Musuh Pancasila Bukan Agama, Tapi Pendusta Agama

Oleh: Robby Karman

Pernyataan Prof. Yudian Wahyudi menimbulkan kontroversi, dalam salah satu sesi wawancara dengan media massa, Yudian menyebut bahwa agama adalah musuh terbesar pancasila. Yudian juga menyebutkan bahwa tidak wajibnya asas tunggal pancasila bagi ormas atau parpol merupakan kekalahan administratif pancasila. Disoroti juga perilaku agamawan yang menurut Yudian terlalu politis. Misalnya membuat ijtimak ulama untuk mendukung paslon pilpres tertentu.

Warganet ramai-ramai mengecam pernyataan Yudian. Politisi Partai Golkar Ace Hasan Syadzily turut mengecam pernyataan Yudian dan menyebutnya sebagai sesat pikir. Tak ketinggalan politisi PPP Achmad Baedowi turut mengkritik pernyataan Yudian.

Menurutnya, pernyataan tersebut tak mencerminkan Yudian sebagai tokoh bangsa, tokoh intelektual dan tokoh agama. Kecaman paling keras datang dari Dr. Anwar Abbas sekjen MUI yang meminta Yudian dicopot dari jabatannya sebagai ketua BPIP.

Mengurai Kembali Tenun Pancasila dan Agama

Penulis tak habis pikir mengapa pernyataan agama adalah musuh terbesar pancasila mesti keluar dari seorang intelektual. Entah karena salah ucap atau mencari sensasi, namun seharusnya tidak perlu ada pernyataan semacam ini.

Pernyataan pancasila musuh agama justru kontra produktif bagi upaya harmonisasi pancasila dan agama. Di mana kita tahu bahwa pernah ada suatu masa dimana pancasila ditolak oleh tokoh agama yang memperjuangkan agama sebagai dasar Negara.

Sejarah mencatat ketegangan para pendiri bangsa memperjuangkan ideologinya masing-masing sebagai dasar Negara. Sidang konstituante menjadi saksi betapa gigihnya perjuangan para tokoh bangsa memperjuangkan ideologinya masing-masing. Sampai akhirnya Soekarno mengeluarkan dekrit untuk kembali ke UUD 1945 guna mengakhiri perdebatan ideologi Negara.

Baca Juga: Istana Membela Kepala BPIP, Menteri Agama Diam

Pada masa awal orde baru, pancasila menjadi alat bagi penguasa untuk memaksakan ideologinya kepada seluruh rakyat. Atas nama stabilitas, paham yang berbeda dibungkam dan dituduh subversif. Pancasila didoktrinkan dalam satu versi, diwajibkan menjadi asas tunggal kepada parpol dan ormas pada waktu itu. Pancasila kehilangan otentisitasnya sebagai nilai luhur yang menjadi landasan hidup bersama bangsa Indonesia.

Menjelang orde baru berakhir, mulai muncul upaya-upaya rekonsiliasi antara pancasila dan agama, khususnya Islam. Pancasila berusaha dikembalikan kepada jati diri aslinya yakni dasar Negara yang merupakan titik temu nilai-nilai luhur dari warga Negara yang beragam. Kuntowijoyo menyebut pancasila sebagai objektivikasi ajaran agama.

Pasca reformasi relatif tidak ditemukan pertentangan yang tajam antara pancasila dengan agama. Jika pada masa sebelumnya partai nasionalis itu pasti sekuler, maka pada masa reformasi muncul jargon baru yakni nasionalis religius. Partai-partai yang tidak mendeklarasikan diri sebagai partai Islam, tetap mempunyai corak ke-Islaman yang terlihat.

Misalnya PDI Perjuangan yang identik dengan nasionalis sekuler dan non-muslim, mempunyai Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) sebagai wadah bagi kader dari kalangan santri NU dan Muhammadiyah. Partai Demokrat menjadikan nasionalis religius sebagai tagline.

Melihat dinamika hubungan pancasila dan agama di atas, jelas bahwa pernyataan Prof. Yudian Wahyudi seolah mengurai kembali tenun harmonisasi antara pancasila dan agama. Sungguh sangat disayangkan di saat para tokoh agama bersusah payah meyakinkan bahwa pancasila dan agama itu tidak bertentangan.

Ketua BPIP malah memporak porandakan kembali usaha para tokoh agama terdahulu. Yudi Latif seorang yang sudah diakui sebagai pakar pancasila, dimana buku-bukunya tentang pancasila banyak beredar, belum pernah mengeluarkan pernyataan pancasila musuh agama.

Musuh Pancasila yang Sebenarnya

Tidak mungkin agama menjadi pancasila, karena butir-butir pancasila secara substantif sejalan dengan nilai-nilai agama. Mungkin yang dimaksud Yudian sebagai musuh pancasila adalah pihak yang menyalahgunakan agama untuk tujuan-tujuan pribadi dan jangka pendek.

Jika ini yang dimaksud maka yang lebih tepat menjadi musuh pancasila bukanlah agama, namun manipulator agama (pendusta agama). Tentu beda jauh antara agama dengan manipulator agama, seharusnya Yudian bisa memilih diksi yang tepat untuk menyampaikan maksudnya.

Yang dilupakan Yudian adalah, bahwa musuh pancasila yang hakiki adalah yang tidak mengamalkan sila-silanya. Tidak salah bagi kita untuk mengekspresikan keberpihakan kita kepada pancasila di tengah munculnya gerakan mengganti pancasila dengan dasar Negara lainnya. Namun tak cukup seperti itu, seorang yang mengaku pancasilais juga harus mengaplikasikan pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Peace Tour to Europe: Tujuh Jembatan Dunia Islam dan Barat

Sila pertama menyuruh kita untuk menjadi warga Negara yang beragama dan berTuhan. Sila kedua semestinya membuat kita mempunyai rasa kemanusiaan, keadilan dan keadaban. Sila ketiga harus membuat kita menjaga persatuan. Sila keempat mendorong kita agar menjadi masyarakat yang demokratis. Sila kelima merupakan cita-cita bangsa yakni terciptanya keadilan bagi seluruh Indonesia.

Menyatakan agama sebagai musuh Pancasila sebenarnya bertentangan dengan sila pertama. Seorang pejabat Negara hendaknya dapat memberikan suri teladan kepada rakyatnya dalam pengamalan pancasila.

Ironisnya, alih-alih memberikan teladan, justru pejabat Negara malah melakukan tindakan yang bertentangan dengan pancasila. Misalnya banyak pejabat Negara yang masih melakukan korupsi. Ditinjau dari sila ke berapapun juga, korupsi merupakan perbuatan yang keji.

What's your reaction?
16So Happy1Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment