Pemahaman dan pengaplikasian dari sebuah pengetahuan merupakan tolok ukur atau sukses dan tidaknya suatu ilmu. Namun, menjadi sebuah masalah yang serius jika pemahaman dan pengaplikasiannya tidak sesuai dengan pengetahuan yang didapatkan, tidak sedikit manusia yang terjebak dalam hal ini.
Mereka merasa benar atas penerapan terhadap pengetahuan yang mereka dapat, dan mereka juga hanya berlandasan akal untuk mencari sebuah kebenaran, padahal tidak semua hal dapat di rasionalkan karena akal manusia mempunyai batasan yang tidak bisa di lampaui. Dalam beragama pasti tidak akan terhindar yang namanya iman atau keyakinan.
Di setiap agama mempunyai aturan atau dalam Islam biasa di kenal dengan syariat, aturan tersebut bertujuan untuk mewujudkan suatu kebenaran dengan sudut pandang masing-masing., Namun, semua agama mempunyai tujuan yang sama yaitu hubungan sesama makhluk, melingkupi manusia, hewan, tumbuhan.
Nilai yang menjadi perbedaan antara agama adalah tentang konsep tuhan/sosok supranatural. Perbedaan menjadi masalah yang sangat besar dalam kehidupan beragama, terutama pada negara-negara yang mempunyai banyak perbedaan, seperti perbedaan antar suku, agama, tradisi, bahasa dan lainnya. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia.
Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, sikap keberagamaan yang ekslusif yang hanya mengakui kebenaran dan keselamatan secara sepihak, tentu dapat menimbulkan gesekan antar kelompok agama (Agus Akhmadi, 2019: 49). Tindakan-tindakan seperti itu pasti didasari oleh pemahaman dan sudut pandang tentang kebenaran.
Mereka beransumsi bahwasannya hanya mereka lah yang mempunyai hak dan kebenaran, tidak memikirkan terhadap pihak lain, tidak sadarnya atas sifat saling menghormati dan menghargai. Oleh karena itu, konsep moderasi beragama dapat menjadi solusi atas hal tersebut.
Problematika Pemahamannya
Kata “moderasi” berasal dari bahasa Latin “moderatio”, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Di dalam KBBI moderasi berarti pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman. Jadi, ketika kata “moderasi” disandingkan dengan kata “beragama”, ia dapat didefinisikan sebagai cara pandang ,sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama (Kementrian Agama RI, 2019: 15-17).
Jika dilihat, banyak pelajar atau mahasiswa yang memahami sikap moderat dalam sudut pandang dalam beragama bersifat tengah-tengah atau tidak ke kanan dan tidak kekiri, muncullah istilah beragama itu biasa saja mereka berpandangan terhadaap orang yang taat kepada agama adalah sikap yang tidak moderat. Maka dalam hal ini tidak sesuai ajaran yang ada dalam islam, karena islam memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam beragama, tidak setengah-setengah. Seperti yang tertera dalam surat QS. Al-Baqarah[MAQ9] ayat 208:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Menjadi kekhawatiran terhadap pemahaman moderat yang di artikan seperti itu. Maka perlu kalimat atau kata untuk lebih mudah di pahami bagi orang-orang yang baru saja belajar tentang moderasi beragama. Kata “tengah-tengah” bisa di ganti dengan kata penengah, karena kata penengah lebih sepesifik sifatnya, dalam KBBI penengah mempunyai arti menengahi, pelerai, pemisah, pendamai. Sejalan dengan tujuan moderasi yaitu mendamaikan antara pihak satu dengan pihak yang lain dan juga lebih mudah di pahami dari pada di artikan tengah-tengah
Peran Moderasi Beragama dalam Kehidupan
Keterlibatan moderasi terhadap kehidupan khususnya pada sektor keagamaan mempunyai peran di dalamnya. Menjadi sebuah keharusan dalam menjalani hidup di lingkungan masyarakat. Apalagi Indonesia yang mempunyai beragama agama dan keyakinan, yang menyebabkan munculnya perbedaan. Dalam beragama pastinya ada yang namanya keyakinan ataupun prinsip yang di pegang erat. Semua itu memepunyai tujuan yang sama dalam bidang rohani ataupun jiwa.
Kedamaian, ketenangan, harmoni adalah keinginan semua manusia terhadap fitrah yang di miliki. Manusia mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menemukan kedamaian. Ketenangan di temui lewat jalur batin, yang mana manusia berfikir keras untuk menjawab apa yang mereka harus lakukan.
Beragama salah satu cara dari menemukan kedamaian, ketenangan mereka mencari sumber dari segala sumber ribuan pertanyaan yang muncul atas masalah kehidupan yang di jalani. Namun agama yang ada tidak hanya satu, seseorang juga harus menentukan agama mana yang mereka pilih. Mungkin agama-agama yang sudah biasa kita kenal seperti agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Moderasi beragama mempunyai peran penting terhadap hal ini. Terciptanya kedamaian , ketenangan, dan harmoni harus punya rasa hormat antar sesama. Moderasi beragama tidak hanya membahas tentang permasalahan atau perbedaan antar negara. Akan tetapi, moderasi beragama juga membahas antara organisasi masyarakat terkhusus yang bernuansa Islam, seperti halnya Muhammadiyah, Nadhatul ‘Ulama, Persis, Rifaiyah dan masih banyak lagi.
Penulis : Haifani Hilal (Mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan)
Editor : Izzul Khaq