Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Quiet Quitting Dalam Persepektif Filsafat Khudi Iqbal

RedaksiKS by RedaksiKS
Juli 2, 2023
in Filsafat
0
Quiet Quitting Dalam Persepektif Filsafat Khudi Iqbal
16
SHARES
93
VIEWS

Quiet Quitting merupakan istilah yang viral melalui aplikasi Tiktok pada tahun 2022, istilah ini mengacu pada pekerja/karyawan yang memenuhi kewajiban pekerjaan mereka, tetapi tidak mengambil inisiatif, seperti bekerja lembur atau menjadi sukarelawan untuk proyek atau tanggung jawab tambahan lainnya.

Beberapa sumber mengatakan istilah “Quiet Quitting” berakar dari tagar Cina, #TangPing, yang berarti “berbaring” dan digunakan untuk memprotes budaya kerja 996 yang dipelopori oleh Jack Ma. Faktor pendorong tren lainnya adalah pandemi, yang menyebabkan banyak orang menilai kembali cara berpikir mereka tentang pekerjaan.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Fenomena ini menuai banyak pro-kontra dari berbagai sudut pandang dan kali ini saya akan menggunakan filsafat khudi dalam menanggapi fenomena ini. Saya akan perlahan-lahan menjelaskan kaitan antara fenomena quiet quitting dan filsafat khudi.

Inti dari pemikiran filsafat Muhammad Iqbal dapat dilihat pada konsep khudi, yang dapat diartikan sebagai “self” atau “self-identity“. Khudi mencakup gagasan memahami tujuan, potensi, dan mentalitas seseorang. Pemikiran beliau menekankan pentingnya aktualisasi diri, mendorong individu untuk meguak jati diri mereka yang sebenarnya dan menjalani kehidupan yang memiliki tujuan dan terarah.

Dalam filsafat khudi individu yang memiliki ego/khudi yang jelas memiliki lima variable. Pertama self-reliance (percaya diri) yakin bahwa dirinya benar dan tidak mencari bukti untuk menyalahkan yang lain untuk menunjukkan bagwa dirinya benar, kedua self-respect (menghargai diri) tidak memandang rendah dirinya dan tidak memandang rendah orang lain, self-confidence (yakin pada diri) yakin pada kemampuan sendiri.

Orang yang tidak memiliki self-confidence biasanya menagtakan “bisa nggak ya saya…?”, self-preservation (menjaga diri) tidak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting, dan self-assertation (penegasan diri) menegaskan diri sendiri

Sekilas tidak terdapat masalah mengenai quiet quitting selama tidak dilakukan secara terus menerus. Namun, untuk bisa menemukan solusi yang tepat kita memerlukan ciri dari para pelaku quiet quiting. Berikut merupakan ciri-ciri dari seseorang yang mempraktekkan quiet quitting. Antara lain sebagai berikut;

Pertama, tidak bersedia melakukan pekerjaan diluar job desc utama. Kedua, pulang kerja tepat waktu dan menghindari overtime meskipun mendapat upah tambahan. Ketiga, bekerja sesuai porsinya. Keempat, tidak mau berurusan dengan pekerjaan atau menjawab pertanyaan seputar kewajiban kerja di waktu libur. Kelima, hilang minat untuk menjadi karyawan berprestasi di perusahaan. Keenam, pasif saat meeting atau diskusi tertentu terkait pekerjaan. Ketujuh, jarang mengikuti acara yang diselenggarakan perusahaan

Menilik dari ketujuh poin diatas, bila semuanya terdapat diri pekerja maka bertentangan dengan filsafat khudi. Filsafat khudi mengharuskan manusia untuk terus mengembangkan diri dan berubah menjadi lebih baik. Ketujuh poin di atas membuat para pelaku membatasi diri mereka dari potensi yang sebenarnya mereka miliki.

Filsafat khudi juga mengajarkan mengenai pentingnya pengabdian dan tanggung jawab dalam kehidupan termasuk profesi. Quiet quitting memberi petunjuk bahwsannya seseorang kurang termotivasi untuk melakukan tugas-tugas yang lebih dan tidak bersedia mengambil tanggung jawab tambahan.

Dalam filsafat khudi, individu di harapkan untuk menghargai nilai pekerjaan dan memberikan kontribusi yang lebih dalam lingkungan kerja mereka. Quiet quitting bisa jadi merusak rasa tanggung jawab individu terhadap diri mereka sendiri dan lingkungan sekitar.

Individu yang melakukan Quiet Quitting secara garis besar memiliki dua alasan. Yang pertama individu tersebut mengalami burnout, burnout terjadi ketika seseorang bekerja terlalu keras dan menyebabkan kelelahan secara fisik dan mental akibat dari stress berkepanjangan.

Yang kedua merupakan akibat dari minimnya reward atau imbal hasil dari pekerjaan yang di lakukan entah dalam bentuk materi seperti uang maupun non-materi seperti pujian dari lingkungan sekitar. Dari kedua problem di atas memiliki inti masalah yang sama yaitu demotivasi (hilangnya gairah).

Berbeda dengan filsafat khudi yang mendorong individu untuk terus bergerak guna menemukan tujuan hidup yang bermakna dan mencurahkan segala hal yang kita miliki dalam setiap tindakan yang di lakukan.

Quiet quitting bisa di bilang mencerminkan hilangnya motivasi dan minat terhadap pekerjaan, sehingga mengakibatkan kurangnya arah dan tujuan hidup yang jelas. Dalam perspektif khudi, penting bagi individu untuk terus mencari tujuan hidup yang memberikan arti dan meningkatkan motivasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain quiet quitting juga mendapat tempat pada filsafat khudi. Mereka yang menerapkan quiet quitting dalam jangka waktu pendek termasuk dalam bagian self-preservation (menjaga diri), di mana mereka yang sudah lelah dengan pelerjaan dapat bersantai untuk sementara sebelum melanjutkan kerja supaya lebih berkontribusi.

Ibarat mengisi baterai untuk mobil mainan, diam dulu untuk memberikan usaha maksimal. Quiet quitting yang di lakukan dalam jangka waktu tertentu juga memberi waktu untuk berpikir dan merenung lebih dalam terkait pekerjaan. Saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak berkontribusi di luar lingkungan pekerjaan. Quiet quitting dalam perspektif filsafat khudi mengindikasikan berhentinya pengembangan potensi diri, hilangannya motivasi dan ketidak harmonisan dengan lingkungan sekitar. Di samping itu Quiet quitting yang terkontrol termasuk dari bagian filsafat khudi.

Penulis : Ivan Adrian (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Metode Mengambil Keputusan Ala Suhrawardi

Next Post

Dialog Keberagamaan : As-Samhah Wa At-Tasamuh

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Belajar Toleransi

Dialog Keberagamaan : As-Samhah Wa At-Tasamuh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.