Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Relevansi Tasawuf dalam Dimensi Tauhid

RedaksiKS by RedaksiKS
Oktober 19, 2023
in Tasawuf
0
Puasa

Source : Pixabay

78
SHARES
457
VIEWS

Seorang muslim mendengar kata tasawuf maupun tauhid mungkin sudah tidak asing didengar. Ilmu tauhid merupakan ilmu yang sangat penting bagi setiap muslim, karena dengan ilmu inilah kita sebagai umat islam dapat mengenal tuhan kita yaitu Allah swt sekaligus mengenal diri kita sendiri. Begitu juga sebaliknya, dengan kita mengenal diri kita sendiri kita juga dapat mengenal diri kita. Sebagaimana sabda rasulullah SAW:

من عرف نفسه، فقد عرف ربّه

TulisanTerkait

Ultimate Selfhood: Wacana Ontologis-Spiritual Seyyed Hossein Nasr

Tasawuf Sebagai Solusi di tengah Problematika Umat

Peran Tasawuf Sebagai Terapi Spiritual Modern

“Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,”

Artinya: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Dari hadist tersebut bisa kita pahami bahwa dengan mengenal diri sendiri, kita juga dapat mengenal siapa tuhan kita. Untuk lebih jelasnya, hadist tersebut bermaksud menjelaskan bahwa ketika seorang muslim telah mengetahui bahwa sifat-sifat yang telah tertaut didalam dirinya merupakan lawan atau kebalikan dari sifat Allah SWT.

Sebagai contoh, ketika seorang muslim telah mengetahui bahwa dirinya akan hancur, niscaya ia akan sadar dengan sendirinya bahwa Allah SWT mempunyai sifat Baqa’ (abadi). Begitu juga ketika ia menyadari jika dirinya diliputi dosa dan kesalahan, maka ia akan menyadari juga bahwa Allah SWT bersifat sebaliknya yaitu Maha Sempurna dan Maha Besar.

Maknanya atau kandungan yang lebih singkat lainnya adalah barangsiapa mengenal dirinya dengan kelemahan, kefakiran, kekurangan, kehinaan dan kerapuhan, (maka ia telah) mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan-Nya dan keindahan-Nya atas apa yang diharuskan ada pada keduanya.

Selain tauhid ada juga Ilmu tasawuf, keduanya tidak jauh berbeda serta memiliki banyak kesamaan. Bahkan, kedua ilmu tersebut saling berkaitan karena kemiripan dalam hal tujuan dan objek kajian. Jika kita lihat dari segi tujuan, kedua ilmu tersebut sama-sama bertujuan untuk mencari kebenaran tentang tuhan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan tuhan.

Sedangkan jika kita lihat dari segi objek kajian, Ilmu tauhid objek kajiannya adalah Tuhan dan hal yang berkaitan dengan tuhan. Sedangkan Ilmu Tasawuf objek kajiannya adalah tuhan, namun lebih condong kedalam upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya.

Untuk lebih jelasnya tasawuf merupakan cabang ilmu dalam agama Islam yang membahas tentang hubungan manusia dengan Allah SWT. Dalam dimensi Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf memandang bahwa Ilmu tauhid adalah dasar dari sejara ajaran Islam. Oleh karena itu kedua ilmu tersebut sangat berkaitan dan juga pemahaman tentang Tauhid yang benar dan kuat sangat penting dalam memahami Ilmu tasawuf.

Dalam dimensi tauhid, tasawuf sangat berperan besar serta  memiliki urgensi yang sangat tinggi. Karena dalam Ilmu Tasawuf dapat mendorong seseorang untuk senantiasa menjaga kesucian jiwa. Hal itu dapat meningkatkan kualitas ibadah serta kualitas hubungan seorang hamba dengan sang pencipta.

Karena dalam Ilmu Tasawuf terdapat ilmu-ilmu yang mepelajari tentang bagaimana menyucikan jiwa dan hati agar kita dapat mendekatkan hati kepada Allah SWT. Karena jika kita ingin mendekatkan diri kepada Allah maka hati kita harus suci dan bersih dari hal-hal yang bersifat duniawi. Seperti potongan hadis yang terdapat dalam kitab Arbain an-nawawi sebagai berikut;

“Innallaha ta’ala thoyyibun laa yaqbalu illatthoyyibaa(n)”

Artinya : “Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.”

Dalam hadist tersebut tercantum keterangan yang sangat jelas bahwa allah itu baik (suci), dan tidak menerima kecuali yang baik (suci). Maksud dari suci di sini adalah bersih dari perkara-perkara duniawi yang tidak ada hubungannya dengan Allah dan hal yang berkaitan dengan-Nya.

Untuk mengenal dan memahami ajaran tasawuf terdapat satu kitab karya Imam Al-Ghozali yang bernama Ihya’ ‘Ulumuddin. Kitab tersebut terdiri dari 4 juz yang masing-masing bab utama di bagi kedalam sepuluh pasal. Keempat bab utama tersebut  yaitu, bab utama tentang ibadah (rubu’ al ibadah), bab utama kedua adalah berkenaan dengan adat istiadat (rubu’ al ’adat), bab utama ketiga adalah berkenaan dengan hal-hal yang mencelakakan (rubu’ al-muhlikat) dan bab utama keempat berkenaan dengan maqamat dan ahwal (rubu’ al-munjiyat).

Namun perlu di ingat bahwa pemikiran Imam Al-Ghazali ini tak lepas dari kritikan yang cukup pedas dari beberapa Ulama salaf.  Selain itu mungkin terdapat anggapan tak masuk akal terlebih bagi para rasionalis dan ateis. Karena, pada dasarnya Tasawuf adalah sebuah upaya seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT. (taqarrub ilallah) dalam rangka mencapai ridha-Nya, dengan mujahadah melalui latihan (riyadah) spiritual dan pembersihan jiwa, atau hati (tazkiyah al-nafs).

Dari pemaparan di atas tersebut dapat di simpulkan bahwa Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan manusia dengan Allah SWT. Seperti bagaimana cara kita menyucikan jiwa dan lain sebagainya. Serta bagaimana tasawuf dalam dimensi tauhid, yaitu Tasawuf memandang bahwa Tauhid adalah dasar dari segala ajaran Islam. Oleh karena itu, pemahaman tentang Tauhid sangat berpengaruh dan begitu penting dalam memahami tasawuf.

Penulis : Moh. Faiqul Waffa (Mahasiswa UIN Surabaya)

Terkait

Previous Post

Palestina: Tanah Suci Bagi Tiga Agama

Next Post

Kebahagiaan dengan Ketenangan Hati

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Empat Hikmah Dari Sebuah Ketakwaan

Kebahagiaan dengan Ketenangan Hati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.