Kalimahsawa.id – Pembimbingan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) dilakukan terhadap mantan napi teroris bersama stakeholder baik pemerintah maupun Non Government Organization (NGO). Program yang dipimpin oleh BNPT ini diisi dengan program-program wawasan kebangsaan, keagamaan, dan pelatihan kewirausahaan.
Kristin Yuniastuti, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) di Bapas Surakarta mengatakan bahwa dalam reintegrasi ini banyak sekali tantangan yang dihadapi. Misalnya stigma yang tidak mendukung keberadaan napi di masyarakat. Maka petugas harus pandai menyikapi dengan cara sinergi terhadap pihak terkait.
Ia menyebut petugas juga harus menumbuhkan rasa percaya diri baik terhadap napiter maupun terhadap keluarga. Pendekatannya pun harus berbeda-beda untuk setiap napi.
“Reintegrasi tidak hanya dilakukan oleh petugas. Mahasiswa dan dosen sangat mungkin untuk ikut melakukan reintegrasi mantan napi. Hal tersebut bisa dilakukan dengan program-program yang ada,” ujarnya.
Hal ini ia sampaikan dalam Webinar #PancasilaLahirBatin yang diadakan oleh Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS UMS). Webinar ini diadakan secara daring pada Selasa (11/8).
Kristin mendorong mantan napiter di Surakarta untuk melakukan sesuatu. Menurutnya, negara sudah memberikan banyak hal kepada mantan napi, dan sekarang saatnya mantan napiter memberikan sesuatu kepada negara dan masyarakat.
Pada November 2019, Jack Harun, seorang mantan napiter bersama Yayasan Gema Salam mengadakan pembagian masker secara gratis. Mereka berhasil mengumpulkan kurang lebih enam ribu masker yang dananya berasal dari jejaring mereka sendiri, bukan dari pemerintah.
Selain masker, mereka juga membagikan nasi bungkus gratis, bingkisan lebaran kepada masyarakat kurang mampu dan marbot masjid. Kegiatan ini diapresiasi dengan sangat baik oleh Walikota Surakarta dan Gubernur Jawa Tengah.
“Saya sekarang meminta dari para napiter untuk membuat program sendiri, yang ditujukan kepada masyarakat dan negara. Maka, saya juga mengharapkan bantuan dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat untuk membantu menjalankan program-program ini,” ujarnya.
Hal ini bertujuan supaya para mantan napi terorisme ini bisa memiliki kehidupan yang layak, dan dapat kembali ke masyarakat tanpa stigma yang buruk.
Perempuan yang sudah biasa membimbing mantan napiter ini menyebut bahwa rehabilitasi dan reintegrasi sudah banyak dirasakan hasilnya oleh para mantan napi terorisme. Kehadiran pemerintah dan pihak ketiga memberikan banyak sekali manfaat. Bahwa para napiter kemudian merasa diperhatikan dan diterima baik oleh negara dan masyarakat.
Hal ini juga membuat mereka bangkit dari keterpurukan. Ini adalah salah satu bentuk kerja nyata. Walaupun tentu masih banyak kekurangan.
“Saya berharap mahasiswa tampil dan turut membantu mereka. Tentu masih ada yang menolak kehadiran petugas-petugas karena tingkat radikalisasi yang berbeda-beda. Namun kita akan selalu berusaha untuk melakukan pendekatan-pendekatan dengan pola yang berbeda,” tutupnya.
Reporter: Yusuf