Orientalisme adalah pendekatan dari dari bangsa barat dengan tujuan mempelajari bangsa timur. Pendekatan ini mempelajari peradaban, budaya, ajaran, dan sosial dari bangsa timur dengan maksud untuk membuat kesan buruk bangsa timur. Tetapi seiring berjalannya waktu, orientalisme ini bersifat memperburuk citra islam di Nusantara.
Mengutip dari Hamim (2008: 1) bahwasannya “Kajian Islam yang dilakukan oleh para orientalis seringkali dipandang oleh kalangan Muslim tidak untuk memahami Islam secara benar, tetapi mendeskreditkannya”.
Indonesia sebagai bangsa timur juga tidak luput sebagai objek orientalisme. Titik awal orientalisme di Indonesia ditandadi dengan kedatangan bangsa Inggris hingga Belanda. Sejak saat itu, mulai banyak orientalis yang meneliti tentang peradaban berbagai pulau di Nusantara. Sebagian besar dari mereka bahkan membuat buku yang terkesan merendahkan peran islam di Indonesia.
Sebagai contoh, buku The History of Java karangan Raffles. Buku ini dianggap oleh Belanda sebagai buku sejarah mengenai pulau jawa yang pertama diciptakan. Pada kenyataannya, sudah ada buku yang berjudul Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh penulis asli nusantara. Pihak Belanda juga melakukan perubahan fakta pada buku tersebut.
Buku ini terkesan merendahkan ajaran islam di Nusantara. Raffles lebih menonjolkan sejarah Hindu Budha, dan pengaruhnya pada sejarah perkembanga negara ini. Bahkan menganggap penyebaran Islam yang dibawa oleh Wali Songo di Nusantara menggunakan cara kekerasan, dan membawa sifat misitis karena dianggap menuahkan keris, dan barang pusaka lainnya.
Sikap ‘fobia’ Belanda terhadap islam ini juga berdampak pada sistem pendidikan yang berjalan. Salah satu tujuan Belanda menjajah Indonesia adalah menyebarkan agama Kristen Protestan. Dibentuklah sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu umum. Namun karena dianggap ada keterbatasan, maka dibentuklah tempat pendidikan lain yang lebih merakyat.
Tetapi ada permasalahan yang terjadi, materi yang disampaikan oleh sekolah Belanda dengan tempat pendidikan lain tersebut mempunyai perbedaan. Sekolah buatan Belanda lebih mengajarkan tentang ilmu-ilmu yang bersifat umum, sedangkan pendidikan lain mengajarkan ilmu keislaman saja. Tempat pendidikan alternatif ini seperti pesantren, surau, dan dayah. Pihak Belanda juga tidak terlalu memperhatikan tempat-tempat pendidikan ini.
Penasehat pemerintah Belanda yang bernama Snouck Hurgronje membagi ilmu keislaman mejadi tiga yaitu, ibadah, sosial masyarakat, dan politik. Tiga poin itu dirumuskan lagi menjadi politik Islam.
Namun pihak Belanda sempat membuat peraturan yang merugikan perjalanan pendidikan islam. Peraturan tersebut adalah dengan adanya lembaga pengawas dari Belanda yang bertugas untuk mengawasi berjalannya pendidikan Islam. Karena lembaga ini juga dibuatlah perintah lain yaitu para pengajar dan calon pengajar harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari pemerintah Belanda.
Peraturan ini juga berlaku pada para kiai, tidak semua kiai juga diperbolehkan mengajar ilmu islam jika tidak mempunyai ijin dan rekomendasi dari pemerintah Belanda. Hingga pada tahun 1932 dibuatlah peraturan oleh pemerintah Belanda untuk melarang tempat pendidikan yang mempunyai perbedaan materi dengan sekolah buatan mereka.
Tentu bisa dipahami betapa memberatkan peraturan yang diberi oleh pemerintah Belanda terhadap tempat-tempat pendidikan yang mengajarkan agama Islam. Untuk menyiasati hal ini maka diubahlah sistem pendidikan tersebut agar sesuai dengan metode mengajar dan materi yang diterapkan oleh pendidikan Belanda. Tempat-tempat pendidikan Islam yang awalnya hanya mengajar ilmu agama Islam diberi pengetahuan ilmu-ilmu umum.
Walaupun begitu, sebenarnya pada kejadian tersebut mempunyai dampak yang positif. Dengan para murid juga mendapatkan dan memahami pengetahuan umum, maka mereka akan mendapatkan wawasan yang lebih luas. Ilmu-ilmu umum itu juga dapat menjadi bekal para murid untuk menjalani kehidupannya dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada baik saat itu atau masa yang akan datang.
Jika kita kembali pada masa sekarang, pengaruh dari orientalisme masih ada. Walaupun tidak dengan cara menjajah lagi seperti masa lalu, tetapi menjalankannya bersamaan dengan westernisasi. Westernisasi adalah pengaruh yang membuat seseorang ingin mengadopsi budaya, gaya hidup, dan teknologi dari barat. Dewasa ini, pengaruh westernisasi telah menjamur sampai negara-negara timur, tidak terkecuali Indonesia.
Tentu jika kita tidak bisa menjaring hal ini maka kita akan terkena dampak negatif. Dampak negatif jika seseorang terpengaruh westernisasi adalah akan meninggalkan budaya asli bangsanya. Jika kita selaku warga muslim Indonesia telah terpengaruh westernisasi, tidak menutup kemungkinan jika nilai-nilai luhur bangsa dan agama perlahan akan hilang. Perjuangan ulama-ulama terdahulu dalam mengajarkan agama islam juga sia-sia.
Sebagai penerus bangsa kita harus tetap menjaga dan merawat apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu. Setiap perkembangan jaman pasti membawa dampak positif dan negatif, termasuk orientalisme dan westernisasi. Dalam menyikapi hal ini kita harus pintar dalam menelaah sesuatu yang terjadi dalam perkembangan jaman, jangan sampai kita menelan semua fenomena yang terjadi.
Penulis : Kurnia Putra Prakoso (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)