Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Merawat Toleransi Lewat Fiqih Kebudayaan, PC IMM Tulungagung Gelar Ngobrol Budaya Bersama Kyai Cepu

AdminKS by AdminKS
Agustus 18, 2026
in Report
0
Merawat Toleransi Lewat Fiqih Kebudayaan, PC IMM Tulungagung Gelar Ngobrol Budaya Bersama Kyai Cepu
10
SHARES
61
VIEWS

KALIMAHSAWA.ID, TULUNGAGUNG – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Tulungagung sukses menggelar agenda “Ngobrol Budaya” bertajuk “Budaya Tanpa Sekat: Membangun Dialog, Merawat Toleransi” pada Sabtu (15/8/2026). Bertempat di Warunk Salman, acara ini menjadi ruang perjumpaan pemikiran yang inklusif bagi generasi muda Tulungagung.

Diskusi ini menghadirkan akademisi lintas disiplin sekaligus Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D., atau yang lebih akrab disapa Kyai Cepu. Forum ini tidak hanya dipadati oleh kader IMM dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tulungagung, tetapi juga dihadiri secara antusias oleh perwakilan IMM se-AG Raya dan organisasi mahasiswa eksternal se-Kabupaten Tulungagung.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Sebagai pengantar dialog, Kyai Cepu membedah korelasi mendasar antara budaya dan agama. Beliau secara tegas menyampaikan pandangan bahwa agama dan budaya adalah dua hal yang terikat dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

“Dalam kaidah ushul fiqih, disebutkan bahwa suatu kewajiban tidak akan sempurna jika tidak ada yang mendukung, maka yang mendukung itu hukumnya wajib,” tegas Kyai Cepu.

Sebagai contohnya, sholat fardhu adalah sesuatu yang wajib, karena shalat sah jika menutup aurat, maka mencari atau membeli pakaian untuk menutup aurat hukumnya menjadi wajib. Pakaian merupakan produk budaya manusia, sehingga agama dan budaya menjadi hal yang sangat terikat. Budaya tidak hanya terbatas pada ritual ataupun benda kuno saja, namun budaya adalah cara hidup, pola pikir, dan hasil karya yang dibuat oleh manusia.

Memasuki sesi inti yang difokuskan pada pemikiran Fiqih Kebudayaan, narasumber membedah dua pokok pembahasan utama.

Pertama, tentang Budaya Berpikir Muhammadiyah. Kyai Cepu mengurai akar sejarah dan epistemologi pemikiran warga Muhammadiyah. Dalam diskusi ini, beliau membahas mengenai cara berfikir muhammadiyah dan salafi karena topik ini masih relevan dengan kondisi Muhammadiyah saat ini. 

“Muhammadiyah lebih kontekstual memaknai dalil Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan salafi lebih sering tekstual,” katanya.

Kedua, budaya berpikir orang kaya vs. orang miskin. Diskusi berlanjut pada analisis kritis terhadap perbedaan pola pikir (mindset) dan mentalitas sosio-struktural. Beliau membedah bagaimana kelas sosial mempengaruhi sudut pandang, respons terhadap peluang, hingga cara bertahan hidup antara kelompok berkecukupan dan masyarakat miskin.

“Misalkan ada anak dan ayah. Berfikirnya orang miskin, ayah akan berkata kepada anaknya ‘kamu harus rajin agar kamu bisa bekerja disana’, kalau orang kaya, ayah akan menanyakan kepada anaknya ‘kamu bekerja untuk siapa?’,” jelas Kyai Cepu.

Melalui diskusi interaktif ini, PC IMM Tulungagung berharap dapat memecah sekat-sekat dogmatis serta membangun jembatan dialog yang sehat. Agenda ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat, mempertegas komitmen gerakan pemuda Tulungagung dalam merawat nilai-nilai toleransi dan keberagaman di ruang publik.

Kontributor: Khamidah Naimawati

Editor: Dwi Kurniadi

Terkait

Previous Post

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Next Post

Bukan Sekadar Keterwakilan: Menanti Taring Politik IMMawati

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Bukan Sekadar Keterwakilan: Menanti Taring Politik IMMawati

Bukan Sekadar Keterwakilan: Menanti Taring Politik IMMawati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.