Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ponpes Daarul Qur’an Surakarta Ziarahi Makam Sunan Ampel dan KH. Hasan Gipo: Napak Tilas Spirit Keulamaan dan Kebangsaan

RedaksiKS by RedaksiKS
April 15, 2025
in Risalah
0
Ponpes Daarul Qur’an Surakarta Ziarahi Makam Sunan Ampel dan KH. Hasan Gipo: Napak Tilas Spirit Keulamaan dan Kebangsaan
28
SHARES
167
VIEWS

Surakarta, 14 April 2025 – Dalam rangka memperingati milad ke-17, Pondok Pesantren Daarul Qur’an Surakarta menyelenggarakan kegiatan ziarah ke makam dua tokoh besar Islam di Nusantara: Sunan Ampel dan KH. Hasan Gipo, Ketua Umum pertama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Rombongan ziarah dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, Pimpinan dan Masyayikh Ponpes Daarul Qur’an Surakarta, dan diikuti oleh para mudir, kepala sekolah, anggota dewan asatidz, serta santriwan dan santriwati. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekhusyukan.

TulisanTerkait

Mahasiswa KKNMAS 2025 di Riau, Jalin Silaturahmi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Tualang Kabupaten Siak

Tuntunan yang Tidak Dituntunkan

KH. AM. Mustain Nasoha sampaikan Lima Perkara Penting Pasca Ramadhan dalam Khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Surakarta 2025

Menanggapi kegiatan rutin ini Drs. H. Adib Aji Putra selaku Ketua Yayasan Daarul Qur’an Surakarta menyampaikan bahwa kegiatan ziarah ini merupakan bentuk rasa syukur atas usia ke-17 pesantren. Ia menekankan pentingnya momen ini sebagai sarana penguatan nilai spiritual dan perjuangan, serta berharap para santri dapat mengambil pelajaran dari keteladanan para ulama besar-nasionalis yang diziarahi.

Ust. Zainul Majdi selaku Mudir Pondok menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi lebih merupakan penyambungan sanad ruhani dan perjuangan. Ia melihat Sunan Ampel dan KH. Hasan Gipo sebagai simbol keteladanan ulama yang tidak hanya alim secara keilmuan, tetapi juga gigih dalam membangun umat dan bangsa.

Sementara itu, Nur Harihadi, M.Pd. selaku Kepala SMP Daarul Qur’an Surakarta menilai bahwa ziarah ini merupakan media pendidikan karakter yang sangat efektif. Menurutnya, nilai-nilai seperti adab, penghormatan terhadap ulama, serta semangat kebangsaan adalah pelajaran penting yang ditanamkan melalui kegiatan ini.

Ust. Mahfudin selaku Ketua Panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Ia merasa bersyukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi agenda tahunan sebagai bentuk napak tilas spiritual dan sejarah.

KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha dalam nasehatnya secara khusus menekankan pentingnya meneladani Walisongo, terutama Sunan Ampel, serta para ulama pendahulu khususnya KH. Hasan Gipo, Ketua Umum pertama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

“Menziarahi makam Sunan Ampel dan KH. Hasan Gipo bukanlah sekadar perjalanan lahiriah, melainkan pergerakan batiniah untuk menyambung diri dengan mata rantai keulamaan yang telah mengakar dalam sejarah Islam Nusantara. Kita datang bukan untuk hanya melihat batu nisan, tapi untuk lebih dari itu yaitu menyerap semangat perjuangan.”

Beliau melanjutkan, “Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn* berkata, ‘Al-mayyit yastafīdu min duʿā’ al-ḥayy wa yaʿriful zā’ir’ — orang yang telah wafat itu mendapat manfaat dari doa orang hidup dan mengetahui siapa yang menziarahinya. Maka, ketika kita menziarahi Sunan Ampel dan KH. Hasan Gipo, kita hadir dalam rel spiritual bersama mereka.”

“Syaikh Abu al-Najīb al-Suhrawardī dalam Ādāb al-Murīdīn menulis, ‘Man lam yatafaqqah min salafih fī dīnih, ḍalla wa aḍalla’ yang artinya Barang siapa tidak belajar dari pendahulunya dalam agama, ia akan sesat dan menyesatkan. Meneladani Walisongo seperti Sunan Ampel berarti meneladani bagaimana dakwah dilakukan dengan kelembutan, kearifan budaya, dan kekuatan ilmu.”

KH. Mustain juga menekankan pentingnya memahami sosok KH. Hasan Gipo sebagai ulama dan pejuang bangsa. “Syaikh ʿAlī al-Tanṭāwī dalam Tārīkh al-ʿUlamāʾ menulis, ‘Al-ʿĀlim al-ʿāmil huwa al-ṣawt al-khālid fī tārīkh al-ummah’ yang artinya Ulama yang beramal adalah suara abadi dalam sejarah umat. KH. Hasan Gipo bukan hanya organisatoris, tapi peletak dasar kebangsaan yang berakar pada Islam ahlussunnah.”

“‘Man lam yaḥtafi bi man sabaqahu, inqaṭaʿa silsilat al-barakah’ yang artinya Barang siapa tidak memuliakan pendahulunya, terputuslah rantai keberkahan. Maka kita sebagai santri harus menjaga kesinambungan itu: meneladani, meniru, dan melanjutkan perjuangan para wali dan ulama.”

“Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Nashā’iḥ al-ʿIbād menulis, ‘Ittabiʿ sīrata al-ṣāliḥīn fa innahum ʿalā al-ṣirāṭ al-mustaqīm’ yang artinya Ikutilah jalan orang-orang saleh, karena mereka berada di atas jalan yang lurus. Jalan dakwah Sunan Ampel adalah jalan yang memadukan tasawuf, fikih, dan akhlak; sementara jalan KH. Hasan Gipo adalah jalan keulamaan yang menyatu dengan kebangsaan.”

KH. Mustain menutup dengan kalimat menyentuh: “Ziarah ini bukan akhir, tapi awal. Awal dari tekad kita semua untuk meneruskan jalan yang telah ditunjukkan oleh para sābiqūn al-awwalūn — para pendahulu yang pertama. Kita tidak cukup hanya mengenang mereka, tetapi wajib meneladani perjuangan, keikhlasan, dan visi besar mereka demi Islam dan Indonesia.”

Ziarah ini diisi dengan pembacaan tahlil, doa bersama, tawasul, serta tausiyah oleh KH. Mustain Nasoha yang mengingatkan pentingnya menjaga warisan keulamaan dan meneladani akhlak serta semangat perjuangan para tokoh besar Islam Nusantara.

Peringatan milad ke-17 Ponpes Daarul Qur’an Surakarta ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan dakwah dan pendidikan pesantren, sekaligus meneguhkan komitmen dalam membina generasi Qur’ani yang cinta ilmu, cinta damai, dan cinta tanah air.

Setelah Ziarah Keluarga Besar Ponpes Daarul Qur’an Surakarta melanjutkan perjalanannya dengan Rihlah Ilmiah ke Malang yaitu Jatim Park 1 dan Museum Angkot kemudian dilanjutkan Petik Apel di Malang.

Terkait

Previous Post

Ketua DPP IMM Tekankan Pentingnya Kontekstualisasi dalam Pemahaman Agama

Next Post

Film Bidaah Melalui Kacamata Tafsir Kontemporer: Antara Sensasi dan Substansi

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Film Bidaah Melalui Kacamata Tafsir Kontemporer: Antara Sensasi dan Substansi

Film Bidaah Melalui Kacamata Tafsir Kontemporer: Antara Sensasi dan Substansi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.