Wayang kulit atau wayang purwa diadakan memang dalam rangka memberikan pembelajaran kepada penontonnya. Pada era dakwah Sunan Kalijaga wayang kulit dijadikan media dalam penyampaian ajaran Agama Islam. Dalam cerita wayang kulit sering terdengar peran dari beberapa orang yang sudah mencapai taraf sebagai seorang Begawan.
Begawan adalah sebuah jabatan yang disematkan pada seorang tokoh yang sudah selesai menjadi raja dan memilih hidup sebagai seorang pertapa dengan tujuan lebih dekat dengan alam dan Yang Maha Kuasa. Mereka adalah orang yang paham betul tentang tata kelola suatu negara namun sudah memilih untuk memisahkan diri dari hiruk pikuk dunia.
Namun ketika suatu saat para Begawan ini dimintai pendapat tentang permasalahan suatu negara mereka tanpa segan akan turun tangan mencurahkan semua pengetahuannya untuk membantu menyelesaikan permasalahan suatu bangsa.
Begawan yang paling mahsyur dalam kisah Mahabarata tentu saja Begawan Abiyasa. Abiyasa pernah memimpin sebuah Negara besar bernama Hastina pura dengan gelar Prabu Kresna dwipayana. Dari Abiyasa inilah terlahir para pandawa. Abiyasa tidak begitu lama memimpin Hastina pura dia merasa jalan hidupnya bukanlah sebagai seorang raja namun sebagai seorang resi.
Baca Juga: Pidato Prof. Haedar Nashir dalam KUII: Strategi Perjuangan Umat
Begawan Abiyasa pernah dimintai tolong oleh Bisma Dewa brata untuk menyelesaikan permasalahan Hastina pura ketika kerajaan itu sudah dipimpin oleh Pandu Dewanata yang merupakan salah satu putra Begawan Abiayasa. Beberapa permasalahan yang Begawan Abiyasa turut andil di antaranya Peristiwa Bima Bungkus.
Peristiwa ini terjadi ketika kelahiran putra kedua Pandu dalam keadaan terbungkus ari-arinya dan tak bisa dibuka dengan senjata apapun. Bisma Dewabrata berniat meminta bantuan Begawan Abiayasa untuk menangani kasus ini. Meskpun di tengah perjalanan Bisma ditolong Batara Bayu.
Kasus lain yang Begawan Abiayasa turut serta adalah peristiwa dibawanya jasad Pandu oleh Yamadipati ke Jonggring Saloka. Waktu itu yang meminta kembali jasad Pandu dan Madrim adalah Begawan Abiayasa ditemani Bisma Dewabrata. Dua peristiwa tersebut menceritakan betapa penting peran seorang Begawan Abiayasa.
Jabatan Begawan juga mengalami anomaly ketika jabatan itu disematkan kepada beberapa tokoh yang tak pernah menjadi raja dalam hidupnya. Contohnya Resi Durna, ada beberapa orang yang memanggilnya dengan panggilan Begawan Durna padahal Durna tidak pernah menjabat menjadi raja.
Peran Begawan Durna dalam kemajuan Hastina pura juga tidak bisa diremehkan. Begawan Durna turut andil dalam menyiapkan dan mendidik kesatria-kesatria utama penerus tahta Hastinapura.
Baca Juga: Ternyata Pancasila Sesuai Dengan Konsep “Umatan Washata”
Peran Begawan dalam beberapa kisah tentu bisa diambil sebagai sebuah pembelajaran dalam tata kelola suatu negara bernama Indonesia. Indonesia akhir-akhir ini seperti selalu berpeluk mesra dengan berbagai masalah. Masalah-masalah tersebut hampir hadir di berbagai lini. Mulai dari kasus hukum dan HAM, kesehatan, kesejahteraan, bahkan hingga isu-isu politik praktis yang masih saja sering terdengar.
Pada permasalahan inilah kehadiran Begawan sangat dibutuhkan. Pendapat dan cara pandang para Begawan akan sangat berguna dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan berbangsa dan bernegara.
Paling tidak ada dua alasan yang mendasari hal ini. Pertama, Begawan adalah sosok yang paham betul tata kelola sebuah bangsa dan Negara dikarenakan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang pernah terlibat langsung dalam pemerintahan.
Kedua, Begawan sudah memilih hidup mandhita sehingga pendapat-pendapatnya sangat independen dan tidak tendensius, pendapat-pendapat seperti ini sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan suatu bangsa. Pertanyaan menarik berikutnya adalah siapa saja orang yang pantas menyandang gelar begawan di negara ini?
Tentu susah untuk menjawab pertanyaan tersebut tapi sosok Begawan bisa dihadirkan dengan cara para pemimpin bangsa ini mencari sosok tersebut karena Begawan adalah orang-orang yang benar-benar sudah memisahkan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia.
Mereka adalah orang-orang yang akan memberikan pendapat ketika benar-benar diminta dan merasa perlu. Maka sebenarnya bangsa ini sangat menunggu titah dari para Begawan.
Sumber Ilustrasi: voaislam.com