Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Noor Alis Setiyadi: Paradigma dan Etika Riset Mahasiswa

RedaksiKS by RedaksiKS
Februari 1, 2026
in IMM, Report
0
Noor Alis Setiyadi: Paradigma dan Etika Riset Mahasiswa
11
SHARES
65
VIEWS

31 Januari 2026 — Sabtu (31/1/2026) pukul 13.30 WIB DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Riset Boot Camp #1 yang merupakan rangkaian dari Akademi Riset DPD IMM Jawa Tengah. Riset Boot Camp perdana ini bertajuk “Paradigma dan Etika Riset Mahasiswa”.

Berlokasi di Ruang Siti Badilah, Perpustakaan UMS, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta utusan cabang-cabang IMM se-Jawa Tengah dan menghadirkan Noor Alis Setiyadi, S.KM., M.K.M., Ph.D., selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sebagai narasumber.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam pemaparannya, Wakil Dekan III FIK ini menjelaskan bahwa riset mahasiswa harus dibangun di atas paradigma yang jelas. Ia membagi paradigma riset ke dalam tiga pendekatan utama, yakni sosio-kritik, interpretatif, dan positivistik, yang masing-masing memiliki cara pandang dan metode berbeda dalam memahami realitas penelitian.

Ia menegaskan bahwa langkah awal yang paling mendasar dalam penelitian adalah menemukan masalah riset. Menurutnya, masalah tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses pengkajian literatur yang mendalam serta pengamatan terhadap realitas sosial.

“Untuk mendapatkan pertanyaan penelitian, mahasiswa harus banyak membaca literatur dan mengkaji masalah dari sudut pandang masyarakat maupun lingkungan terdekat, termasuk teman-teman,” ujarnya.

Di tengah penyampaian materi, Noor Alis mengajak peserta berdiskusi dengan pertanyaan mengenai kedudukan etika dan hukum dalam penelitian. Ia menekankan bahwa etika berada di atas hukum, karena etika menjadi landasan moral yang mengarahkan peneliti dalam bersikap jujur dan bertanggung jawab, meskipun tidak selalu tertulis dalam aturan hukum formal.

Dalam penyampaian materinya, beliau juga menyoroti pentingnya kesesuaian data dengan fokus penelitian.

Noor Alis mengingatkan agar peneliti hanya menggunakan data yang relevan dengan topik yang sedang dikaji, terutama dalam penelitian kualitatif yang menuntut kejujuran dan kepekaan peneliti terhadap konteks.

Terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam riset mahasiswa, Noor Alis menyampaikan bahwa AI dapat dimanfaatkan secara terbatas. Namun, penggunaannya harus mengikuti prinsip etika akademik.

“AI boleh digunakan dalam riset, namun pastikan penggunaannya adalah sebagai tool pembantu, bukan menjadi rujukan ataupun contekan,” kata Noor Alis.

Ia menambahkan bahwa penggunaan AI sebagai pengganti responden atau sebagai sumber utama dalam penelitian kualitatif dinilai tidak etis karena menghilangkan kejujuran akademik.

Di akhir sesi, narasumber membagikan selembar kertas kepada seluruh peserta untuk menuliskan pandangan mereka mengenai penggunaan AI dalam riset mahasiswa. Metode ini digunakan untuk mendorong refleksi kritis sekaligus diskusi lanjutan terkait tantangan etika riset di era digital.

Kontributor: Astyra Gita Kinanti

Terkait

Tags: akademi risetBudayaRisetDPD IMM JATENGMuhammadiyahpendidikan
Previous Post

Stadium General Akademi Riset Tekankan Kemandirian Energi dan Peran Inovasi bagi Bangsa

Next Post

Menavigasi Badai Paradoks: Apa yang Harus Dijaga oleh Pendidikan di Era Ketidakpastian?

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Menavigasi Badai Paradoks: Apa yang Harus Dijaga oleh Pendidikan di Era Ketidakpastian?

Menavigasi Badai Paradoks: Apa yang Harus Dijaga oleh Pendidikan di Era Ketidakpastian?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.