Pendidikan bagian proses yang takkan pernah berhenti dalam kehidupan manusia. Sebab pendidikan berlangsung dan berlaku seumur hidup manusia. Sebagaimana seringkali kita temui nasihat belajar ‘’Tuntutlah ilmu dari buayan sampai ke liang lahat’’. Pun penekanan perintah belajar telah disampaikan oleh Nabi SAW dalam Hadistnya bahwa menuntut ilmu ialah kewajiban bagi tiap muslim.
Jika kita menelaah lebih jauh terkait perintah belajar sebagai wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Menjelaskan bahwa kedudukan Iqro (Bacalah) dalam makna membaca dan belajar sebagai keutamaan dalam keberlangsungan hidup. Sebab manusia akan mampu memahami perihal Tuhan dan anugerah kehidupan melalui ilmu.
Bicara Pendidikan di tanah air, tentu tak bisa lepas dari sejarah bagaimana kehidupan Pondok Pesantren sebagai basis Pendidikan utama dahulunya yang dilakukan di Negeri ini. Pondok pesantren ialah tempat para santri bermukim belajar ilmu Agama, itu sebabnya istilah pemondokkan dimaknai sebagai suatu tempat/lokasi (penempatan) dalam belajar.
Sedangkan kata pesantren itu sendiri sejatinya berasal dari kata santri, dalam pemahaman yang sama pondok dan pesantren merujuk pada tempat belajar ilmu Agama, pelaksanaan nilai-nilai kehidupan serta kegiatan sehari-hari yang berbasis Islami.
Nurcholis Majid menjelaskan dalam sebuah bukunya yang berjudul ‘’Bilik-Bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan’’. Setidaknya kita dapat memahami kata santri melalui dua pendapat, pertama kata santri merupakan sebuah kata yang berasal dari kata sastri (Bahasa sansekerta) yang berarti melek huruf . Sebab masa itu golongan santri merupakan golongan yang dipandang sebagai kaum berkelas dalam pemahaman beragama, setidaknya kepiawaian dalam membaca Al-Qur’an serta keseriusan dalam praktik beragama.
Kedua ialah pendapat terhadap pemaknaan kata santri berarti seseorang ataupun kelompok yang berguru kepada seorang Kyai dan selalu mengikuti kemanapun Kyai atau Guru itu menetap. Geertz juga menjelaskan pemaparannya terkait kaum santri yang sebagai sub kelas dalam kemasyarakatan yang punya perhatian tinggi dalam keagamaannya.
Awal mula modernisasi setelah Perang Dunia II di galakkan sebagai bentuk transformasi sosial dari tatanam hidup tradisional menuju perkembangan modern dengan kiblat negara barat yang di anggap maju secara ekonomi, pengetahuan dan kestabilan politik. Perkembangan inilah yang dulu sempat mengalihkan perhatian terhadap pola social termasuk pendidikan.
Pengetahuan barat dan ilmu umum terdapat anggapan suatu hal yang sangat penting dan menjadi skala prioritas utama untuk dikejar. Tentunya hal ini berdampak pada Pendidikan Agama yang seolah menjadi nomor dua dan dilangsungkan sekedarnya saja sebagai bentuk moralitas akan pemahaman dasar Agama dan tanggungjawab dalam kehidupan beragama itu sendiri.
Zaman terus berkembang dan melahirkan warna-warna serta daya tarik baru yang akan mempengaruhi prioritas dalam kehidupan bermasyarakat. Era 4.0 yang di kenal sebagai zaman revolusi industry pun sekarang sudah tidak terasa terlewati dan masuk pada Society 5.0. Maknanya sebagai masyarakat informasi fokus pada komponen masyarakat yang di bangun dari revolusi industri tentu dengan tujuan kemakmuran masyarakat.
Dalam bidang pendidikan society 5.0 merupakan perkembangan ilmu pengetahuan dengan basis teknologi dan informasi. Mudah di akses dan tersebar luas oleh siapa saja dengan cepat. Internet sebagai basis utama sangat berperan penting dalam revolusi ini, juga pertumbuhan kecerdasan buatan serta industry robotic yang kian menjamur.
Namun, yang menarik adalah dunia Pendidikan selalu punya warna dengan daya Tarik tersendiri. Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai agama dalam kehidupan mulai di perhatikan oleh orang tua terhadap anak-anaknya. Hal ini di pengaruhi oleh timbulnya degradasi moral yang kian terpuruk.
Artinya kesadaran masyarakat bahwa agama sebagai petunjuk hidup juga sebagai pendidikan bagi pemeluknya dalam etika dan perilaku hidup yang baik. Selain itu, pengaruh modernisasi yang juga berdampak pada kebutuhan intergrasi Pendidikan Agama dan pengetahuan umum yang berkualitas sangat menjadi perhatian masyarakat.
Dunia pesantren ikut serta dalam transformasi Pendidikan dengan mengkombinasikan kurikulum belajar Agama dan Umum. Dalam bentuk sederhana, hal ini di lakukan pada sekolah madrasah yang tersebar di pelosok negeri. Namun, dalam dunia pesantren tentu memiliki ciri khas sendiri terkait corak pendidikannya, yaitu pelajaran terhadap kitab-kitab, pendalaman fiqih dan bahasa arab, program hafalan qur’an yang lebih fokus serta warna baru yang memperhatikan perkembangan dunia Internasional terkait bahasa, teknologi juga softskill dasar yang di perhatikan terhadap para santrinya serta yang paling penting ialah pengajaran adab selalu menjadi sorotan dan perhatian penting dalam pendidikan pesantren.
Banyaknya pondok pesantren di Indonesia, baik pesantren tradisonal dan pesantren modern tentu suatu kesyukuran besar. Sebab dengan hal itu kita dapat melihat kesadaran akan pendidikan generasi terlebih pendidikan agama masih di perhatikan. Masyarakat Indonesia lahir dan tumbuh dari masyarakat yang beragama. Terlebih agama Islam yang tumbuh besar dan menjadi Agama mayoritas di negeri ini. Pondok pesantren pada umumnya memiliki kurikulum yang sama terkait pendidikannya yang fokus terhadap pendalaman agama. Mungkin dewasa ini variasi akan integrasi pendidikan modern, teknologi dan lainnya yang menjadi tingkat pembeda dari kualitas pendidikan yang dipandang oleh masyarakat. Tetapi penulis meyakini bahwa secara khusus Pendidikan pondok pesantren adalah suatu ekosistem yang ideal untuk belajar dan mendalami ilmu Agama.
Pada studi kasus observasi dan ikut serta menjalani kehidupan pesantren yang penulis lakukan dalam dunia pondok pesantren. Yaitu tepatnya di Pondok Pesantren Baiturrohmah Muhammadiyah Banyuresmi Garut. Pondok ini merupakan salah satu pondok pesantren Muhammadiyah yang ada di kota Garut, Jawa Barat. Rutinitas pondok yang banyak dengan kegiatan keagamaan merupakan bentuk pembiasaan dan penanaman kepada santri akan pentingnya nilai-nilai Agama dalam kehidupan.
Mulai dari tadarus al-qur’an yang di lakukan rutin setiap habis shalat berjamaah sampai pada program hafalan yang terstruktur tiap jenjang kelas merupakan bentuk konsistensi pihak pondok dalam penanaman dan pendidikan qur’an terhadap jiwa para santrinya. Di sisi lain adanya pembelajaran di sekolah Mts/MA yang di jalani para santri.
Kurikulum pondok yang juga memiliki kegiatan belajar mengajar yang fokus dalam mata pelajaran Agama, seperti Fiqih Ibadah, Tahsin, Tahfid, Mufradhat, Nahwu Shorof. Dan juga kegiatan penunjang lainnya seperti pelatihan Muhadharah, percakapan Bahasa Arab dan Inggris. Pihak pondok juga tidak melupakan menambahkan kegiatan hiburan kepada para santrinya seperti berolahraga di sore hari. Juga melakukan perjalanan jarak dekat dengan berjalan kaki bersama yang di laksanakan di hari minggu saat santri libur.
Belajar Agama sejatinya dapat di lakukan di mana saja dan kapan saja di era society 5.0. Dewasa ini dengan begitu banyaknya informasi dan pelajaran yang dapat di akses. Namun, dalam pendidikan dan pelajaran Agama tentulah terdapat tuntutan untuk harus fokus dan memiliki sumber ilmu (Guru/Tempat Belajar) yang jelas. Pendidikan Agama dan dunia pesantren adalah ekosistem yang paling ideal dalam belajar dan mendalami ilmu Agama. Sebab fokus dan kegiatan yang di lakukan terstruktur dan sistematis dalam pelajaran ilmu Agama. Di samping itu, fokus para santri tentunya lebih tinggi. Serta terhindar dari hal-hal yang dapat menghambat pelajaran yang di akibatkan terlalu banyak bermain dan bermalasan.
Editor : Izzul khaq