Pendidikan Demokratis Muhammadiyah

Sepanjang Saya mengenyam kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah, Saya merasakan perubahan mendasar dalam hidup untuk berpikiran terbuka dan berhati lapang. Sebab apa?

Karena kampus Muhammadiyah yang di dalamnya mengandung gagasan-gagasan berharga dan nilai-nilai universal yang selalu diajarkan kepada civitas akademikanya. Menuntut bukti, alumni-alumninya memegang teguh prinsip-prinsip dasar keilmuan itu saat berkiprah di dunia luar.

Apalagi mengingat aktivisme Saya sebagai mahasiswa, di mana Saya juga berkecimpung dalam Persyarikatan Muhammadiyah sebagai kader. Sementara tugas pokok kader adalah mengembangkan organisasi sekaligus menghindarkan ideologi dari kemungkinan distorsi.

Di samping aktif secara fisik, terus-menerus mempelajari rumusan ideologi dalam kaitan dengan tugas di organisasi, beserta ilmu-ilmu pendukungnya  (Djazman: 1989).

Kebanggaan Saya sebagai kader waktu itu ternyata menyebabkan kelengahan terhadap munculnya masalah yang sebenarnya. Dan sering terperangkap dengan mengagumi jumlah amal usaha Muhammadiyah yang memang tidak sedikit jumlahnya.

Sampai tiba saatnya Saya hengkang dari kampus dan memutuskan tidak terlibat dalam aktivitas Persyarikatan Muhammadiyah secara struktural. Namun disadari ternyata proses-proses pembelajaran yang Saya alami di kampus dan Organisasi Otonom Muhammadiyah, menunjukkan pertumbuhan sikap demokratis yang sangat efektif di kemudian hari.

Baca Juga: Belajar Islam Itu Asyik

Bayangkan, setelah Anda berada dalam lingkungan yang sangat egaliter, saling percaya dan toleran, kehidupan yang kooperatif, solidaritas dan semangat kemasyarakatan yang tinggi. Di mana semua unsur akhlak kewarganegaraan itu diyakini akan saling memupuk dengan kehidupan civic community atau civil society untuk masyarakat Indonesia yang berdasarkan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah.

Kemudian Anda terjun bebas di lapangan politik yang mempunyai tradisi kewarganegaraan rendah yang menopang demokrasi tidak stabil dalam kehidupan masyarakat. Sehingga kemungkinan Anda terdampak erosi dalam proses-proses penghilangan makna demokrasi yang sebenarnya. Mungkinkah Anda tetap mempertahankan idealisme sebagaimana di Muhammadiyah menuntut kesediaan untuk beramal kebajikan?

Bisa jadi sangat mungkin, jika kita menengok kembali pendidikan demokratis Muhammadiyah dikerjakan. Karena hanya dengan cara itulah pendidikan Muhammadiyah dalam arti luas, mampu menandingi model pendidikan liberal sebagai versi demokrasi yang paling dominan. Meskipun dalam perkembangannya terdapat pendidikan demokratis elit, neoliberal, deliberatif, multikultural, partisipatif dan kritis transformatif.

Upaya ulang mengkaji pendidikan Muhammadiyah sebagai proses demokratisasi warga dalam perspektif ideologi merupakan sesuatu hal yang harus dikerjakan mulai dari sekarang.

Refleksi Historis

Sebagaimana M.C. Rickelfs mempersembahkan bukunya yang berjudul Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang (2013) untuk; mereka yang selama berabad-abad telah kehilangan penghidupan, rumah, sahabat, orang-orang terkasih, martabat, mimpi, kesehatan, kebebasan.

Serta kehidupan mereka karena konflik yang diakibatkan keyakinan. Sedangkan sasaran utama Muhammadiyah adalah pemahaman akan Islam seperti ditemukan dalam komunitas santri atau umat Muslim yang saleh.

Temuan Ricklefs mengenai Muhammadiyah sebagai gagasan berharga yang mengandung nilai-nilai universal itu merupakan fakta sejarah dalam mengelola konflik yang terjadi di masyarakat. Apalagi mengingat Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah berpegang pada etos kerja manusia yang cerdas.

Yang mampu bekerja sama, mampu mengambil keputusan yang tepat, mampu mengamalkan ilmunya untuk kepentingan orang lain, dinamis dan kreatif, mampu berpikir bebas dan mandiri serta bertindak ikhlas dan bersih (Djazman, 2019: 27).

Sudahkah pendidikan demokratis menjadi bagian terpenting Persyarikatan Muhammadiyah dalam menjalankan usaha bersama demi terbentuknya masyarakat madani? Kenyataannya, implementasi pendidikan demokratis dalam perkembangan organisasi bukan terjadi karena kesadaran individual.

Baca Juga: Masdar Hilmy: Muhammadiyah Menjadi Trendsetter bagi yang Lain

Tetapi dengan kesadaran kolektif melalui tiga pedoman kehidupan warga Muhammadiyah yang diatur dalam Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah. Sebagaimana kita kutip sepenuhnya 10 sifat untuk Muhammadiyah dan warganya yang terdiri dari:

  1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan;
  2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiah;
  3. Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam;
  4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan;
  5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta filsafat negara yang sah;
  6. Amar makruf nahi mungkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik;
  7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud islah dan pembangunan sesuai ajaran Islam;
  8. Kerja sama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya;
  9. Membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah Swt; dan
  10. Bersifat adil dan korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana.

Maka berangkat dari perspektif ideologi inilah, jika Muhammadiyah sebanding dengan demokrasi sebagai gagasan berharga yang mengandung nilai-nilai universal dalam membentuk kesadaran berorganisasi para anggotanya.

Kesadaran untuk mempertahankan dan kesadaran untuk mengembangkannya. Bukankah kita sudah melampaui pendidikan demokratis Walter Lippman, Joseph A. Schumpeter, John Dewey, Paulo Freire dan Seyla Benhabib dalam memandang idealisme untuk bersedia mengamalkan kebajikan?

ilustrasi: tintapendidikanindonesia.com

What's your reaction?
2So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment