Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Objektifikasi Islam Kuntowijoyo di Era Digital dan Postmodern

Erlan Dwi Cahyo by Erlan Dwi Cahyo
Agustus 29, 2025
in Esai, Narasi
0
Objektifikasi Islam Kuntowijoyo di Era Digital dan Postmodern
16
SHARES
97
VIEWS

Oleh: Erlan Dwi Cahyo Azis

Era postmodern dan digital telah menciptakan sebuah paradoks yang kompleks bagi umat Islam. Di satu sisi, kemajuan peradaban Barat dalam sains dan teknologi menawarkan alat-alat canggih dan efisiensi yang tak terelakkan. Namun, di sisi lain, arus besar informasi ini sering kali membawa serta nilai-nilai sekuler dan materialistik yang dapat mengikis pemahaman agama yang otentik.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam menghadapi dilema ini, pemikiran cendekiawan Muslim Indonesia, almarhum Kuntowijoyo, menjadi sangat relevan. Gagasannya tentang “islamisasi ilmu” dan yang lebih penting, “ilmuisasi Islam” atau “objektifikasi Islam”, menawarkan sebuah kerangka kerja intelektual yang canggih untuk merespons zaman. Kuntowijoyo, seorang sejarawan dan budayawan yang mendalam pemahaman keislamannya, melihat bahwa tantangan terbesar umat Islam adalah menjadikan ajaran agamanya relevan dalam membaca dan menyelesaikan masalah-masalah kontemporer. Islam tidak boleh hanya menjadi ritual privat yang terpisah dari kehidupan publik.

Konsep “islamisasi ilmu” yang populer pada masanya, baginya, adalah langkah awal. Konsep ini berarti menyaring ilmu-ilmu modern, yang banyak berasal dari peradaban Barat, dengan nilai-nilai dan etika Islam. Ini adalah proses defensif yang penting untuk mencegah kontaminasi nilai yang bertentangan dengan akidah.

Objektifikasi Islam

Namun, Kuntowijoyo melangkah lebih jauh dengan proposalnya yang lebih revolusioner: “ilmuisasi Islam” atau “objektifikasi Islam”. Ini adalah langkah ofensif. Ia mengajak kita untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif ilmu Barat yang telah disaring, tetapi menjadi produsen ilmu pengetahuan baru yang berparadigma Islam. Maksud dari objektifikasi ini adalah mentransformasikan nilai-nilai universal Islam seperti keadilan (al-‘adl), egalitarianisme (musawah), amar makruf nahi mungkar, dan penolakan terhadap riba dari konsep teologis-normatif yang subjektif menjadi konsep keilmuan yang rasional dan objektif.

Sebagai contoh, perintah Al-Qur’an untuk menegakkan keadilan tidak boleh berhenti menjadi tema khutbah saja. Nilai itu harus diobjektifikasi menjadi teori sosiologi, prinsip ekonomi, atau kerangka kebijakan publik yang konkret untuk menganalisis dan memperbaiki ketimpangan sosial di dunia nyata.

Islam berbicara bukan hanya dalam bahasa moral dan dogma, tetapi juga dalam bahasa ilmu yang rasional, empiris, dan dapat diuji. Ini memungkinkan Islam untuk berdialog setara dengan paradigma-paradigma pemikiran lain dan relevan bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi Muslim. Lalu, bagaimana konsep yang lahir pada akhir abad ke-20 ini berdialog dengan realitas era postmodern? Era postmodern ditandai dengan dekonstruksi terhadap semua narasi besar (seperti agama, sains positivis, dan ideologi), dan menggantikannya dengan relativisme kebenaran serta kecurigaan terhadap klaim-klaim absolut.

Dalam kondisi di mana semua klaim kebenaran diragukan, agama sering dipinggirkan ke ruang privat. Di sinilah objektifikasi Islam Kuntowijoyo menjadi jawaban yang cerdas. Islam tidak perlu takut dekonstruksi jika ia dapat dihadirkan sebagai sebuah paradigma ilmu yang koheren, objektif, dan mampu memberikan solusi nyata. Alih-alih bersikap defensif dan menutup diri, Islam harus aktif membongkar narasi-narasi keliru dengan bahasa ilmu yang diterima dalam diskursus postmodern. Misalnya, menangkis islamofobia bukan dengan emosi, tetapi dengan data sosiologis dan historis yang objektif tentang kontribusi Muslim pada peradaban.

Dalam konteks era digital, objektivikasi Islam menemukan medan praktisnya yang paling subur. Platform digital seperti media sosial, jurnal online, dan kanal video adalah new battlefield of ideas. Perang narasi dan perebutan kebenaran terjadi setiap detik di dalamnya. Daripada hanya mengisi ruang digital dengan konten dakwah normatif yang berpotensi hanya berkutat pada wilayah ritual dan simbolik (yang penting, tetapi tidak cukup), generasi Muslim harus menciptakan konten yang mengobjektifikasi nilai Islam.

Misalnya, seorang ekonom Muslim dapat membuat podcast atau thread Twitter yang membahas analisis data tentang stabilitas sistem keuangan syariah selama krisis ekonomi. Seorang ilmuwan data dapat menggunakan big data untuk memetakan wilayah-wilayah rawan pangan sebagai bentuk objektifikasi dari perintah menolong yang kelaparan. Dengan cara ini, Islam hadir di ruang digital bukan sebagai agama yang kaku dan menolak modernitas, tetapi sebagai partner yang menawarkan solusi etis dan ilmiah bagi masalah-masalah kontemporer. Ini adalah dakwah bil-hal (aksi nyata) dan bil-‘ilmi (dengan ilmu) dalam bentuknya yang paling modern.

Sikap Muslim atas Peradaban Barat

Lantas, bagaimana sikap seorang Muslim yang tepat terhadap kemajuan peradaban Barat yang tak terbendung? Sikap yang diajarkan secara implisit oleh Kuntowijoyo adalah sikap kritis-selektif, bukan apriori atau anti, bukan pula patuh buta. Kita harus membedakan antara peradaban (civilization) sebagai produk kemajuan ilmu dan teknologi yang bersifat netral (seperti kedokteran, teknik, teknologi digital), dengan kebudayaan (culture) Barat yang mengandung nilai-nilai sekuler, liberal, dan hedonistik yang spesifik.

Terhadap sains dan teknologi, umat Islam harus mengadopsinya secara aktif dan menguasainya. Ini sejalan dengan prinsip “al-hikmatu dhollatul mu’min” (hikmah/kebenaran adalah barang hilang milik setiap Muslim yang wajib diambil di mana pun ditemukan). Namun, terhadap nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan akidah dan moralitas Islam, kita harus menolaknya dengan bijak, berdasarkan argumentasi yang ilmiah dan filosofis yang kuat.

Terhadap kemunduran pemahaman Islam yang ditandai dengan pemikiran yang jumud, literal, dan terbelakang, objektifikasi ilmu adalah solusi utamanya. Kemunduran ini sering tampak pada pemahaman Islam yang terbatas pada ritual, simbol, dan formalisme hukum tanpa memahami pesan sosial-transformatifnya yang besar.

Objektivikasi Islam memanggil kita untuk menggali khazanah intelektual Islam yang kaya dan mentransformasikannya menjadi ilmu yang applicable. Pemahaman Islam harus ditingkatkan dari level yang doktriner dan normatif menuju level yang epistemologis, yang mampu melahirkan ilmu-ilmu baru untuk kemaslahatan umat manusia.

Dengan demikian, di tengah pusaran era postmodern dan digital, Islam akan tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), yang kehadirannya dirasakan secara nyata dan ilmiah.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: Digitalilmuisasi IslamIslamkuntowijoyopostmodernisme
Previous Post

Relevansi Organisai Pergerakan Islam di Era Digital

Next Post

Raih The Best Student Achievement Award 2025, Unit Seni dan Film UMS sebagai UKM Kesenian yang Produktif

Erlan Dwi Cahyo

Erlan Dwi Cahyo

Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS

Next Post
Raih The Best Student Achievement Award 2025, Unit Seni dan Film UMS sebagai UKM Kesenian yang Produktif

Raih The Best Student Achievement Award 2025, Unit Seni dan Film UMS sebagai UKM Kesenian yang Produktif

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.