Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Produktif atau Cuma Sibuk?: Ilusi ‘Busy Culture’ di Kalangan Gen Z

Muhammad Mahira Haqiqi by Muhammad Mahira Haqiqi
April 8, 2026
in Esai, Narasi
0
Produktif atau Cuma Sibuk?: Ilusi ‘Busy Culture’ di Kalangan Gen Z
12
SHARES
73
VIEWS

Oleh: Muhammad Mahira Haqiqi (Mahasiswa Ilmu Al-quran Dan Tafsir)

Coba perhatikan sekeliling. Hampir semua orang terlihat sibuk ngetik di laptop, scroll notifikasi tanpa henti, rapat sana-sini, atau memamerkan betapa padatnya jadwal mereka di media sosial. Seolah-olah, kalau tidak sibuk, kamu tidak sukses. Inilah yang disebut busy culture, dan Generasi Z adalah generasi yang paling lekat dengannya (Sunaryanto & Idrus, 2025: 38). Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang jarang diajukan: dari semua kesibukan itu, seberapa banyak yang benar-benar menghasilkan sesuatu yang bermakna?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?


Sibuk dan produktif adalah dua hal yang sangat berbeda. Sibuk artinya banyak kegiatan. Produktif artinya kegiatan itu benar-benar menghasilkan dampak nyata. Gen Z, yang tumbuh bersama internet dan segala stimulasinya, sangat rentan terjebak pada yang pertama. Mereka terbiasa dengan kecepatan dan perubahan instan, sehingga cenderung berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain sebelum yang pertama selesai dengan baik (Tuada & Raihani, 2025: 6200).

Di atas itu, media sosial menambah beban tersendiri dengan menjadikan jadwal padat sebagai simbol status. Akibatnya, banyak yang mengisi waktu bukan karena kegiatannya penting, melainkan karena takut terlihat tidak produktif di mata orang lain. Inilah inti dari ilusi busy culture ingin terlihat sibuk, padahal hanya berputar di tempat.


Lalu apa yang sebenarnya mendorong produktivitas yang nyata? Penelitian menunjukkan jawabannya ada pada motivasi intrinsik yakni dorongan dari dalam diri untuk mengerjakan sesuatu karena memang bermakna, bukan sekadar ingin terlihat aktif (Alifiyanti & Nugraha, 2024: 128). Ketika seseorang bekerja dengan motivasi seperti ini, hasilnya jauh lebih baik dan memuaskan.

Selain motivasi, manajemen waktu yang baik juga menjadi kunci. Orang yang produktif tahu membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar mendesak; mereka punya prioritas yang jelas, bukan daftar kegiatan panjang yang justru menguras energi tanpa arah (Winarsi dkk., 2025: 5). Tanpa kedua hal ini, seseorang bisa menghabiskan seharian penuh dengan aktivitas, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar tuntas dan bernilai.


Dampak busy culture tidak berhenti di soal produktivitas saja ia juga mampu menggerogoti kesehatan mental. Tekanan untuk selalu aktif dan terlihat sibuk pelan-pelan membangun kecemasan yang kronis. Dalam konteks ini, penelitian pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta menemukan bahwa mereka yang memiliki pegangan nilai keagamaan lebih mampu menghadapi tekanan tersebut dengan lebih tenang dan seimbang (Maulita, Adiningsih, Noviawati, Ristika, Hartanti, Apni & Nurrohim, 2024: 6).

Spiritualitas membantu seseorang memaknai waktu dengan lebih sadar, sehingga tidak mudah terseret arus kesibukan yang tidak ada ujung pangkalnya (Maulita dkk. & Nurrohim, 2024: 7). Ini menunjukkan bahwa solusi atas busy culture bukan hanya soal teknik manajemen waktu, tapi juga soal bagaimana seseorang memaknai hidupnya secara lebih dalam.


Islam, melalui Al-Qur’an, sudah jauh lebih dahulu memberikan panduan yang sangat relevan dengan persoalan ini. Dalam QS. Al-‘Ashr (103): 1-3, Allah bersumpah demi masa dan menyatakan bahwa manusia yang tidak mengisinya dengan iman dan amal saleh termasuk dalam kerugian. Perlu kita perhatikan bukan sibuk yang disebutkan, tapi bermakna. Ini adalah perbedaan yang sangat mendasar. QS. Al-Insyirah (94): 7-8 pun memberikan panduan praktis: selesaikan satu urusan terlebih dahulu, baru beralih ke urusan berikutnya.

Sebuah prinsip yang secara langsung menantang kebiasaan multitasking ala busy culture yang justru membuat semua pekerjaan menjadi tanggung (Rahayu & Nurrohim, 2022: 58). Lebih jauh, Islam mengenal konsep itqan mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan sesempurna mungkin. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia melakukannya dengan itqan” (HR. Thabrani).

Satu pekerjaan yang dikerjakan dengan itqan jauh lebih bernilai dibanding sepuluh pekerjaan yang dikerjakan setengah-setengah demi terlihat sibuk. Islam juga memandang kerja bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bentuk aktualisasi diri sekaligus ibadah yang bernilai di sisi Allah. Bahkan QS. Al-Qashash (28): 77 mengingatkan pentingnya keseimbangan jangan lupakan bagianmu di dunia, tapi jangan pula melalaikan akhirat. Artinya, Islam sama sekali tidak melarang kita produktif dan aktif; yang dilarang adalah kehilangan arah dan makna dalam setiap langkah yang kita ambil.


Pada akhirnya, sibuk memang terlihat keren. Tapi produktif jauh lebih bermakna. Gen Z perlu belajar berhenti sejenak dan bertanya jujur pada diri sendiri: dari semua kesibukan ini, mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya pencitraan?

Produktivitas sejati tidak diukur dari seberapa padat jadwalmu, tapi dari seberapa bermakna setiap hal yang kamu kerjakan (Alifiyanti & Nugraha, 2024: 130). Islam telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas—bekerja dengan niat yang lurus, fokus yang terjaga, dan kesadaran penuh bahwa setiap detik waktu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Karena yang akan dihitung di akhir bukan seberapa sibuk kita menjalani hari, melainkan seberapa berarti setiap detik yang telah kita pilih untuk diisi.

Editor: Astyra Gita

Terkait

Tags: AgamaGen ZPemuda IslamPeradabanProduktifums
Previous Post

Overthinking di Kalangan Mahasiswa: Normal atau Malah Membahayakan?

Next Post

Optimalisasi Artificial Intelligence (AI ) sebagai Pendukung Pembelajaran Berbasis Peserta Didik di Era Digital

Muhammad Mahira Haqiqi

Muhammad Mahira Haqiqi

Next Post
Optimalisasi Artificial Intelligence (AI ) sebagai Pendukung Pembelajaran Berbasis Peserta Didik di Era Digital

Optimalisasi Artificial Intelligence (AI ) sebagai Pendukung Pembelajaran Berbasis Peserta Didik di Era Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.