Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menjadi Mahasiswa yang Berpengaruh Untuk Lingkungan atau Terpengaruh Oleh Lingkungan

Ayang Ramadhani Putra Armain by Ayang Ramadhani Putra Armain
Oktober 9, 2025
in Esai, Narasi
0
Menjadi Mahasiswa yang Berpengaruh Untuk Lingkungan atau Terpengaruh Oleh Lingkungan
15
SHARES
87
VIEWS

Oleh: Ayang Ramadhani Putra

Mahasiswa diharapkan menjadi generasi penerus bangsa yang mampu membuat perubahan-perubahan positif untuk masyarakat. Peran sebagai agen perubahan ini hanyalah satu dari lima peran yang diberikan kepada mahasiswa. Selain sebagai agen perubahan, mahasiswa juga mempunyai peran sebagai social control, iron stock, moral force, dan guardian of values. Peran besar ini selalu ditanamkan kepada mahasiswa bahkan sejak memasuki bangku perkuliahan.Mahasiswa diharapkan bisa menjalankan peran ini dengan baik. Mahasiswa perlu membangun kesadaran akan potensinya dan tidak diam saja ketika melihat realita sosial. Tidak mudah percaya arus informasi. Sebagai kalangan terdidik, mahasiswa harus berani mempertanyakan status quo dan mendobraknya agar terjadi perubahan. Sementara itu perubahan tidak bisa terjadi tanpa adanya aksi nyata. Mahasiswa harus saling bahu-membahu untuk melakukan aksi tersebut dan mengubah keadaan. Selain itu, mahasiswa perlu membangun keberanian dan sikap kritis. Mahasiswa dianggap memiliki akses yang lebih mudah terhadap ilmu pengetahuan. Dengan kemudahan tersebut mahasiswa dapat menambah wawasan. Mengasah kemampuan berpikir serta belajar mempertajam analisis terhadap sesuatu termasuk kondisi sosial. Mahasiswa dapat menjalankan perannya sebagai agen perubahan dan membawa masyarakat pada tatanan sosial yang lebih adil. Ketika mahasiswa mampu melihat secara kritis kondisi sosial yang ada maka ia bisa mengupayakan perubahan agar masyarakat hidup dalam kondisi yang lebih ideal. Namun peran ini tentunya tak mudah. Nyatanya tak semua mahasiswa mampu mengemban peran-peran tersebut. Mahasiswa perlu terus belajar dan menambah pengetahuan agar bisa menjalankan perannya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Mengapa terpengaruh?

    Hedonisme dan gaya hidupnya sangat berdampak pada masyarakat, terutama pada mahasiswa. Mahasiswa merupakan generasi penerus negara yang masih menemukan jati diri. Mereka cenderung memiliki gaya hidup hedonisme agar tidak dianggap sebagai anak muda yang ketinggalan zaman, hal tersebut tampak pada aktivitas mahasiswa yang lebih suka menghabiskan waktu di luar, seperti berkumpul dengan teman-teman di kafe dan mengunjungi pusat perbelanjaan, tertarik pada barang-barang mewah yang tidak diperlukan. Semuanya ini diyakini dapat meningkatkan kepercayaan diri karena kesenangan adalah tujuan utama atau tujuan dari setiap orang. Realitanya, sekarang ini banyak sekali dijumpai mahasiswa yang menjalani gaya hidup hedonis dengan memanfaatkan uang orang tuanya.

    Menurut Santrock, Budaya hedonisme dapat merusak generasi penerus bangsa dengan memprioritaskan kesenangan dan kepuasan pribadi tanpa memperhatikan etika, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai moral. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas karakter, kurangnya rasa tanggung jawab, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya kontribusi positif terhadap masyarakat dan bangsa. Dapat disimpulkan bahwa budaya hedonisme, yang menitikberatkan pada kesenangan dan kepuasan pribadi tanpa memperhatikan etika, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai moral, dapat berpotensi merusak generasi penerus bangsa. Hal ini menunjukkan pentingnya mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai moral, etika, serta tanggung jawab sosial dalam upaya mendidik generasi muda agar memiliki kesadaran akan kontribusi positif terhadap masyarakat dan bangsa di masa depan. Faktor-faktor yang mempengaruhi hedonisme dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang didasarkan pada keyakinan mereka sendiri untuk menjalani gaya hidup yang sesuai dengan keinginan mereka, contohnya sikap seseorang terhadap gaya hidup hedonisme, di mana mereka percaya bahwa sikap yang harus ditunjukkan adalah mewah, megah, dan suka menjadi perhatian orang lain (Kotler, 1997).

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya gaya hidup hedonisme dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Interaksi sosial seseorang yang dikenal sebagai kecenderungan gaya hidup hedonisme mencakup cara mereka menghabiskan waktu, situasi yang mereka anggap penting, dan perspektif mereka tentang diri mereka sendiri, semua dengan tujuan untuk memperoleh kesenangan dan kegembiraan, yang bertentangan dengan norma perilaku. Mereka yang memiliki gaya hidup hedonisme lebih suka menghabiskan waktu luangnya di tempat-tempat yang santai, seperti kafe dan mall.

    Bagaimana bisa berpengaruh?

    1. Kesadaran dan Pendidikan: Mahasiswa dapat berperan sebagai agen penyadaran dan pendidikan dalam masyarakat. Mereka dapat mengadakan seminar, diskusi, atau kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu sosial, lingkungan, atau kesehatan yang relevan. Dengan memberikan informasi yang benar dan terpercaya, mahasiswa dapat membantu masyarakat memahami isu-isu penting dan mengambil tindakan yang tepat.
    1. Advokasi dan Pengaruh Politik: Mahasiswa dapat menjadi advokat bagi perubahan positif di tingkat politik. Mereka dapat berperan dalam mengawal kebijakan publik, mendorong reformasi, dan memperjuangkan hak-hak masyarakat. Dengan menjadi bagian dari gerakan sosial dan politik, mahasiswa dapat membawa suara masyarakat ke meja pembuat keputusan dan berkontribusi pada perubahan yang lebih adil dan inklusif.
    1. Kewirausahaan Sosial: Mahasiswa juga dapat berperan sebagai katalisator dalam membangun perubahan positif melalui kewirausahaan sosial. Mereka dapat mengidentifikasi masalah sosial atau lingkungan tertentu di masyarakat dan mencari solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Dengan memulai proyek-proyek kewirausahaan sosial, mahasiswa dapat memberikan kontribusi langsung dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi kesenjangan sosial.
    1. Relawan dan Aksi Sosial: Mahasiswa dapat terlibat secara aktif dalam aksi sosial dan menjadi relawan di berbagai organisasi atau program yang bertujuan memperbaiki kondisi sosial. Mereka dapat terlibat dalam kegiatan seperti pengajaran sukarela, bantuan bencana, atau program pembangunan masyarakat. Melalui aksi nyata ini, mahasiswa dapat memberikan dampak positif langsung kepada mereka yang membutuhkan dan menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.
    1. Penelitian dan Inovasi: Mahasiswa juga memiliki peran penting dalam melakukan penelitian dan inovasi untuk mengatasi masalah sosial. Dengan menggunakan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki, mahasiswa dapat melakukan penelitian yang relevan dan memberikan solusi baru untuk permasalahan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan komunitas, pemerintah, dan sektor swasta, mahasiswa dapat mengimplementasikan hasil penelitian mereka ke dalam praktik dan menciptakan perubahan yang signifikan.

    Melalui peran-peran ini, mahasiswa dapat menjadi kekuatan positif yang mampu mendorong perubahan sosial, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan membangun masyarakat yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan. Dan penting bagi mahasiswa untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta, guna mencapai perubahan yang lebih baik.

    Editor: Zahfa Almedina

    Terkait

    Tags: BangsaGenerasiIslammahasiswaMuhammadiyahpenerusPeradabanPerubahan
    Previous Post

    Stabilitas Langit dan Gravitasi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains

    Next Post

    KH. Muhammad Nur Nashuha Grobogan: Ulama Karismatik, Pejuang Dakwah, dan Penjaga Warisan Pesantren

    Ayang Ramadhani Putra Armain

    Ayang Ramadhani Putra Armain

    Next Post
    KH. Muhammad Nur Nashuha Grobogan: Ulama Karismatik, Pejuang Dakwah, dan Penjaga Warisan Pesantren

    KH. Muhammad Nur Nashuha Grobogan: Ulama Karismatik, Pejuang Dakwah, dan Penjaga Warisan Pesantren

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    • Tentang Kalimahsawa.id
    • Redaksi
    • Kontak Kami
    • Kirim Tulisan
    Contact Person: 085850332866

    © 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

    No Result
    View All Result
    • Report
    • Video
    • Narasi
      • Esai
      • Cerpen
      • Sosok
      • Puisi
    • Ulûm ad-Dîn
      • Akhlak
      • Tafsir
      • Filsafat
      • Ibadah
    • Risalah
      • Khutbah
      • Doa
      • Kata Bersama
      • Muslimah
    • Kirim Tulisan

    © 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.