali saya termasuk bagian dari orang yang berada di persimpangan tersebut. Saya selalu meresahkan ikatan perhari ini jauh dari tujuannya. Dengan minimnya pengalaman saya dalam ber IMM, saya selalu mempertanyakan sistem internal yang saya anggap “Bobrok”. Kira-kira apa yang bobrok? Politik uang? Sistem kaderisasi? Tata kelola organisasi? Dan silahkan ditambahkan sendiri.
Saya sangat mengharapkan adanya sistem meritokrasi dalam tubuh IMM. Besar harapan seluruh kader memahami bahwa sistem meritokrasi bisa menciptakan dinamika yang sehat dan bisa menjawab keresahan setiap kader IMM. Dalam ranah formaturan misalnya, pemilihan ketua bidang atau sekretaris didasari atas kompetensi dan loyalitasnya, bukan karena kesepakatan gerbong deal-dealan sebelum agenda pemilihan. Ini termasuk ironi yang masih mekar tumbuh subur dalam proses regenerasi IMM.
Membaca, menulis, dan berdiskusi adalah bare minimum menjadi seorang kader, karena agenda tersebut menjadi ruh nafas gerakan. Tetapi, seiring berjalannya waktu hal tersebut seakan usang dimata sebagian kader. Selayaknya akademisi, dunia pun menanti karya, penelitian, inovasi, ide dan gagasan kita.
Kita adalah bagian dari sang Khaliq, bukan pencemooh. Akal kita diberikan untuk membuka rahasia langit, bukan untuk meminta belas kasih. Bumi yang baru akan lahir dari karyamu, bukan dari cela, bukan dari fitnah. Kamu lebih besar dari gunung, lebih luas dari lautan, kamu ksatria, bukan korban. Bukan dari penguasa, bukan dari pemburu harta, dan bukan dari orang lain. Perubahan akan lahir darimu. Begitulah kutipan quotes dari Prof Bagus Muljadi.
“Modal berapa buat nyalon ketum?” Adalah sedikit banyaknya dari contoh degradasi moral dalam internal kader IMM. Kita selalu tidak sepakat dengan konsep politik uang dalam pemerintahan Indonesia seperti serangan fajar, sembako pra pemilu, dll. Tetapi, disatu sisi kita pun mempraktekan dalam skala internal organisasi. Apakah miris?
Di Antara Jas Merah dan Cahaya Akar Rumput
Hari ini, seorang mahasiswa memasuki IMM dengan seribu alasan. Ada yang datang untuk mencari teman. Ada yang mencari pengalaman organisasi. Ada yang mengejar sertifikat. Ada pula yang sekadar memenuhi syarat beasiswa kader. Motivasi itu tidak keliru. Manusia memang selalu datang dengan kebutuhan yang berbeda. Namun ketika setiap orang membawa cerita sendiri-sendiri tanpa lagi menemukan cerita bersama, organisasi perlahan berubah menjadi rumah yang dihuni banyak orang, tetapi kehilangan ruang keluarga. Lyotard menyebut lahirnya narasi-narasi kecil (Petits récits).
Di dalam IMM, narasi kecil itu menjelma menjadi komisariat-komisariat dengan keberagamannya masing-masing. Ada yang bercorak diskusi intelektual. Ada yang bertumbuh melalui gerakan sosial. Ada yang menemukan denyutnya dalam media digital kreatif dan ada yang memilih jalan spiritual. Keragaman itu sesungguhnya indah. Tetapi seperti gugusan pulau yang kehilangan jembatan, keindahan dapat berubah menjadi keterpisahan.
Performativitas: Ketika Angka Menggantikan Makna
Lyotard memperingatkan bahwa masyarakat modern telah mengganti pertanyaan “apa yang benar?” menjadi “apa yang efektif?” Ia menyebut logika ini sebagai performativitas. Barangkali di sinilah kritik paling sunyi bagi ikatan kita tercinta. Sebuah program dinilai berhasil karena kuota pesertanya penuh. Sebuah kegiatan dianggap sukses karena pamfletnya viral. Sebuah kepengurusan dipuji karena laporan pertanggungjawabannya rapi. Padahal sejarah tidak pernah diubah oleh statistik semata.
Seorang kader mungkin hadir di setiap forum, tetapi tidak pernah benar-benar bertumbuh. Sebaliknya, seseorang yang hanya sekali mendengar sebuah gagasan dapat menghabiskan hidupnya untuk memperjuangkannya. Sayangnya, dunia digital lebih mudah menghitung kehadiran daripada kesadaran.
Di era algoritma, refleksi kalah cepat dibandingkan notifikasi. Maka, sekretariat yang dahulu menjadi inkubator pemikiran perlahan berisiko berubah menjadi ruang produksi konten. Bukan karena media sosial salah. Melainkan karena kita mulai mengukur kedalaman dengan jangkauan massa.
Generasi yang Berbicara dalam Serpihan
Ada sesuatu yang khas dari generasi hari ini. Mereka mampu berbicara kepada ribuan orang, tetapi kesulitan mendengar dirinya sendiri. Mereka memiliki banyak akun, banyak identitas, banyak panggung. Namun justru semakin sulit menemukan satu rumah tempat seluruh identitas itu dapat pulang.
Lyotard melihat dunia seperti ini jauh sebelum internet memenuhi genggaman manusia. Ia membayangkan sebuah masyarakat di mana pengetahuan menjadi komoditas, di mana legitimasi ditentukan oleh efisiensi, dan di mana cerita-cerita besar kehilangan wibawanya. IMM hidup tepat di persimpangan itu.
Ia mewarisi tradisi panjang Muhammadiyah yang dibangun oleh tajdid, ilmu, dan amal. Namun ia juga harus mendidik generasi yang lahir dalam budaya gulir tanpa akhir, budaya yang membuat satu menit terasa lebih berharga daripada satu bab buku. Tantangannya bukan lagi sekadar mengajarkan ideologi. Melainkan mengajarkan cara bertahan dari kebisingan dunia.
Membangun Cerita Setelah Keruntuhan
Meski demikian, membaca Lyotard tidak berarti menyerah pada relativisme. Ia tidak mengajak manusia membakar semua cerita. Ia hanya mengingatkan bahwa cerita yang hidup adalah cerita yang mau mendengar suara-suara kecil yang selama ini disisihkan. Mungkin IMM tidak membutuhkan narasi besar yang lebih keras. Ia membutuhkan narasi besar yang lebih rendah hati. Narasi yang tidak hanya berbicara dari struktur jabatan, tetapi juga duduk di lantai bersama kegelisahan kader. Yang mengajarkan filsafat bukan sebagai hafalan tokoh, melainkan sebagai cara memahami hidup. Barangkali itulah bentuk tajdid yang paling mendesak hari ini. Bukan mengganti identitas gerakan. Melainkan menghidupkan kembali alasan mengapa gerakan itu pernah lahir.
Kita perlu merefleksikan bagaimana keadaan rumah ikatan perhari ini. Kita perlu merefleksikan tujuan kita ber IMM tentunya. Atau lebih dalam lagi apakah kita sudah meniti jalan menjadi kader yang diharapkan para pendiri IMM terdahulu? Apakah kita masih merasa terbebani dengan hafalan ayat perkaderan? Atau apakah kita bisa sekadar membedakan antara Trikoda dan Trilogi IMM? Barangkali kita perlu menepi dan merenung sejenak.
Menyalakan Api yang Tak Terlihat
Api tidak selalu padam ketika cahayanya menghilang. Kadang ia hanya berpindah menjadi bara, menunggu seseorang yang bersedia meniupnya kembali. Runtuhnya narasi besar IMM bukanlah vonis atas akhir sebuah gerakan. Ia adalah undangan untuk mempertanyakan ulang apakah kita masih memperjuangkan makna, atau sekadar mempertahankan bentuk?
Sebab organisasi dapat bertahan dengan struktur. Ia dapat berjalan dengan administrasi. Ia dapat ramai oleh agenda. Namun sebuah gerakan hanya akan benar-benar hidup ketika cerita yang menghidupinya masih sanggup membuat seseorang rela berjalan dalam gelap, percaya bahwa di ujung perjalanan ada fajar yang belum tampak, tetapi layak diperjuangkan. Dan pada akhirnya dari esai ini bukan berarti saya paling IMM, tetapi bentuk IMM tetap menghargai dialektika dan sebagai sebuah bentuk gugatan intelektual.
Begitulah surat cinta untuk ikatan. IMM JAYA.
Editor: Arsy Sekar