Oleh: Lintang Praditasari Eka Putri
Kita hidup pada era yang sering disebut sebagai knowledge society, yaitu masyarakat yang bertumpu pada pengetahuan. Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat, profesi baru terus bermunculan, sementara keterampilan yang relevan hari ini bisa saja usang dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini menuntut setiap individu untuk memiliki kemampuan belajar secara berkelanjutan (lifelong learning), bukan hanya ketika berada di bangku sekolah atau perguruan tinggi. Dalam perspektif Islam, semangat belajar sepanjang hayat bukanlah konsep yang lahir dari perkembangan pendidikan modern. Jauh sebelum istilah lifelong learning diperkenalkan oleh UNESCO, Al-Qur’an telah menanamkan budaya belajar yang tidak mengenal batas usia maupun waktu. Salah satu landasan terkuatnya terdapat dalam firman Allah SWT:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah (Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'”
(QS. Thaha [20]: 114).
Menariknya, di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon banyak hal melalui doa, tetapi hanya satu hal yang secara eksplisit diminta untuk terus ditambah, yaitu ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki posisi yang sangat istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Semakin bertambah ilmu seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk mengenal Allah, memperbaiki akhlak, serta memberikan manfaat bagi sesama. Ayat ini bukan hanya doa yang dibaca sebelum belajar, melainkan juga sebuah filosofi kehidupan. Seorang muslim sejatinya adalah seorang pembelajar yang tidak pernah merasa selesai dalam menuntut ilmu.
Memahami Makna QS. Thaha Ayat 114
Ayat ini turun ketika Rasulullah SAW menerima wahyu. Dalam proses tersebut, beliau berusaha mengikuti bacaan Malaikat Jibril dengan cepat karena khawatir ada bagian wahyu yang terlewat. Allah kemudian menenangkan beliau agar tidak tergesa-gesa dan memerintahkan untuk berdoa:
“Rabbi zidni ‘ilma“
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini mengajarkan bahwa ilmu merupakan anugerah yang berasal dari Allah sehingga manusia harus senantiasa memohon tambahan ilmu kepada-Nya. Sementara itu, Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa doa tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk terus belajar.
Ayat ini mengandung beberapa pesan mendalam:
- ilmu adalah nikmat yang harus terus dicari;
- belajar memerlukan kesabaran dan ketekunan;
- tidak ada manusia yang mengetahui segala sesuatu;
- kerendahan hati merupakan syarat utama memperoleh ilmu yang bermanfaat.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i:
“Ilmu tidak akan diberikan kepada orang yang memberikan hanya sebagian usahanya. Ilmu akan diberikan kepada orang yang memberikan seluruh kesungguhannya.”
Konsep Lifelong Learner dalam Islam
UNESCO mendefinisikan lifelong learning sebagai proses belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan kompetensi. Dalam Islam, konsep tersebut telah menjadi bagian dari budaya keilmuan sejak masa Rasulullah SAW. Belajar bukan aktivitas yang dibatasi usia, profesi, ataupun status sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menujusurga.”
(HR. Muslim No. 2699).
Hadis ini menunjukkan bahwa perjalanan mencari ilmu merupakan perjalanan spiritual. Semakin seseorang belajar, semakin dekat pula ia kepada Allah. Oleh karena itu, seorang muslim ideal tidak pernah mengatakan, “Saya sudah cukup tahu.” Sebaliknya, ia selalu berkata, “Masih banyak yang harus saya pelajari.”
Karakter Lifelong Learner Berdasarkan QS. Thaha: 114
1. Rendah Hati terhadap Ilmu (Intellectual Humility)
Doa Rabbi Zidni ‘Ilma diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan manusia paling mulia dan penerima wahyu. Jika Nabi saja masih diperintahkan meminta tambahan ilmu, maka terlebih lagi umatnya.
Kerendahan hati intelektual berarti menyadari bahwa selalu ada pengetahuan baru yang belum kita ketahui. Sikap ini membuat seseorang lebih terbuka menerima kritik, menghargai pendapat orang lain, dan tidak mudah merasa paling benar.
“Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luasnya lautan ilmu yang belum ia ketahui.”
Karakter inilah yang membedakan orang berilmu dengan orang yang hanya merasa berilmu.
2. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
Kata “zidni” berarti tambahkanlah. Bentuk kata tersebut menunjukkan proses yang berkelanjutan, bukan permintaan yang sekali selesai. Seorang lifelong learner selalu memiliki rasa ingin tahu. Ia tidak puas hanya dengan jawaban sederhana, tetapi terdorong untuk membaca lebih banyak, berdiskusi, melakukan penelitian, dan mencoba pengalaman baru.
Albert Einstein pernah mengatakan:
“I have no special talents. I am only passionately curious.”
“Saya tidak memiliki bakat istimewa. Saya hanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar.”
Dalam Islam, rasa ingin tahu harus diarahkan kepada ilmu yang membawa manfaat, bukan sekadar memenuhi rasa penasaran.
3. Bersabar dalam Proses Belajar
Sebelum Allah memerintahkan doa tersebut, Allah terlebih dahulu melarang Nabi tergesa-gesa menerima wahyu. Pesan ini sangat relevan pada era digital saat ini. Banyak orang ingin memperoleh hasil instan tanpa melalui proses belajar yang mendalam. Padahal, ilmu membutuhkan waktu, latihan, dan konsistensi.
Imam Malik pernah berkata:
“Ilmu tidak diperoleh dengan banyaknya riwayat, tetapi dengan cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Kesabaran merupakan fondasi utama dalam membangun karakter pembelajar sepanjang hayat.
4. Menjadikan Belajar sebagai Kebiasaan Hidup
Belajar tidak berhenti setelah lulus sekolah, kuliah, atau memperoleh gelar akademik.
Seseorang yang memiliki karakter lifelong learner akan terus memperbarui pengetahuannya melalui:
- membaca buku;
- mengikuti pelatihan;
- menghadiri seminar;
- berdiskusi;
- melakukan penelitian;
- belajar dari pengalaman hidup.
Kebiasaan ini membuat seseorang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Charles Darwin pernah menyampaikan gagasan yang terkenal:
“Bukan yang paling kuat yang bertahan hidup, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.”
Belajar adalah bentuk adaptasi terbaik terhadap perubahan tersebut.
5. Mengamalkan Ilmu
Islam tidak memisahkan antara ilmu dan amal. Ilmu yang tidak diamalkan diibaratkan pohon tanpa buah.
Allah SWT berfirman:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11).
Namun, kemuliaan ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang dihasilkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ath-Thabrani).
Ilmu yang bermanfaat akan melahirkan solusi, inovasi, kepedulian sosial, dan akhlak mulia.
Relevansi QS. Thaha: 114 dalam Pendidikan Modern
Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), otomatisasi, dan transformasi digital, informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Namun, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar mengakses informasi, melainkan mengolah, mengevaluasi, dan menggunakannya secara bijaksana.
Di sinilah nilai QS. Thaha ayat 114 menjadi sangat relevan. Doa Rabbi Zidni ‘Ilma mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi membentuk karakter.
Bagi peserta didik, ayat ini menumbuhkan rasa ingin tahu, disiplin belajar, dan semangat membaca.
Bagi guru dan dosen, ayat ini menjadi pengingat untuk terus meningkatkan kompetensi profesional serta menjadi teladan dalam budaya belajar.
Bagi masyarakat luas, ayat ini mengingatkan bahwa setiap perubahan zaman harus dihadapi dengan kesiapan belajar, bukan dengan ketakutan terhadap perubahan.
Setiap kali mengucapkan “Rabbi Zidni ‘Ilma”, sesungguhnya kita sedang mengakui dua hal penting: pertama, bahwa ilmu yang kita miliki masih sangat sedikit dibandingkan ilmu Allah yang tidak terbatas; kedua, bahwa proses belajar tidak memiliki garis akhir selama manusia masih hidup.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah berkata:
“Ilmu adalah kehidupan hati dan cahaya bagi penglihatan.”
Karena itu, seseorang yang berhenti belajar sesungguhnya sedang membatasi pertumbuhan dirinya sendiri.
Doa Rabbi Zidni ‘Ilma mengajarkan bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa banyak yang telah ia ketahui, tetapi dari seberapa besar keinginannya untuk terus belajar.
QS. Thaha ayat 114 memberikan fondasi yang sangat kuat bagi pembentukan karakter lifelong learner. Doa Rabbi Zidni ‘Ilma mengandung pesan bahwa ilmu merupakan karunia Allah yang harus terus dicari, dipelajari, diamalkan, dan dikembangkan sepanjang hayat.
Karakter yang lahir dari ayat ini meliputi kerendahan hati intelektual, rasa ingin tahu yang tinggi, kesabaran dalam belajar, semangat memperbarui pengetahuan, serta komitmen menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan manusia.
Di tengah derasnya arus perubahan global, doa Rabbi Zidni ‘Ilma menjadi pengingat bahwa belajar bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan jalan menuju kedewasaan, kebijaksanaan, dan kebermanfaatan. Dengan menjadikan ayat ini sebagai prinsip hidup, setiap muslim dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan ilmu yang terus berkembang.